Mangihut Siregar
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERMBERDAYAAN MASYARAKAT MISKIN PERKOTAAN DI RW 04 KELURAHAN MULYOREJO SURABAYA Mangihut Siregar; Darsono Darsono; Frederik Fernandez
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 2 (2021): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v4i2.486-493

Abstract

Kemiskinan merupakan suatu masalah sosial yang sangat sulit diselesaikan. Kemiskinan bukan hanya dimiliki masyarakat desa namun masyarakat kota pun tidak luput dari masalah tersebut. Banyak teori yang membahas faktor penyebab kemiskinan dan juga usaha untuk mengatasinya, namun kemiskinan tidak bisa hilang dari kehidupan masyarakat. Demikian halnya kemiskinan yang dialami masyarakat di RW 04 Kelurahan Mulyorejo Surabaya, mereka sebelumnya pemilik lahan tetapi sekarang menjadi pengontrak dan penggarap di lahan sendiri. Lahan pertanian yang mereka miliki sebelumnya, dijual dan dikembangkan menjadi perumahan elit yang dikelola PT Galaxi Surabaya. Untuk mengurangi kemiskinan dan kebodohan yang menimpa mereka, tim pengabdi melakukan pendampingan terhadap tim Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) RW 04 Kelurahan Mulyorejo  Kota Surabaya. Melalui pengabdian, ibu-ibu PKK dibekali pengetahuan untuk membuat kue tradisional yaitu putu ayu dan lemper. Selain pengetahuan untuk membuat kue tradisional, mereka juga dibekali pengetahuan cara pengemasan serta pemasarannya. Tujuan pengabdian ini yaitu memberdayakan ibu-ibu PKK RW 04 Kelurahan Mulyorejo. Metode yang digunakan dimulai kordinasi dengan mitra, pelatihan serta pendampingan pemasaran kue tradisional yang diproduksi ibu-ibu PKK. Hasil dari pengabdian menunjukkan, para ibu-ibu PKK RW 04 sangat tertarik untuk membuat kue tradisional. Kue yang diproduksi dipasarkan ke warung-warung dan juga mini market di sekitar lingkungan mereka. Melalui pembuatan kue tradisional, para ibu-ibu PKK RW 04 sangat berperan untuk menambah pendapatan keluarga mereka.
PENDAMPINGAN MASYARAKAT DESA SAMBONGGEDE KECAMATAN MERAKURAK KABUPATEN TUBAN UNTUK PENGEMBANGAN DESA MANDIRI Mangihut Siregar; Frederik Fernandez; Basa Alim Tualeka
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 5 (2022): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v5i5.1902-1909

Abstract

The national development of a country must start from the village, therefore the village plays an important role for the progress of a country.  Sambonggede Village is predicated as an independent village.  This predicate is obtained based on several results that have been obtained.  Usually a village is called an independent village if it has good basic services, adequate infrastructure, easy transportation, good public services, and good governance.  In addition to this, a village can be included as an independent village if the Village Development Index (IPD) is more than 75. Therefore, to achieve the predicate of an independent village, especially developing it is not an easy thing but requires extra and creative efforts from various parties, both the community, the government  , and other parties.  Sambonggede village has become an independent village based on criteria issued by the government.  The Sambonggede Village apparatus has succeeded in elaborating several natural and human resources with the community to advance their village.  However, there are several elements that have received less attention in this village, one of which is in the agricultural sector.  For this reason, it is necessary to provide assistance by motivating farmers and young people who have not yet found work.  The service method is carried out by counseling and assisting the community and village officials.  The results of the service show that young people together with their parents are willing and proud to be farmers.  The profession of a farmer becomes a choice and pride, not because it is forced.