This Author published in this journals
All Journal JURNAL SELULOSA
Susi Sugesty
Center for Pulp and Paper, Ministry of Industry

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pembuatan dan Karakterisasi Dissolving Pulp Serat Panjang dari Bambu Duri (Bambusa blumeana) Chandra Apriana Purwita; Susi Sugesty
JURNAL SELULOSA Vol 8, No 01 (2018): JURNAL SELULOSA
Publisher : Center for Pulp and Paper

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.233 KB) | DOI: 10.25269/jsel.v1i01.232

Abstract

Preparation and Characterization of Long Fiber Dissolving Pulp from Spiny Bamboo (Bambusa blumeana)The need for long fiber dissolving pulp in Indonesia can only be met from imports. Bamboo is a nonwood plant and known as source of long fiber. This research aims to study the potential of spiny bamboo to be used as raw material for producing long fiber dissolving pulp. This research was conducted using two different types of raw materials preparation to produce bamboo chip and decorticated bamboo. The pulping process is carried out by pre-hydrolysis kraft and bleaching performed with two different bleaching sequences, i.e Do ED1 D2 and Do EpD1 D2 . Based on the experimental results, spiny bamboo has good potential to be used as raw material for dissolving pulp. Spiny bamboo belongs to long fibers with an average fiber length of 2.46 mm. The dissolving quality depends on the preparation of the raw material and the bleaching sequence. The yield of spiny bamboo dissolving pulp ranged from 37.97 - 40.76% with alpha cellulose content of 94.88 - 98.67%, and viscosity of 16.43 - 25.75 cP. Decorticated bamboo with bleaching sequence of Do EpD1 D2 produced the highest quality of dissolving pulp with the highest brightness and alpha cellulose were 89.61% ISO and 98.67%, respectively.AbstrakKebutuhan dissolving pulp serat panjang di Indonesia hanya dapat dipenuhi melalui impor. Bambu adalah tanaman nonkayu dan dikenal sebagai sumber serat panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari potensi bambu duri untuk dijadikan bahan baku pembuatan dissolving pulp serat panjang. Penelitian ini dilakukan dengan dua jenis persiapan bahan baku yang berbeda untuk menghasilkan serpih bambu dan bambu dekortikasi. Proses pemasakan dilakukan dengan proses pra-hidrolisis kraft dan pemutihan dilakukan dengan dua urutan pemutihan yang berbeda, yaitu  DoED1D2 dan DoEpD1D2. Berdasarkan hasil penelitian, bambu duri memiliki potensi yang baik untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan dissolving pulp. Bambu duri tergolong serat panjang dengan panjang serat rata-rata 2,46 mm. Kualitas dissolving pup yang dihasilkan tergantung dari persiapan bahan baku dan urutan pemutihan. Rendemen dissolving pulp bambu duri berkisar 37,97 - 40,76%, dengan kandungan selulosa alfa 94,88 - 98,67%, dan viskositas 16,43 - 25,75 cP. Bambu dekortikasi dengan urutan pemutihan DoEpD1D2 menghasilkan dissolving pulp paling unggul dengan derajat cerah dan selulosa alfa tertinggi berturut-turut 89,61 %ISO dan 98,67%.Kata kunci: dissolving pulp, bambu duri (Bambusa blumeana), serpih bambu, bambu dekortikasi, prahidrolisis kraft 
Karakterisasi Nitroselulosa dari Pulp Larut Bambu Beema dan Bambu Industri Frederikus Tunjung Seta; Susi Sugesty; Reynaldo Biantoro
JURNAL SELULOSA Vol 9, No 01 (2019): JURNAL SELULOSA
Publisher : Center for Pulp and Paper

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25269/jsel.v9i01.241

Abstract

Saat ini Indonesia masih mengandalkan impor nitroselulosa sebagai bahan baku propelan. Tujuan penelitian ini adalah mencari komposisi optimum pembuatan nitroselulosa untuk propelan dari bahan baku pulp larut bambu Beema dan Industri sebagai alternatif dari pulp larut kayu. Sebelum proses nitrasi, pulp larut bambu Beema dan bambu Industri mengalami proses perlakuan awal dengan menggunakan willey mill, pulp larut kemudian diayak dan diambil pulp dengan ukuran kurang dari 60 mesh. Pada proses nitrasi, perbandingan bahan kimia yang digunakan adalah formula 1 (HNO3:HNO3 Fumming:H2SO4= 2,5:1:9,5), formula 2 (HNO3:HNO3 Fumming:H2SO4= 3:1:7,5), dan formula 3 (HNO3:HNO3 Fumming:H2SO4= 1:1:1,6). Hasil yang didapatkan pada penelitian ini pulp larut dari bahan baku bambu Beema dengan formula 3 mampu mendapatkan kadar nitrogen tertinggi (12,97%). Analisis Fourier-transform infrared spectroscopy (FTIR) menunjukkan adanya gugus nitro dan pada uji bakar juga menunjukkan bahwa nitroselulosa dapat terbakar dengan cepat. Akan tetapi, nilai kelarutan dalam aseton dan eter-alkohol nitroselulosa dari kedua jenis bambu menunjukkan bahwa distribusi kadar nitrogen pada proses nitrasi masih belum memenuhi standar.Kata kunci: bambu, kadar nitrogen, nitroselulosa, pulp larut, propelanCharacterization of Nitrocellulose from Beema Bamboo and Industrial Bamboo Dissolving PulpAbstractCurrently, Indonesia still relies on imports of nitrocellulose as a propellant raw material. The objective of this research is to determine the optimum composition of nitrocellulose making for propellant from Beema bamboo pulp and Industrial bamboo pulp as an alternative of dissolving pulp from wood. Prior to the nitration process, both dissolving pulp of Beema bamboo and industrial undergo a pretreatment process using willey mill, the pulp then sieved and taken with a size less than 60 mesh. In the nitration process, the chemical composition used is  formula 1 (HNO3: HNO3 Fumming: H2SO4 = 2.5: 1: 9.5), formula 2 (HNO3: HNO3 Fumming: H2SO4 = 3: 1: 7,5) and the   formula 3 (HNO3: HNO3 Fumming: H2SO4 = 1: 1: 1,6). Result showed that dissolving pulp from Beema bamboo with third formula get the highest nitrogen content (12,97%). Fourier-transform infrared spectroscopy (FTIR)  analysis showed that all of the nitrocellulose have nitro group and with burning test also proved that nitrocellulose can be rapidly burdened. However, the solubility of  nitrocellulose in acetone and ethers-alcohols indicates that the distribution of nitrogen content in the nitration process is not meet the standard yet. Keywords: bamboo, nitrogen content, nitrocellulose, dissolving pulp, propellant
The Effect of Pulping Process Variable and Elemental Chlorine Free Bleaching on the Quality of Oil Palm Trunk Pulp Wieke Pratiwi; Andoyo Sugiharto; Susi Sugesty
JURNAL SELULOSA Vol 8, No 02 (2018): JURNAL SELULOSA
Publisher : Center for Pulp and Paper

