Sholihul Huda
Dosen Prodi Studi Agama-agama UMSurabaya

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Fpi: Potret Gerakan Islam Radikal Di Indonesia Sholihul Huda
Al Hikmah Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.77 KB) | DOI: 10.30651/ah.v5i2.4282

Abstract

AbstrakFront Pembela Islam (FPI) adalah sebuah organisasi massa Islam berideologi radikal yang berpusat di Jakarta. Disebut FRONT karena orientasi kegiatan yang dikembangkan adalah pada tindakan konkrit berupa aksi nyata dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Kata PEMBELA dengan harapan agar senantiasa bersikap proaktif dalam melakukan pembelaan nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Adapun kata ISLAM menunjukan bahwa perjuangan FPI harus berjalan di atas ajaran Islam yang benar dan mulia. Pada tulisan ini akan dikaji profil gerakan FPI secara utuh mulai dari sejarah, ideologi, aksi gerakan hingga dampak geraka FPI terhadap wajah keagamaan Islam Indonesia yang cenderung damai, toleran dan inklusif.  Kata Kunci: Sejarah, Ideologi, Aksi Gerakan, FPI
Kampung Inklusif: Model Toleransi Antar Agama Di Balun Lamongan Sholihul Huda
Al Hikmah Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (589.23 KB) | DOI: 10.30651/ah.v1i1.959

Abstract

Desa Balun adalah desa yang paling unik di Kabupaten Lamongan, bahkan mungkin di Indonesia. Di desa ini terdapat tiga agama yang dipeluk oleh warganya, yaitu: Islam, Hindu, dan Kristen, namun relasi kehidupan sosio-kultur dan sosio-religi relatif damai dan penuh toleransi ditengah perbedaan agama, sehingga desa ini dikenal dengan “Desa Pancasila” atau “Kampung Inklusif. Tentu fenomena ini menarik karena ditengah perbedaan agama mereka dapat membangun tata kehidupan sosio-kultur yang damai dan harmonis. Sementara di daerah lain perbedaan agama atau keyakinan menjadi legitimasi atau pemicu terjadinya konflik dan kekerasaan antar kelompok di masyarakat. Dampak dari konflik atau kekerasan agama adalah terjadinya ketidaknyamaan, ketidakamanan (incsecurity), terutama bagi kelompok minoritas, yang pada giliranya akan berpengaruh pada integrasi dan persatuan bangsa. Dari fenomena inilah, menarik untuk diteliti bagaiaman masyarakat Balun dapat mengolah perbedaan agama, sehingga mampu membina dan membangun budaya toleransi di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap paradigma, faktor dan model atau bentuk toleransi di Desa Balun, Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan, menggunakan metode peneltian dengan pendekataan kualitatif dengan unit informan adalah komunitas (tokoh) Kristen, Hindu dan Islam serta Perangkat Desa Balun. Metode pengumpulan data mengunakan metode pengamatan (observasi), wawancara mendalam (depth interview) dengan model Snowball dan telaah kepustakaan dan FGD (Focus Group Discusion). Analisa data menggunakan multidisiplin keilmuan, artinya tergantung data yang didapat, kalau data yang didapat data agama maka analisa mengunakan studi agama dan sebagainya. Hasil penelitian, pertama paradigma masyarakat Balun dalam memahami ajaran agamanya (Islam, Hindu, Kristen) adalah paradigma subtantif-inklusif. Kedua, faktor yang melatarbelakangi budaya toleransi di Balun adalah, faktor pemahaman terhadap ajaran agamanya yang subtantif-inklusif, kebijakan politik yang pluralis, tradisi sosio-kultur yang toleran, tradisi perkawinan beda agama yang terjaga. Adapun model toleransi yang terdapat di Balun adalah, pertama, Struktur (Perangkat) Desa yang Plural. Kedua, Keluarga Multikultural (Demokratis), Ketiga, Ngaturi/Kenduri Multikultural dan Keempat, Dakwah Inklusif. Semoga model tolreansi yang terbangun di Desa Balun dapat menjadi inspirasi dan cermin bagi masyarakat Indonesia lainya yang rawan akan terjadinya konflik, sehingga harapan kita membangun Indonesia yang bersatu, toleran, maju, damai dan harmonis dapat terwujud.
Keluarga Multikultural: Pola Relasi Keluarga Kawin Beda Agama Di Balun Lamongan Sholihul Huda
Al Hikmah Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.17 KB) | DOI: 10.30651/ah.v4i1.2306

