Victor P. H. Nikijuluw
Pusat Riset Perikanan Tangkap, Ancol-Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STATUS SUMBER DAYA IKAN TUNA SAMUDERA HINDIA: IMPLIKASINYA BAGI INDONESIA Victor P. H. Nikijuluw
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 1, No 1 (2009): (Mei 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.029 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.1.1.2009.31-44

Abstract

Sumber daya ikan tuna di Samudera Hindia dikelola oleh 2 Regional Fisheries Management Organization yaitu Indian Ocean Tuna Commission dan Commission for the Conservation of the Blue Fin Tuna. Dengan pengolahan ini, maka sumber daya ini tidak lagi bebas dimasuki untuk dimanfaatkan, kecuali oleh negara atau entitas yang menjadi anggota ke-2 Regional Fisheries Management Organization ini. Sumber daya tuna ini telah dimanfaatkan sejak tahun 1950, dan mungkin akan terus menjadi daerah penangkapan utama di masa mendatang. Jenis-jenis tuna ukuran besar sudah cenderung ditangkap secara berlebihan. Sementara jenis tuna ukuran kecil cenderung belum tinggi intensitas penangkapan. Indonesia sudah saatnya mengembangkan perikanan tuna di Samudera Hindia ini secara besar-besaran, mengingat posisi geografis Indonesia yang relatif lebih dekat dan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.Indian Ocean tuna resources are managed by two Regional Fisheries Management Organization; the Indian Ocean Tuna Commission and Commission for the Conservation of the Blue Fin Tuna. Under this management regime, the fishery is not an open access. It can only be utilized by member countries and entities of the those Regional Fisheries Management Organization. The tuna resources have been extensively caught since 1950, and may be kept on being exploited in the future. The large tuna species tended to have been fully utilized, while the small species may be considered under fished. Indonesia should develop its capacity to the best use of the existing resources, considering its relatively shorter distance to the fishing ground.
PEMANFAATAN TUNA SIRIP BIRU (SOUTHERN BLUE FIN TUNA) Victor P. H. Nikijuluw
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 1, No 2 (2009): (November, 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (38.063 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.1.2.2009.121-129

Abstract

Tuna sirip biru adalah ikan berharga tinggi yang semakin kurang populasinya akibat penangkapan secara ekstensif. Ikan ini hanya terdapat di Samudera Hindia. Daerah pemijahannya diduga di perairan selatan Bali dan Lombok. Pengelolaan konservasi ikan ini dilakukan oleh Commission for the Conservation of Southern Blue Fin Tuna, di mana Indonesia adalah salah satu anggotanya. Kehadiran Indonesia sebagai anggota menuntut Indonesia untuk ikut melakukan konservasi terhadap spesies ini. Namun, Indonesia juga patut mengembangkan perikanan dan perdagangan spesies ini bagi kepentingan nasional.Southern blue fin tuna is a high priced fish which tends to have declining its population due to extensive fishing. The Indian Ocean is the species only habitat. Its spawning area is confined to the waters of southern coast of Bali and Lombok. The management conservation of the southern blue fin tuna is done by the Commission for the Conservation of Southern Blue Fin Tuna, where Indonesia as one of the members. The membership consequence is that Indonesia should undertake conservative actions and mechanisms for the species. Indonesia may develop fishery and trading of the species for its own benefit and interest.