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1231.3 KB) | DOI: 10.25269/jsel.v8i02.218

Abstract

Oil Palm Trunk (OPT) is a non-wood cellulosic raw material which is not yet widely utilized in pulping and papermaking. Research on the utilization of abundant Oil Palm Trunk (OPT) from Sabah (Malaysia) and Lebak (West Java Province) for pulp production was carried out using kraft and soda anthraquinone processes with active alkali (AA) of 13-17%. The raw material was chipped and depithed as pretreatment. Bleaching of pulp was carried out using Elemental Chlorine Free (ECF) process. Analysis of raw material covered physical and chemical properties, and fiber morphology. Both OPT fibers were classified into the moderate fiber length (1.05-1.37 mm). Sabah OPT were very bulky with the chips pile density of 102.16 kg/m3 and 62.91 kg/m3 for undepithed and depithed OPT, respectively. The physical properties of OPT pulps were comparable to that of Acacia mangium pulp. With respect to the bleachability and physical properties, pulping of Lebak OPT using kraft or soda-anthraquinone process with AA of 15% were considered as optimum condition. Depithing on Sabah OPT with high pith content could increase physical properties of pulp. ODEoDnD bleaching sequence on pulps from Sabah OPT gave satisfactory results with respect to the physical properties. Since Sabah OPT had a high pith content, the yields of bleached pulp were relatively low (24.67-26.73%). However, the physical properties of the undepithed and depithed Sabah OPT bleached pulp were higher compared to those of the SNI of Leaf Bleached Kraft Pulp (LBKP).Keywords: depithing, Elemental Chlorine Free, bleached pulp, physical properties, LBKP Pengaruh Variabel Proses Pulping dan Pemutihan Elemental Chlorine Free pada Kualitas Pulp Batang Kelapa SawitAbstrakBatang Kelapa Sawit adalah bahan baku selulosa non-kayu yang belum banyak digunakan dalam pembuatan pulp dan kertas. Penelitian tentang pemanfaatan Batang Kelapa Sawit (BKS) dari Sabah (Malaysia) dan Lebak (Provinsi Jawa Barat) yang berlimpah untuk produksi pulp menggunakan proses kraft dan soda antrakuinon dengan alkali aktif (AA) kisaran 13-17% telah dilakukan. Penyerpihan dan proses depithing bahan baku dilakukan sebagai perlakuan awal. Pemutihan pulp dilakukan menggunakan Elemental Chlorine Free (ECF). Analisis bahan baku mencakup sifat fisik dan kimia, serta morfologi serat. Kedua serat BKS dapat diklasifikasikan sebagai serat moderat dengan panjang 1,05-1,37 mm. BKS dari Sabah sangat ruah dengan densitas tumpukan serpih masing-masing 102,16 kg/m3 untuk yang belum di-depithing dan 62,91 kg/m3 untuk yang telah di-depithing. Sifat fisik pulp BKS sebanding dengan pulp dari Acacia mangium. Sehubungan dengan kemampuan pemutihan dan sifat fisik, pembuatan pulp BKS dari Lebak menggunakan proses kraft atau soda-antrakuinon dengan AA 15% adalah kondisi optimal. Depitihing BKS dari Sabah dengan kandungan pith yang tinggi dapat meningkatkan sifat fisik pulp. Pemutihan dengan urutan ODEoDnD untuk pulp BKS dari Sabah memberikan hasil sifat fisik yang memuaskan. BKS dari Sabah memiliki kandungan pith yang tinggi sehingga rendemen pulp yang diputihkan relatif rendah (24,67-26,73%). Namun, sifat-sifat fisik pulp putih BKS dari Sabah yang belum dan telah di-depithing lebih tinggi dibandingkan SNI Pulp Kraft Putih Kayudaun (LBKP).Kata kunci: depithing, Elemental Chlorine Free, pulp putih, sifat fisik, LBKP