Abstract

Abstrak  Perkawinan beda agama secara hukum agama (baca:fiqih) dilarang dilakukan.  Secara garis besar prinsip perkawinan diantara komunitas agama-agama tersebut adalah se-Iman, se-Agama, se-Aqidah. Artinya perkawinan boleh terjadi kalau dilakukan sesama pemeluk agamanya, misal laki-laki Muslim dengan wanita Muslim, laki-laki Kristen dengan wanita Kristen dan sebagainya. Bahkan ada juga perkawinan hanya boleh dilakukan dalam satu golongan atau aliran “Madzhab” dalam satu komunitas agama, misal wanita Syiah hanya boleh kawin dengan laki-laki Syiah tidak boleh dengan Sunni.Tujuan penelitian ini adalah ingin menemukan makna terhadap fenomena kawin beda agama dalam satu keluarga yang didalamnya terbangun relasi harmonis dengan penuh sikap toleransi diantara anggota keluraga tersebut di Desa Balun Kec. Turi Kab. Lamongan. Secara teoritis penelitian ini sangat strategis bagi pengembangan kajian sosiologi agama, karena data dan hasil kajian sangat terkait dengan persoalan-persoalan pemikiran keagamaan dan problematika sosial-keagamaan di masyarakat, sehingga dapat dijadikan pengembangan penelitian selanjutnya.Desain penelitian menggunakan penelitian kualitatif.yang bertujuan untuk memahami fenomena sosial yang tengah diteliti, Pendekatan kualitatif digunakan untuk menggali dan memahami motif dan pola relasi dalam keluarga yang kawin beda agama. Selain itu, penelitian kualitatif digunakan untuk memahami fakta-fakta empiris terjadi dalam konteks prilaku sosial-keagamaan yang saling terkait.Lokasi penelitian bertempat di Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan. Informan penelitianadalah keluarga yang terbangun atas kawin beda agama (bisa kawin antara Islam dengan Kristen, Kristen dengan Hindu, atau Islam dengan Hindu) di Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan.Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah: pertama, wawancara mendalam (depth interview)dengan metode Snowbal.Kedua,Literatur kepustakaan (literature liberary). Analisa data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisa deskriptif. Analisa deskriptif-fenomenologi  digunakan untuk menggambarkan gejala tampak  atau fakta realitas obyektif, berupa gejala sosial, politik, budaya, ekonomi, agama yang terjadi di masyarakat (komunitas). Hasil penelitian dapat temukan bahwa pemahaman informan yang melakukan kawin beda agama lebih didasarkan pada pertimbangan sosiologis yaitu relasi toleransi dan kebaikan perseduluran tidak didasarkan pada formalitas ajaran agama mereka masing-masing. Latar belakang perkawinan beda agama yang dilakukan karena faktor cinta dan kebiasaan bertemu di pasar atau dalam satu pekerjaan. Proses pernikahan kawin beda agama dilakukan dipengadilan. Dalam pola pengasuhan anak biasa diberi kebebasan tetapi kalau yang menikah keluarga Islam dan Non Islam biasa anaknya mengikuti pola pengasuhan Islam dalam kepercayaan atau pendidikan. Pola relasi dengan keluarga atau masyarakat sekitar lebih toleran artinya tidak begitu mempersoalkan yang penting rukun. Adapun pola perceraian banyak dilatari oleh ekonomi, kecemburuan dan perselingkuhan. Adapaun proses perceraian langsung dilaporkan ke pengadilan. Untuk pola warisan dari akwin beda agama biasa pihak manata suami tetap memberikan nafkah anaknya dan hartanya dibagi. Dampak dari perceraian adalah paling besar berdampak pada anak secara psyikologis karena orang tua tidak lengkap dalam mengasuh. Keyword : Keluarga, Multikultural, Kawin Beda Agama.
Mistisisme Islam: Prespektif Annemarie Schimmel Sholihul Huda
Al Hikmah Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.879 KB) | DOI: 10.30651/ah.v2i2.1105

Abstract

Membahas tasawuf (mistisisme Islam), merupakan tugas yang rumit, membutuhkan perenungan jiwa yang bersih dan tenang, karena semakin dalam memasuki dunia mistik (tasawuf) maka kita akan semakin larut asik dibuai dan pada suatu daerah perbukitan yang luas terbentang di depan mata dan semakin lama si sufi mencari jalan, semakin sulit rasanya mencapai tujuan. Ia mungkin tinggal di taman mawar duri mistik Parsi atau berusaha mencari puncak-puncak dingin renungan filosofi; ia mungkin tinggal di lembah pemujaan para wali yang termasyhur atau menaiki untanya sepanjang padang pasir. Hal tersebut pencatatan tasawuf yang tak bertepi tetapi mereka hanya mencapai apa yang telah ada di dalam diri mereka sendiri. Mangkaji mistisisme Islam (tasawuf), saya kira kita tidak dapat mengabaikan peran dan sumbangsi intelektual seorang orientalis wanita dari Jerman yang bernama Annemarie Schimmel. Pemikiran dan karya Annemarie Schimmel tentang mistisisme Islam sangat berpengaruh dan diakui dikalangan Sarjana Timur maupun Barat, terutama sumbangsi pemikiranya dalam pengembangan teori-teori dan wawasan spiritualisme. Pada kajian ini membahas pemikiran-pemikiran mistisisme Islam Annemarie Schimmel yang sangat dalam dan luas. Keyword: Annemarie Schimmel, Pemikiran Mistisisme Islam 
Melacak Geneologi Dan Dampak Gerakan Isis Bagi Keberagamaan Islam Di Indonesia Sholihul Huda
Al Hikmah Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.911 KB) | DOI: 10.30651/ah.v6i1.5409

