Muhlasin Muhlasin
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KONSEP MANUSIA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Muhlasin Muhlasin
Idarotuna Vol 1, No 2 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/idarotuna.v1i2.7025

Abstract

Manusia adalah sebagai subjek pendidikan, sekaligus sebagai obyek pendidikan artinya sasaran atau bahan yang dibina.Sedikitnya ada enam konsep yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjuk pada makna manusia, namun secara khusus memiliki penekanan pengertian yang berbeda.yaitu :Pertama Sebagai Abd Allah yaitu artinya menusia diciptakan oleh Allahsupaya untuk mengabdi kepada-Nya.Di antara sikap seorang hamba yang harus diperlihatkan kepada tuannya, adalah  sikap tunduk, patuh dan taat. Semuanya tanpa pamrih, Kedua Bani Adam pada hakekatnya menausia berasal dari nenek morang yang sama, yakni adam as. Dan Siti Hawa. Adam as manusia pertama yang diciptakan oleh Allah swt, Ketiga Basyr manusia terdiri dari  unsur  materi, yakni dalam tampilan bentuk fisik material. Keempat Insan, Penggunaan kata insan dalam al-qur’an untuk menggambarkan manusia dengan segala totalitasnya. Kelima Konsep al-ins mengisyaratkan ari “tidak liar” atau “tidak biadab”. Dalam konteks ini menusia merupakan kebalikan dari jin yang menurut dalil aslinya bersifat metafisik KeenamAn- Nas dalam Al- Qur’an umumnya dihubungkan dengan fungsi manusia sebagai makhluk sosial. Manusia diciptakan sebagai makhluk bermasyarakat, yang berawal dari pasangan laki-laki dan wanita kemudian berkembang menjadi suku dan bangsa untuk saling kenal mengenal “berinterksi” . 
KONSEP MANUSIA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Muhlasin Muhlasin
Idarotuna Vol 1, No 2 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/idarotuna.v1i2.7014

Abstract

Manusia adalah sebagai subjek pendidikan, sekaligus sebagai obyek pendidikan artinya sasaran atau bahan yang dibina.Sedikitnya ada enam konsep yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjuk pada makna manusia, namun secara khusus memiliki penekanan pengertian yang berbeda.yaitu :Pertama Sebagai Abd Allah yaitu artinya menusia diciptakan oleh Allahsupaya untuk mengabdi kepada-Nya.Di antara sikap seorang hamba yang harus diperlihatkan kepada tuannya, adalah  sikap tunduk, patuh dan taat. Semuanya tanpa pamrih, Kedua Bani Adam pada hakekatnya menausia berasal dari nenek morang yang sama, yakni adam as. Dan Siti Hawa. Adam as manusia pertama yang diciptakan oleh Allah swt, Ketiga Basyr manusia terdiri dari  unsur  materi, yakni dalam tampilan bentuk fisik material. Keempat Insan, Penggunaan kata insan dalam al-qur’an untuk menggambarkan manusia dengan segala totalitasnya. Kelima Konsep al-ins mengisyaratkan ari “tidak liar” atau “tidak biadab”. Dalam konteks ini menusia merupakan kebalikan dari jin yang menurut dalil aslinya bersifat metafisik KeenamAn- Nas dalam Al- Qur’an umumnya dihubungkan dengan fungsi manusia sebagai makhluk sosial. Manusia diciptakan sebagai makhluk bermasyarakat, yang berawal dari pasangan laki-laki dan wanita kemudian berkembang menjadi suku dan bangsa untuk saling kenal mengenal “berinterksi” .
Historical Transformation and Strategy for Strengthening the Role of Hajj and Umrah Guidance Groups in Hajj Organization Muhlasin Muhlasin; Yoga Riski Andria; Imam Daruquthni Al-Hasymi; Fai’qul Halim
ALSYS Vol 6 No 3 (2026): MEI
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/alsys.v6i3.10264

Abstract

This study examines the historical transformation, roles, and functions of Indonesia’s Hajj and Umrah Guidance Groups (KBIHU) as community-based partners in national Hajj management. Using a qualitative library research approach, the study analyzed secondary sources, including laws, ministerial regulations, academic studies, government reports, and policy documents selected purposively based on relevance and credibility. Data were analyzed through content analysis, thematic coding, and source triangulation. The findings show that KBIHU originated from community-led ritual learning initiatives, was institutionalized through Ministerial Decree No. 374-A/1995, and was later formalized within regulatory frameworks, including KMA No. 371/2002 and Presidential Regulation No. 31/2019. The nomenclature change to KBIHU in 2019 and subsequent technical regulations, including PMA No. 7/2023, expanded its responsibilities to include Umrah guidance, clarified financial boundaries, and introduced accreditation and accountability mechanisms. Functionally, KBIHU supports Hajj management through administrative socialization, pedagogical manasik training, guideline development in coordination with the Ministry, in-field assistance in Saudi Arabia, post-Hajj mentoring, and coordination with official Hajj agencies. These roles complement rather than replace government functions, particularly by addressing gaps in formal guidance for elderly and health-vulnerable pilgrims and reducing procedural errors and anxiety. Despite broad national coverage, reaching 1,577 units by July 2025, KBIHU continues to face challenges related to uneven service quality, limited counselor competence, and weak monitoring mechanisms. The study concludes that strengthening KBIHU’s institutional legitimacy and service quality through standardized training modules, accreditation, separation of financial roles, and indicator-based evaluation is essential to ensure safe, equitable, and spiritually meaningful Hajj services in Indonesia amid rising pilgrim numbers. This study contributes to Hajj management and Islamic public service literature by clarifying the institutional evolution and strategic role of KBIHU in community-based pilgrim guidance.