Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PSEUDONYM AND PERSONA MANAGEMENT IN PSYCHOANALISYS APPROACH AMONG J-POP FANS IN SOCIAL MEDIA Pinckey Triputra; Rewindinar Rewindinar
Bricolage : Jurnal Magister Ilmu Komunikasi Vol 6, No 01 (2020): Accredited by Kemenristekdikti RI SK No. 36/E/KPT/2019
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/bricolage.v6i01.2066

Abstract

ABSTRACT The development of communication technology makes a new form of persona management strategies. Facebook is one of social media, which can make the borders of public persona and private persona to be blurred and invisible. This research aims to explore the persona management in pseudonym practice through psychoanalysis approach by Japanese popular culture’s fans on Facebook by separating their personas in RL (Real Life) account and fannish account. This research is a qualitative research and using constructivism paradigm. Data collection was obtained by unstructured interviews submitted to two Facebook users. The data is then processed and analyzed interpretively. Study found that the main motive of fans using pseudonimity in social media is to avoid the stereotype threats from their real-life society. Virtual ethnography methods are also used which depart from virtual participatory observation methods for pseudonym accounts and participant RL accounts Study also found that there’s a new form of persona management strategies by using social media’s technology features such as blocking, unfriend-ing, and using privacy setting feature, and the other strategies. So, their persona is public yet private towards some audience. Keywords; fandom, persona, pseudonym, fans, popular culture. ABSTRAK Perkembangan teknologi komunikasi menciptakan bentuk baru dari strategi manajemen persona. Facebook adalah salah satu media sosial yang dapat membuat batasan sehingga persona publik dan privat menjadi kabur dan tidak terlihat. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi manajemen persona dalam praktik pseudonim melalui pendekatan psikoanalisis yang dilakukan para fans budaya populer Jepang yang melakukan pemisahan persona mereka di akun RL (Real Life) dan akun fans. Penelitian kualitatif ini menggunakan paradigma konstruksivisme. Pengumpulan data diperoleh dengan wawancara tidak terstruktur yang diajukan kepada dua orang pengguna Facebook. Data kemudian diolah dan dianalisis secara interpretif. Metode virtual ethnography juga digunakan yang berangkat dari metode observasi partisipatif secara virtual untuk akun pseudonim dan akun RL partisipan. Temuan studi menunjukan terdapat motif utama dari fans yang menggunakan pseudonim dalam media sosial yaitu untuk menghindari ancaman stereotype dari kehidupan sosial yang nyata. Studi juga menemukan adanya bentuk baru dari strategi manajemen persona dengan menggunakan fitur teknologi sosial media seperti blocking, unfriend-ing, privacy setting dan lainnya. Dengan demikian persona mereka bersifat publik karena disebarluaskan melalui media sosial namun tetap bersifat pribadi dalam hubungannya dengan pengguna media sosial lainnya. Kata kunci; fandom, persona, pseudonim, fans, budaya populer
Analisis Semiotik Fashion Ines Ariani Sebagai Bentuk Presentasi Diri Monica Stella Angelina; Pinckey Triputra
Jurnal Komunikasi Vol. 7 No. 2 (2015): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v7i2.16

Abstract

AbstractFashion can be seen from the side semoitikanya that denotation and connotation. Like the black color that has connotations mysterious, bold, independent, and stylish, yellow color that symbolizes joy and a sense of spirit. Tiger spotted pattern connotes bold. Clothes that show the shape of the body shape connotes the online, open-minded, and confident. Denotation and connotation of this it can be concluded that Ines presenting himself as someone who is brave, open, cheerful, and stylish. Fashion and clothing are included in it has a deeper function than as body armor and kesopan that as the way a person communicates where fashion clothing is non-verbal communication that is artifactual. It can be seen that one can judge others simply on appearances alone. Even generally someone will first see the appearance of others before making conversation. This conversation function to verify whether the accepted meaning when just looking at clothes only in accordance with the meaning of a conversation or when it is doing the opposite. Although a person can wear to present themselves as it is, but nonetheless in reality there is an element of performance in it. It is also likely to be experienced by Ines, where in addition wants to present himself, Ines also wants the fashion that he was wearing viewed and became the center of attention of the crowd.AbstrakFashion dapat dilihat secara semoitikanya yaitu dari sisi denotasi dan konotasinya. Seperti warna hitam yang memiliki konotasi misterius, berani, mandiri, dan stylish, warna kuning yang melambangkan keceriaan dan rasa semangat. Pattern totol harimau yang berkonotasi berani. Bentuk pakaian yang memperlihatkan bentuk tubuh berkonotasi daring, open-minded, dan percaya diri. Dari denotasi dan konotasi inilah dapat diambil kesimpulan bahwa Ines mempresentasikan dirinya sebagai seseorang yang berani, terbuka, ceria, dan stylish. Fashion dan pakaian yang termasuk di dalamnya memiliki fungsi yang lebih mendalam selain sebagai pelindung tubuh dan kesopan yakni sebagai cara seseorang berkomunikasi dimana fashion pakaian merupakan komunikasi non-verbal yaitu artifaktual. Hal ini dapat dilihat bahwa seseorang dapat menilai orang lain hanya dari penampilannya saja. Bahkan umumnya seseorang akan terlebih dahulu melihat penampilan orang lain sebelum melakukan percakapan. Fungsi percakapan ini untuk membuktikan apakah makna yang diterima saat hanya melihat pakaiannya saja sesuai dengan makna ketika sudah melakukan percakapan ataukah berlawanan. Meski seseorang dapat mengenakan pakaian untuk mempresentasikan diri apa adanya, tapi tetap saja dalam kenyataannya ada unsur pertunjukan di dalamnya. Hal ini jugalah yang dialami oleh Ines, dimana selain ingin mempresentasikan dirinya, Ines juga menginginkan agar fashion yang ia kenakan dilihat dan menjadi pusat perhatian orang banyak.