Abstract

AbstrakKemunculan ISIS menjadi ancaman serius bagi dunia internasional. hal itu disebabkan aksi gerakan yang ditampilkan oleh ISIS jauh dari nilai-nilai kemanusian, mereka begitu muda membunuh, menyiksa, merampok orang tanpa pandang bulu (anak, wanita,orang tua). Dari aksi brutalisme inilah ISIS dicap sebagai organisasi teroris tran-nasional yang semakin menyembar keseluruh wilayah di dunia termasuk ke Indonesia. Gerakan ISIS mempunyai benang merah di Indonesia, hal itu dapat dilihat dari meluasnya orang atau kelompok yang bersedia berbait kepada ISIS dan dengan suka rela mau berjuang mengembangkan ISIS di Indonesia. Hal ini tentu akan berdampak bagi kehidupan relasi sosi-religi masyarakat Indonesia yang dikenal moderat, santun, tolren, damai, kemungkinan bergeser menjadi sikap keberagamaan yang mengeras, kasar, radikal dan arabisme, maka diperlukan strategi semesta (secara bersama-sama elemen masyarakat) untuk menanggulangi gerakan radikal (ISIS).Kayword: Geneologi, ISIS, Damapak, Islam IndonesiaA. Pendahuluan
Konversi Ideologi Muhammadiyah Ke Gerakan Front Pembela Islam (FPI) Sholihul Huda
Al Hikmah Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.996 KB) | DOI: 10.30651/ah.v4i2.2643

Abstract

Abstrak Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang ingin memotret fenomena terkait proses, faktor, bentuk dan dampak konversi ideologi dikalangan aktifis Muhammadiyah ke FPI di daerah Paciran Lamongan. FPI merupakan salah satu pewujudan dari gerakan Islam Transnasional di Indonesia dengan mengusung ideologi keagamaan radikal, yang sangat berbeda dengan ideologi keagamaan yang dipraktekan oleh Muhammadiyah yaitu moderasi Islam. FPI memiliki model dakwah amar ma‟ruf nahi mungkar yang diaplikasikan secara fisikal-ekstrim dengan cara memaksa, intimidasi dengan swipping kepada kelompok yang dianggap melakukan maksiat. Model dakwah FPI ini disambut dan didukung oleh sebagian aktifis Muhammadiyah di Paciran Lamongan, padahal secara ideologi dan strategi dakwah kedua kelompok ini berbeda. Dan menariknya Muhammadiayah di Pantura secara ideologi dan jaringan dakwahnya sangat kuat dibanding dengan daerah-daerah lain di Jawa Timur tetapi mengapa sebagian aktifisnya muda konversi ideologi. Fenomena ini tentu sedikit banyak akan menganggu konsolidasi Muhammadiyah dan citra Islam di Indonesia. Jenis penelitian adalah kualitatif-fenomenologis, informan penelitian adalah aktifis Muhammadiyah yang aktif di FPI, teknik pengumpulan data wawancara, SGD dan telaah kepustakaan, analisa data menggunakan multidisiplin keilmuan (politik, ideologi, sosiologi, dll). Hasil penelitian proses konversi terjadi melalui jalur kultural, dalam bentuk infiltrasi pemikiran (Ghazwul Fikri), dengan faktor kondisi obyektif masyarkat yang maksit dan kekecewaan terhadap elit Muhamamdiyah, berdampak pada radikalisasi, erosi ideologi dan arabisme tradisi keagamaan dikalangan Muhamamdiyah.
Perjuangan Revolusioner Dakwah Nabi Muhammad Saw Di Jazirah Arab (Pendekatan Teori Perjuangan Klas Karl Marx) Sholihul Huda
Al Hikmah Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.675 KB) | DOI: 10.30651/ah.v6i2.6463

