Raismin Kotta
Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Jakarta. Stasiun Penelitian Ternate

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TEKNIK PEMBENIHAN TIRAM MUTIARA (Pinctada maxima) Raismin Kotta
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.502 KB)

Abstract

Pengamatan terhadap kerang mutiara (Pinctada sp) telah dilakukan terhadap jenis Pinctada maxima dengan tujuan mengetahui teknik pembenihan dan metoda pemeliharaan dari stadium larva hingga ukuran spat di Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Pantai (BPBPP) Sekotong Lombok barat. Guna memperoleh anakan kerang mutiara maka dilakukan melalui proses pemijahan. Metoda pemijahan yang digunakan adalah adalah metoda kejut suhu (Thermal shock) dimana terjadi penaikan dan penurunan suhu secara berangsur-angsur dengan tujuan agar seluruh tiram bisa terangsang untuk memijah (spawning) selanjutnya dipindahkan ke bak pemijahan sekaligus bak penetasan dan pemeliharaan larva. Induk tiram yang digunakan pada pengamatan ini adalah tiram mutiara alam (Natural oyster) dengan ukuran panjang induk betina berkisar antara 17.0 – 22.0 cm dan ukuran panjang induk jantan 17.5 – 22.0 cm dengan Tingkat Kematangan Gonad (TKG) stadia IV. Tahapan kegiatan adalah dimulai dari persiapan wadah,seleksi induk,pemijahan,penetasan telur,perawatan larva,sirkulasi air media,kultur pakan alami fitoplankton jenis Nannochloropsis sp,Pavlova lutheri,Isochrysis galbana dengan dosis pemberian meningkat 10% tiap hari dari dosis awal. Selanjutnya untuk menyuburkan pertumbuhan fitoplankton dalam media kultur digunakan pupuk KW 21.Hasil pengamatan menunjukan bahwa pemijahan tiram mutiara berhasil dilakukan dan berdasarkan hasil sampling, jumlah telur yang dihasilkan sebanyak 90.000.000 butir dengan Hatching rate 70% yaitu 63.000.000 ekor serta hasil panen spat dengan waktu pemeliharaan dalam bak pembesaran selama 40 hari sebanyak 2,5% (1.575.000 ekor) dari total larva yang menetas. Stadia larva tiram mutiara terdiri dari D- Shape, Umbo 1,Umbo 2,Umbo 3,Planty grade,Spat. Stadia paling rawan pada fase larva tiram mutiara adalah pada stadia Umbo 2, karena pada stadia ini larva mulai bermetamorfosis menuju fase plantygrade dimana akan membentuk rangkaian menggunakan benang-benang yang disekresikan. Fase terakhir di hatchery, sebelum dipelihara di laut adalah fase spat yang akan dicapai pada hari pemeliharaan ke 20. Spat hampir sepenuhnya seperti tiram muda, hanya bentuk engsel yang membedakan yaitu masih belum rata.Pada fase spat,larva tidak lagi bersifat planktonik tetapi menjadi sesil yaitu menetap pada substrat dengan cara mensekresikan benang-benang bisus dari kelenjar bisus untuk menempel.Kata kunci:Budidaya; Pembenihan tiram mutiara (Pinctada maxima)
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN SPAT TIRAM MUTIARA (Pinctada maxima) DI PERAIRAN TERNATE SELATAN PULAU TERNATE Raismin Kotta
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.853 KB)

Abstract

Perairan Pulau Ternate bagian selatan merupakan salah satu lokasi yang potensial untuk melakukan kegiatan budidaya biota laut termasuk tiram mutiara (Pinctada maxima) . Hal ini disebabkan karena ketersediaan pakan alami (Phitoplankton) serta kondisi perairan termasuk arus yang ideal merupakan faktor utama dalam mendukung keberlanjutan usaha tersebut. Penelitian ini dilaksanakan di perairan ternate selatan (Stasiun Penelitian Lapangan LIPI Kecamatan Sasa Kota Ternate Selatan) selama dua (2) bulan yaitu dari bulan Mei – Juni 2017. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui laju pertumbuhan spat tiram mutiara (Pinctada maxima) pada berbagai tingkat kedalaman serta presentase kelangsungan hidup spat yang dipelihara menggunakan metoda tali rentang (Long line) di perairan ternate selatan pada. Tiram mutiara yang dipelihara dari ukuran spat yang masih menempel pada media kolektor yang terbuat dari serat monofilament sampai dengan ukuran kira-kira 4-5 mm dan ditebar pada kemudian ditebar pada poket spiral dengan kepadatan 75-100 ekor, dibungkus waring dan digantung pada long line, Pengukuran panjang cangkang dilakukan menggunakan penggaris dengan ketelitian 1 mm. Hasil Penelitian menunjukan bahwa selama masa pemeliharaan dua (2) bulan, Laju pertumbuhan spesifik rata-rata panjang cangkang 19,74 mm,sedangkan faktor kualitas air yaitu Suhu berkisar 29,6-30,3 0C,salinitas 33-35 ppt,pH 7,1-7,2 serta kecerahan 10-13 m, serta tingkat mortalitas yang rendah. Dari hasil penelitian ini diperoleh laju pertumbuhan cukup baik pada kedalaman pemeliharaan 2 meter dan diikuti oleh kedalama 6,4 dan 8. Hal ini didukung oleh kondisi perairan yang memadai,Pola arus yang baik dimana msh terdapat terumbu karang dan lamun yang melimpah. maka dapatlah diprediksikan bahwa Perairan ternate selatan masih produktif untuk pemeliharaan tiram mutiara (Pinctada maxima) dan dapat di tingkatkan pemeliharaannya sampai ukuran siap di adakan penyuntikan/Insersi (size 10 – 12 cm) untuk dilakukan tahapan selanjutnya yakni penyuntikan/insersi guna menghasilkan butiran mutiara. Melihat kondisi riel di lokasi penelitian tentang pertumbuhan dan perkembangan tiram mutiara (Pinctada maxima) yang di pelihara memberikan indikasi bahwa budidaya tiram mutiara di perairan ternate selatan harus di dorong dan dapat dijadikan salah satu bidang usaha bagi masyarakat pesisir di wilayah ternate selatan khususnya dan Maluku utara pada umumnya dengan melibatkan pengusaha lokal, pemerintah daerah (Dinas Perikanan Kelautan) serta Lembaga riset (LIPI dan Universitas) dalam rangka meningkatkan Pendapatan Asli Daerah dari subsektor budidaya laut.Kata kunci: Budidaya, kerang mutiara, pertumbuhan, Pinctada maxima