Adri Arlan
Universitas Pelita Harapan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ASEAN, INDONESIA DAN RUSIA TIMUR JAUH: PELUANG DAN DIVERSIFIKASI [ASEAN, INDONESIA AND RUSSIA FAR EAST: OPPORTUNITIES AND DIVERSIFICATION] Adri Arlan
Verity: Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (International Relations Journal) Vol 11, No 22 (2019): July - December
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/verity.v11i22.2456

Abstract

Indonesia-Russia relations started at the end of World War II. Early relations were poor but became close during the Sukarno period. The post-Soviet era ushered a new height of Russia’s political, diplomatic, and economic presence in Southeast Asia. After the dissolution of the United Soviet Socialist Republic (USSR), Russia has focused on a grand re-engineering project, an important component of institutional stability. Part of the re-structuring included ambitious actions to re-brand a powerful image of her position in Southeast Asia, and in Asia and the Pacific, in general. Scholars have argued that there is a lack of knowledge in terms of Russia’s relations with countries of Southeast Asia (ASEAN). This can be explained by Russia’s unfamiliarity over the region’s diversity and by her insecurity with the dominance of the United States and China, among others. Nevertheless, the Putin Government has shifted its lens towards the Southeast Asian region by establishing stronger ties in areas of security and defense, energy development, and trade and people-to-people exchanges. This paper employs an ‘ethic’ perspective analysis of the actions taken by Russia in these areas and suggests possible future actions to enhance collaboration and cooperation with Southeast Asian countries such as Indonesia.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Hubungan Indonesia-Rusia telah dimulai sejak berakhirnya Perang Dunia ke II. Kerja sama yang terjadi antara kedua negara terjalin cukup erat di era Presiden Sukarno. Pasca runtuhnya Uni Soviet terjadi perubahan dinamika dalam hubungan politik, diplomatik dan ekonomi  Rusia di Asia Tenggara. Saat ini Rusia fokus dalam menata ulang grand strategy penguatan kestabilan institusi baik dalam maupun luar negeri. Dalam hal penataan ulang kebijakan strategi luar negeri, Rusia berupaya untuk menciptakan image baru di Asia Tenggara dan Pasifik. Secara umum, para ahli berargumen bahwa masih minimnya wawasan dalam konteks hubungan Rusia dan Asosiasi Negara di Asia Tenggara (ASEAN). Hal ini dijelaskan dengan minimnya peran Rusia dalam hal kerja sama dan insekuritas akibat dominasi Amerika Serikat dan Republik Rakyat Tiongkok yang sudah mengakar kuat di kawasan. Namun demikian, administrasi Putin mencoba meningkatkan perhatiannya ke ASEAN dengan meningkatkan ikatan kerja sama dalam sektor pertahanan dan keamanan, energi, perdagangan dan people to people contact. Tulisan ini mengulas pendekatan ‘etis[’ berupa pola kebijakan kerja sama yang diimplementasikan oleh Moskow serta rekomendasi diversifikasi kerja sama Rusia dengan negara di Asia Tenggara seperti Indonesia.
Peran Presidensi G20 Indonesia dalam Meningkatkan Literasi Digital [The Role of G20 Presidency in Improving Digital Literacy] Adri Arlan; Avirell Felicia Kangmajaya
Verity: Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (International Relations Journal) Vol 15, No 29 (2023): January - June
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/verity.v15i29.7403

Abstract

One of the focuses of the Indonesian Presidency G20 in 2022 is the digital economy. One of the priorities is digital literacy. Indonesia is known for being one of the lowest countries with a digital literacy rating in the world. Based on the Digital Literacy report, Indonesia's digital literacy index in 2021 was at the level of 3.49 with a maximum value of 5.00. This figure increased from 2020 to 3.46. An important aspect of improving digital skills and digital literacy is collaboration between stakeholders in digital transformation. Cooperation between G20 member countries can increase capability and capacity in digital skills. The Boston Consulting Group (BCG) predicted that potential gains in the digital economy will reach US$11 billion and will triple to US$33 billion by 2025. There must be significant lessons learned from Indonesia’s presidency to other G20 members to improve the quality of public policy on digital platforms.Bahasa Indonesia Abstract: Salah satu fokus Presidensi Indonesia dalam G20 tahun 2022 adalah ekonomi digital. Salah satu topik prioritas yang di dalamnya adalah literasi digital. Indonesia tercatat memiliki peringkat literasi digital yang rendah di dunia. Ada pun, berdasarkan laporan Status Literasi Digital 2021, indeks literasi digital Indonesia pada 2021 berada di level 3,49 dari nilai maksimum 5,00. Angka ini meningkat dari 2020 yang sebesar 3,46. Aspek penting dalam meningkatkan keterampilan digital dan literasi digital di Indonesia adalah melalui kerja sama antarpemangku kepentingan dalam mewujudkan transformasi digital. Kerja sama di antara negara-negara anggota G20 diharapkan mampu meningkatkan kapabilitas dan kapasitas dalam peningkatan keterampilan digital. Boston Consulting Group (BCG) bahkan meramalkan bahwa potensi keuntungan dalam ekonomi digital mencapai 11 miliar dolar AS dan akan mencapai hampir tiga kali lipatnya menjadi 33 miliar dolar AS pada 2025. Untuk itu perlu ada pembelajaran signifikan dari presidensi G20 Indonesia guna menciptakan kebijakan publik yang lebih berkualitas di platform digital dari negara-negara maju yang tergabung di dalamnya.