Abstract

Perubahan merupakan sebuah keniscayaan yang pasti terjadi di dalam sejarah manusia atau masyarakat. Pendorong perubahan sosial di masyarakat dilatari beragam faktor, ada faktor alam-sosial-agama-politik-ekonomi,budaya dan beragam actor, ada actor individu ataupun keloktif kelompok. Proses perubahan ada yang brsifat evolusi dan ada juga bersifat revolusi. Dan muara dari perubahan sosial ada yang bermuara pada consensus (perjanjian) dan bermuara perubahan total. Salah satu faktor terjadinya perubahan sosial adalah disebabkan karena terjadinya persaingan atau konflik untuk bertahan ataupun untuk merebut kekuasaan (baca: kuasa agama, sosiol, politik dan ekonomi). Perebutan atau konflik ini melibatkan dua kelompok (klas) yang saling berhadapan yaitu klas penindas (bahas Marx kaum Borjuis-pemodal) berhadapan dengan klas tertindas (bahasa Marx kaum Proletar). Tujuan dari konflik itu adalah adanya keinganan untuk saling menguasai (dominasi) dan mempengaruhi (hegemoni). Sehingga dari proses saling menguasi dan mengemoni ada yang menag dan ada yang kalah, dampak dari proses inilah kemudian melahirkan perubahan sosial, meminjam bahasa Marx Sejarah Manusia adalah Sejarah Perjuangan Klas. Maka untuk mengungkap teori Marx  pada kajian ini akan dibahas secara detail teori sosial-konflik Marx untuk digunakan membaca sejarah peradaban masyarakat Islam.
Fenomena Cadar Dalam Perspektif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya Sholihul Huda; Iman Permadi
Al Hikmah Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.824 KB) | DOI: 10.30651/ah.v5i1.3341

Abstract

AbstractThere were two formulations of the problem to be examined in this thesis, namely: (1) What is the view of Muhammadiyah University of Surabaya students towards the purdah phenomenon? (2) How is the typology of views of Muhammadiyah University of Surabaya students in interpreting the purdah phenomenon?To answer the research, this study used qualitative research methods. Then, the data obtained are presented in a descriptive form and analyzed using the Phenomenology and Sociology of Knowledge theory. To map the thoughts of students of the Muhammadiyah University of Surabaya, researchers described the phenomenon of multicultural Islamic thought Nurcholish Madjid.From the results of this study, it was found that there are 3 types of views: (1) Islamic-Transformative views. This view is owned by 6 of the 14 informants. They have concerns and are responsive to various actual problems that occur in society. Fourth, having an orientation in an effort to realize the ideals of Islam and society with a vision of mercy for all nature. (2) Islamic-Normative views, which depart from texts that are written in the holy book of each religion to certain limits with their characteristics namely; literalist, textual or scriptualist. (3) Liberal Islam views represent 4 out of 14 informants trying to ground and rationalize understanding of Islamic doctrine as rational religion and elasticity. This view basically requires how Muslims should understand Islam comprehensively starting from the aspects of monotheism, sharia, muamalat and ethics. Keywords: Purdah Phenomenon, Perspective, Students of Muhammadiyah University Surabaya
Ragam Pendekatan Studi Islam Prespektif Richard C. Martin Sholihul Huda
Al Hikmah Vol 7 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.15 KB) | DOI: 10.30651/ah.v7i1.8483

Abstract

Kajian Islam (Islamic Studies) di abad ke-19 dan 20 menemukan momentum “kebaruan” dan “penyegaran” baik dalam hal tema kajian maupun metodologi pendekatan. Perekembangan Islamic Studies disebabkan bahan kajian berupa literature teks dan tradisi komunitas Muslim dinamis, luas dan kaya, ditambah dengan persentuhan dengan kajian Barat dengan beragam metodologi, mulai dari pendekatan filsafat, sosiologis, antropologis, hermenutika, sejarah, filologi, dan kritik. Beragam pendekatan tersebut tentu menjadikan perubahan luar biasa pada Islamic Studies pada Studi Agama (Religions Studies) dan para sarjana luar “Outsider” (Orientalis) dan sarjana dalam “insider” (Muslim) dalam memahami Islam dan tradisinya. Pada awalnya sarjana luar (Orientalis) melakukan kajian Islam sering menempatkan Islam pada posisi distorsi dan prasangka (peyoratif) politik dan sebagainya, sehingga image Islam selalu jelek, jadul, dan berbahaya. Berawal dari ini kemudian Richard C martin berusaha untuk menjebatani jurang tersebut dengan menerbitkan buku dengan judul “Approach to Islam in Religious Studies”, (Pendekatan Kajian Islam dalam Studi Agama) buku tersebut hasil sutingan dari beberepa esai atau artikel dari sumber pemikiran para Islamiss dan sarjana Muslim yang banyak mengulas tema kajian Islam dan beragam pendekatan dalam kajian Islam. Dari latar tersebut, maka tujuan kajian ini adalah fokus pada mendiskripsikan sistematika pendekatan kajian Islam dan mendiskripsikan pendekatan metodologi kajian Islam dalam studi agama (religions studies) dalam karya Richard C Martin Approach to Islam in Religious Studies.