Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Eufemisme dan Disfemisme dalam Karangan Emha Ainun Nadjib: “Hidup Itu Harus Pintar Ngegas dan Ngerem” Habib Rois
Belajar Bahasa Vol 6, No 1 (2021): BELAJAR BAHASA : Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indone
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/bb.v6i1.4031

Abstract

Changes in the meaning of words with refinement (euphemism) and refinement (dysfemism) occur at the level of a sentence marked by words, phrases and clauses. The purpose of this research is to describe the forms of euphemisms and dysphemisms in the essay of Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) with the title "Life Must Be Clever Ngegas and Ngerem" through a component analysis. The paradigm in research uses qualitative by referring to the natural axioms of reality, the relationship between the researcher and the one being studied, the possibility of generalization, and the causal relationship. The data in this study are in the form of sentences in Cak Nun's essay which are included in the process of changing the meaning of euphemisms and dysfemisms. The data is taken from a book entitled "Life Must Be Smart and Ngerem", an article that contains motivation and teachings of life based on Islamic law. The data analysis process in this study includes four stages, namely domain analysis, taxonomic analysis, component analysis, and cultural theme analysis. The results in this study contain a form of euphemism with two modes of use, namely protection and motivation. Meanwhile, dysphemism has two modes of use which include negative evaluation and satire. The four modes are then combined with the equivalent words in accordance with the context of the sentence, giving rise to comparisons based on the meaning components contained. Comparison of meaning components aims to determine the level of meaning change which refers to refinement and roughing. There is one word without comparing the meaning component with its equivalent, namely the word pramonyet. The term pramonyet is used as a form of curbing which refers to the process of comparing human needs with a monkey.
Digitalisasi Tuturan Psikogenik Latah (Kajian Fonetik Akustik) Habib Rois
Belajar Bahasa Vol 5, No 1 (2020): BELAJAR BAHASA: Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indones
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/bb.v5i1.2863

Abstract

Tuturan psikogenik latah merupakan salah satu gangguan dalam berbahasa. Gangguan berbahasa pada tingkat psikogenik latah dapat disembuhkan dengan mengetahui pola-pola tuturan yang diproduksi oleh penderita latah. Berkaitan dengan hal tersebut, tujuan dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan pola tuturan latah dengan menggunakan kajian fonetik akustik. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan menggunakan metode penelitian dari  Institut voor Perceptie Onderzoek (IPO). Teori IPO merupakan kajian yang menganalisis fonetik secara linguistic science. Tuturan latah [tutup e tutup] merupakan bentuk tuturan yang dikaji secara akustik. Bentuk analisis digunakan terdiri dari tiga jenis pengukuran, yaitu pengukuran durasi, pengukuran frekuensi fundamental, dan pengukuran intensitas bunyi. Pada segmen bunyi vokoid /e/ secara durasi memiliki nilai yang relatif kecil, akan tetapi secara frekuensi memiliki nilai yang besar yaitu 391.828 Hz. Selain itu, pengukuran intensitas bunyi pada segmen kedua bunyi vokoid /e/ memiliki nilai yang lebih besar di antara segmen lainnya, sebesar 80.451 dB. Bunyi vokoid /e/ memiliki nilai frekuensi dan intensitas yang besar karena secara artikulatoris, besarnya frekuensi fundamental berkorespondensi dengan getaran pita suara. Peningkatan ini diakibatkan oleh adanya getaran pita suara yang lebih cepat dibanding pada saat pengucapan tuturan pada segmen satu yaitu kata /tutup/ dan segmen ketiga pada kata /tutup/ yang merupakan kata terakhir tuturan [tutup e tutup]. Berdasarkan uraian di atas maka bentuk tuturan latah Echolalia pada umumnya memiliki pola [silaba/kata]+[vokoid netral]+[silaba/kata]. Perbedaan pola pada tuturan lain hanya berkaitan dengan jumlah kata yang diulang-ulang, secara garis besar bunyi vokoid netral berperan sebagai puncak intensitas tuturan latah Echolalia.