I Gusti Made Gde Surya Chandra Trapika
Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

POLA PEMBERIAN TERAPI MUAL DAN MUNTAH PADA IBU HAMIL OLEH DOKTER SPESIALIS OBSTETRI DAN GINEKOLOGI SERTA BIDAN DI KOTA DENPASAR Ni Putu Ayu Widiasari; I Gusti Made Surya Candra Trapika
E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 5 (2017): E-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.786 KB)

Abstract

Mual dan muntah pada ibu hamil atau yang disebut dengan nausea and vomiting in pregnancy (NVP) adalah salah satu penyebab tingginya angka morbiditas ibu hamil yang hingga saat ini belum diketahui terapi definitifnya. NVP dengan manifestasi gejala yang berat disebut dengan Hiperemesis Gravidarum (HG). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pengobatan NVP oleh praktisi kesehatan di kota Denpasar. Penelitian bertempat di praktek dokter spesialis obstetri dan ginekologi dan bidan di kota Denpasar yang dipilih secara simple random sampling. Populasi adalah seluruh ibu hamil dengan NVP yang berkunjung ke praktek swasta dokter spesialis obstetri dan ginekologi dan bidan di kota Denpasar dalam jangka waktu Januari-Mei 2014. Rancangan yang digunakan adalah studi cross-sectional dengan pemilihan sampel secara total sampling dan digunakan sampel sejumlah 88 ibu hamil. Data dikumpulkan dari rekam medis pasien dan dipindahkan ke formulir penelitian. Data yang didapatkan dianalisis lebih lanjut secara deskriptif. Secara umum didapatkan proporsi pemberian farmakoterapi kepada pasien NVP lebih tinggi (70,5%) dibandingkan non-farmakoterapi (29,5%) dengan seluruh pasien HG diberikan farmakoterapi. Jenis farmakoterapi yang paling dominan dipilih secara umum adalah vitamin B6 (56,5%). Dokter spesialis obstetri dan ginekologi dominan memilih inhibitor serotonin dan bidan dominan memilih vitamin B6. Dapat disimpulkan bahwa farmakoterapi merupakan pilihan dominan dalam terapi NVP dengan vitamin B6 yang mendominasi. Seluruh pasien HG mendapatkan farmakoterapi. Disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut lagi dengan jangka waktu dan tempat penelitian yang lebih banyak untuk mengetahui kondisi terapi NVP di lapangan dan pilihan farmakoterapi para praktisi kesehatan untuk menangani NVP.
Dendritic-Cell Specific Antigen Hiv-1: Novel Terapi Berbasis Biomolekuler sebagai Imunomodulator pada Penderita HIV Tipe 1 Albert Salim; Maria Pramesthi Sabrina Evananda; Aizar Vesa Prasetyo; I Gusti Made Gde Surya Chandra Trapika
Jurnal Sains Farmasi & Klinis Vol 8, No 3 (2021): J Sains Farm Klin 8(3), Desember 2021
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.577 KB) | DOI: 10.25077/jsfk.8.3.258-263.2021

Abstract

Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), baik tipe 1 yang tersebar ke seluruh dunia maupun tipe 2 yang terisolasi di Afrika, masih menjadi tantangan di bidang kesehatan dunia termasuk Indonesia. Angka HIV yang tinggi ini penting untuk ditangani karena bahaya komplikasi yang mengintai. Penatalaksanaan dan terapi HIV yang ada saat ini dengan penggunaan antiretroviral memiliki keterbatasan dilihat dari efek terapi dan efek samping yang ditimbulkan. Pengembangan dan penemuan modalitas terapi yang memiliki potensi efek terapi yang lebih optimal merupakan suatu tantangan yang terus diupayakan dalam penanganan HIV ini. Salah satunya adalah pengembangan imunoterapi berbasis sel dendritik. Literature review ini ditulis secara sistematis mengenai laporan studi terkait hal di atas dari berbagai sumber termasuk Google Scholar, PubMed, Research Gate untuk menguraikan potensi sel dendritik sebagai imunomodulator pada penderita HIV-1. Modalitas imunoterapi ini dikonstruksi dalam bentuk vaksin berbasis sel dendritik, sel yang berperan pada patogenesis HIV, yang diadministrasikan secara intradermal. Vaksin yang diberikan akan menstimulasi respon imun dan dapat digunakan tidak saja sebagai upaya terapi pada penderita tapi berpotensi digunakan sebagai pencegahan.