Kisah Nabi Nuh a.s dan kaumnya adalah merupakan ’ibrah buat kita semua, baik ia seorang pendidik, seorang dai, seorang peminpin, seorang tokoh, maupun rakyat biasa yang tidak mempunyai harta dan kedudukan. Dalam kisah itu Allah SWT. memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya berupa banjir besar yang menenggelamkan satu negeri dan tidak ada satu orang pun yang selamat dari amukan banjir itu kecuali orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada-Nya. Kehancuran kaum itu bukanlah disebabkan kurangnya pendidikan keduniaan yang mereka miliki, akan tetapi kehancuran kaum itu dikarenakan kosongnya hati mereka dari akidah tauhid dan ajaran-ajaran yang benar. Mereka mempersekutukan Allah, menyembah berhala-berhala yang tidak dapat berbuat apa- apa. Kehancuran kaum itu bukanlah disebabkan lemahnya ekonomi yang mereka miliki, akan tetapi kehancuran kaum itu dikarenakan lemahnya kekuatan hati dan fikiran mereka untuk menentang ajakan, bujukan dan rayuan Iblis terlaknat dan menyesatkan itu. Sehingga rasul Allah Nabi Nuh a.s. yang diutus kepada mereka, mereka dustakan, mereka caci dan mereka hujat habis-habisan. Padahal Nabi Nuh itu adalah seorang utusan dari Sang Pencipta untuk mengajak, mendidik dan membimbing manusia kejalan yang diridhai. Kehancuran kaum itu bukanlah disebabkan kekuatan mereka yang tidak seberapa, akan tetapi kehancuran kaum itu dikarenakan cacian mereka terhadap mereka yang lemah lagi miskin. Padahal mereka yang miskin lagi lemah itu adalah hamba yang yang tulus ikhlas beribadah dan taat kepada Allah dan rasul-Nya Nabi Nuh a.s. Kehancuran kaum itu adalah merupakan suatu pelajaran buat mereka yang masih suka berbuat sombong, maksiat, dan durhaka terhadap Allah SWT. Ketahuilah bahwa sombong, durhaka dan syirik itu adalah jalan yang menghantarkan manusia kelembah hitam yang penuh dengan dosa, sehingga Allah SWT menjadikan pengikut Nabi Nuh dengan kehancuran dan kehinaan baik di dunia maupun di akhirat.