Agus Djoko Utomo
Balai Penelitian Perikanan Perairan Umum, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

OPTIMALISASI PENGELOLAAN PERIKANAN DI DANAU GEGAS KABUPATEN MUSI RAWAS SUMATERA SELATAN Agus Djoko Utomo; Siti Nurul Aida; Taufiq Hidayah
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 12, No 1 (2020): (Mei) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.624 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.12.1.2020.1-10

Abstract

Danau Gegas (500 ha) merupakan danau buatan (waduk) dari pembendungan sungai gegas, diresmikan oleh Menteri Pekerjaan Umum pada 1987. Perubahan ekosistem yang mengalir menjadi ekosistem tergenang tentunya akan mempunyai dampak terhadap sumber daya perikanan. Permasalahan utama Danau gegas yaitu yang semula tujuan utama pembuatan danau buatan tersebut untuk keperluan irigasi ternyata tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, pintu air tidak berfungsi sehingga sirkulasi air tidak berjalan dengan baik menyebabkan kualitas air menjadi jelek. Tujuan penelitian adalah mengoptimalkan peran perikanan di Danau gegas untuk kesejahteraan masyarakat yaitu dengan cara melakukan budidaya ikan yang sesuai dengan daya dukung perairan, penebaran ikan yang sesuai bagi jenis dan jumlah ikan yang ditebar, konservasi sumber daya ikan melalui penetapan suaka perikanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya dukung perairan untuk budidaya ikan pada keramba jaring apung adalah 20 ton/tahun, untuk jaring sekat 40 ton ikan/tahun, untuk penebaran benih ikan sebanyak 142.440 benih, penentuan suaka perikanan yang tepat adalah di inlet Gegas dan beberapa cekungan.Gegas Lake (500 ha) is an artificial lake (reservoir) from damming the gegas river, inaugurated by the Minister of Public Works in 1987. Changes in lotic ecosystems into lentic ecosystems will have an impact on fisheries resources. The main problem with the Gegas Lake is that it cannot function as an irrigation reservoir due to failure of water gate, so that the circulation of water does not work well causing worst water quality. The research objective is to optimize the fisheries function in Gegas Lake for the welfare of the community. For this reason, it is necessary to do fish culture in accordance with the carrying capacity of the waters and fish stocking and conservation through the establishment of fish reserves. The results showed that the carrying capacity of the waters for fish culture in floating cages and set net was 20 tons/year and 40 tons/year respectively. It was also suggested to conduct restocking as much as 120,000 juveniles. In addition, it was found that inlet and several concave areas were as correct places to conduct conservation activity.
STRATEGI PEGELOLAAN SUAKA PERIKANAN RAWA BANJIRAN DI SUMATERA DAN KALIMANTAN Agus Djoko Utomo
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 8, No 1 (2016): (Mei 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (742.501 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.8.1.2016.13-20

Abstract

Perairan rawa banjiran sangat dipengaruhi musim, saat musim kemarau mengalami kekeringan dan saat musim penghujan banjir. Ada dua kelompok ikan di rawa banjiran yaitu kelompok ikan rawa (black-fish) dan kelompok ikan sungai (white fish). Berdasar tipe habitat di rawa banjiran ada beberapa tipe suaka perikanan yaitu suaka tipe lebung, suaka tipedanau rawa, suaka tipe Sungai, suaka tipe lubuk. Suaka perikanan tipe lebung: “Lebung Suak Buaya” (0,5 ha) di Lubuk Lamam Sumatera selatan terdapat stok ikan 2 ton yang didominansi oleh ikan Gabus (Channa striata), Tembakang (Helostoma temmenckii), Sepat Siam (Trichopodus pectoralis), Betok (Anabas testudineus). Suaka perikanan tipe danau:“Danau lindung Empangau “ (124 ha) di Kapuas Hulu Kalimantan Barat terdapat stok ikan 5.700 ekor/ha didominansi oleh ikan Haruan (Channa striata), Entukan (Thynnichthys thynnoides), Biawan (Helostoma temmenckii), Tengadak (Barbonymus schwanenfeldii). Suaka perikanan tipe sungai “Kapak Hulu” (segmen sungai panjang 1 km, lebar 30 m) di Lubuk Lamam Sumatera selatan terdapatstok ikan 4 ton didominansi oleh ikan Lais (Kryptopterus kryptopterus), Baung (Hemibagrus nemurus), Palau (Osteochilus hasselti), Lampam (Barbonymus schwanenfeldii). Suaka perikanan “Lubuk Gunung Isam” di Lubuk Lamam Sumatera selatan terdapat stok ikan 2 ton didominansi oleh ikan Tapa (Wallago leeri), Bulu Tulang (Kryptopterus apagon), Baung (Hemibagrus nemurus), Lais (Kryptopterus kryptopterus). Agar supaya suaka perikanan dapat berfungsi dengan baik sehingga mempunyai dampak terhadap masyarakat sekitarnya maka suaka tersebut harus dikelola dengan tepat mulai dari penentuan lokasi yang tepat, sarana prasarana yang diperlukan, serta kelembagaan dan pengawasan.Floodplain waters are strongly influenced by season, drought during dry season and floods in rainy season. There are two groups of fish in the swamp namely the swamp fishgroup (black fish) and river fish group (white fish). Based on the type of habitat in the swamp flood, there are several types of fish reserves namely floodplain pool reserve, swamp lake reserve, river segment reserve, and deep pool of the riverreserve. Floodplain pool reserve type:” Suak Buaya Reserve”(0.5 ha) in southern Sumatra contained 2 tons of fish stocks dominated by snakehead, kissing gourami, Snakeskin gourami, climbing perches. Swamp lake reserve type: Empangau Lake Reserve (124 ha) in West Kalimantan with5.700 fish/ha dominated by Snakehead fish, minnows or carp,kissing gourami, Tinfoil barb. River segment reserve type: “Kapak Hulu Reserve “ (river segment, length =1 km and width =30 m) in southern Sumatra contained 4 tons of fish dominated by Sheatfishes, Catfish, Hard Lipped Barb, Tinfoil barb. Deep pool of the river reserve type: “Lubuk Gunung Isam Reserve” in southern Sumatra contained 2 tons of fish dominated by Butter catfish, Fur Bones, Catfish, Sheatfishes.In order to conserve fish reserves properly so that they are beneficial for the surrounding community the reserves shall be appropriately managed, either in determining the location, identifying the necessary infrastructure, as well as proposing related institutions and supervision activites.