This Author published in this journals
All Journal MANUSKRIPTA
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kearifan Lokal Mitos Pertanian Dewi Sri dalam Naskah Jawa dan Aktualisasinya sebagai Perekat Kesatuan Bangsa Trisna Kumala Satya Dewi; Heru Supriyadi; Sholeh Dasuki
Manuskripta Vol 8 No 2 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The agricultural myth of "Dewi Sri" contained in Javanese manuscripts contains local wisdom related to agriculture, fertility, food (rice) and actualized in the ritual of village cleaning (bersih desa) ceremonies. The term of village cleaning is also commonly referred to as sadran (nyadran), ruwah rosul, sedekah bumi, and manganan. In the ritual of village cleaning ceremonies some Javanese people still actuaize it with performng art of the Wayang Purwa with the lakon of Sri Sadana or Sri Mulih (Mbok Sri Boyong). In addition, there are also some people who implement village cleaning with Tayub performing arts. The performing arts in the ritual of village cleaning are the actualization of the agricultural myth, namely "Dewi Sri" as a symbol of "Goddess of Rice", "Goddess of Fertility". The ritual of village cleaning as local wisdom can be used as a social adhesive in the community (Java). Besides that, in the village cleaning there are also various functions such as expressing gratitude to the Almighty God for salvation and abundance of sustenance, fostering togetherness (harmony), and tolerance between citizens. === Mitos pertanian Dewi Sri yang termuat dalam naskah-naskah Jawa mengandung kearifan lokal yang berkaitan dengan pertanian, kesuburan, pangan (padi) dan diaktualisasikan dalam upacara ritual bersih desa. Istilah bersih desa biasa juga disebut dengan sadran (nyadran), ruwah rosul, sedekah bumi, dan manganan. Dalam upacara ritual bersih desa sebagian masyarakat Jawa masih mempagelarkan dengan seni wayang purwa dengan lakon Sri Sadana atau Sri Mulih (Mbok Sri Boyong). Di samping itu, juga ada sebagian masyarakat yang melaksanakan bersih desa dengan seni pertunjukan Tayub. Seni pertunjukan dalam ritual bersih desa tersebut merupakan aktualisasi mitos pertanian, yaitu “Dewi Sri” sebagai simbol “Dewi Padi”, “Dewi Kesuburan”. Upacara ritual bersih desa sebagai kearifan lokal tersebut dapat digunakan sebagai perekat sosial dalam masyarakat (Jawa). Selain itu, dalam bersih desa juga termuat berbagai fungsi seperti ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa atas keselamatan dan limpahan rezeki, memupuk kebersamaan (guyub rukun), dan toleransi antarwarga.
Kearifan Lokal "Makanan Tradisional": Rekonstruksi Naskah Jawa dan Fungsinya dalam Masyarakat Trisna Kumala Satya Dewi
Manuskripta Vol 1 No 1 (2011): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Traditional food is a cultural phenomenon. Culture plays a role in determining whether a food item is edible or not, while simultaneously labeling or legitimizing it. Thus, food is not merely for sustaining life, but also for preserving the culture of a collective group. In this context, food carries symbolic meanings associated with social and religious functions. In Javanese society, traditional food is closely linked to Javanese ritual ceremonies that continue to be practiced to this day. This is also evident in several Javanese manuscripts containing descriptions of traditional food, namely Serat Centhini, Serat Goenandrija, Serat Wilujengan, Jumenengan, Kraman, Mangkunegaran, and Primbon Lukmanakim Adammakna. These manuscripts contain various types of traditional foods and their functions within Javanese society. Through this paper, local wisdom in the form of cultural heritage—namely the thoughts of ancestors regarding traditional food as recorded in these manuscripts—will be presented. === Makanan tradisional merupakan fenomena kebudayaan. Kebudayaan pun ikut menentukan makanan dapat dimakan atau tidak sekaligus memberi cap atau mengesahkannya. Dengan demikian, makanan bukan sekadar untuk mempertahankan hidup, melainkan juga untuk mempertahankan kebudayaan sebuah kolektif. Dalam hal ini, makanan mempunyai arti simbolik yang berkaitan dengan fungsi sosial dan keagamaan (religi). Dalam masyarakat Jawa, makanan tradisional erat hubungannya dengan upacara ritual masyarakat Jawa yang hingga kini masih dilaksanakan. Hal tersebut pun nampak dalam beberapa naskah Jawa yang berisi tentang makanan tradisional, yaitu Serat Centhini, Serat Goenandrija, Serat Wilujengan, Jumenengan, Kraman, Mangkunegaran, dan Primbon Lukmanakim Adammakna. Naskah-naskah tersebut berisi berbagai macam makanan tradisional serta fungsinya dalam masyarakat Jawa. Melalui tulisan ini, akan dipaparkan kearifan lokal berupa warisan budaya, yaitu pemikiran-pemikiran nenek moyang mengenai makanan tradisional yang terekam dalam naskah-naskah tersebut.