Talitha Wenifrida
Universitas Pembangunan Indonesia

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

ANALISIS USAHA TANI TOMAT DI DESA TADUNA KECAMATAN KABARUAN KABUPATEN MELONGUANE Talitha Wenifrida
Journal Agriculture Sciences Vol 4 No 1 (2016): Journal Agriculture Sciences
Publisher : Fakultas Pertanian UNPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analisis Usahatani Tomat Di Desa Taduna, Kecamatan Kabaruan, Kabupaten Melonguane. Petani tomat di Desa Taduna, hanya berkjumlah 5 (lima) orang, dengan melakukan sistem usahatani yang masih sederhana, karena keterbatasan pengetahuan dan dana. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan tomat di kecamatan kabaruan, didatangkan dari Kota Manado, menyebabkan harga tomat yang cukup mahal. Dengan adanya usahatani tomat yang dilakukan oleh 5 orang petani, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui : (1) pendapatan yang diperoleh petani tomat di Desa Taduna dan (2) kelayakan usahatani tomat di Desa Taduna. (1) Pendapatan yang diperoleh responden sebesar Rp.4.012.100,- per musim tanam. Pendapatan ini diperoleh dengan menghitung pengurangan antara penerimaan dant total biaya usahatani. total biaya yang dikeluarkan untuk usahatani tomat sebesar Rp.5.767.900,- musim tanam. Sedangkan penerimaan usahatani tomat, sebesar Rp.9.780.000,-. (2) Usahatani tomat di Desa Taduna Kecamatan Kabaruan, layak untuk diusahakan, sebab berdasarkan hasil analisis R/C ratio, diperoleh nilai 1,7, yaitu nilai yang lebih besar dari 1(>1). Artinya setiap satuan nilai rupiah yang dikeluarkan dalam proses produksi usahatani tomat, akan menghasilkan penerimaan sebesar 1,7 satuan nilai rupiah.
STRATEGI RUMAH TANGGA NELAYAN DALAM UPAYA MEMPERTAHANKAN KELANGSUNGAN HIDUP RUMAH TANGGA Talitha Wenifrida
Journal Agriculture Sciences Vol 4 No 3 (2016): Journal Agriculture Sciences
Publisher : Fakultas Pertanian UNPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan utama dalam penulisan ini adalah untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi rumah tangga nelayan dan strategi rumah tangga nelayan untuk pemenuhan kebutuhan hidup, karena diketahui bahwa rumah tangga nelayan selalu diperhadapkan dengan berbagai masalah pemenuhan kebutuhan, yang disebabkan oleh karakteristik pekerjaan nelayan yaitu hanya bekerja jika musim tangkap (musim timur) dan tidak bekerja pada musim paceklik (musim barat), mengakibatkan kerentanan dalam perekonomian rumah tangga. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode survei yaitu menggambarkan secara sistematik dan faktual mengenai fenomena yang ada sekarang dan juga menerangkan hubungan antar fenomena dan membuat interpretasi dan mendapatkan makna dari fenomena yang diteliti. Hasill penelitian diperoleh bahwa (1) nelayan melakukan kegiatan penangkapan ikan hanya pada musim timur karena keterbatasan pada alat tangkap yang digunakan, mengakibatkan kondisi sosial ekonomi rumah tangga nelayan masih rentan terhadap kemiskinan, (2) Untuk mempertahankan kelangsungan ekonomi rumah tangganya, mereka melakukan strategi sosial dan trategi ekonomi. Strategi sosial dilakukan denga cara (a). meminjam pada pemilik modal, (b) membentuk kelompok simpan pinjam, dan (c) aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Strategi ini cukup membantu, walaupun sifatnya hanya sementara. Sedangkan strategi ekonomi dilakukan dengan cara (a) diversifikasi pekerjaan dan (b) pola nafkah ganda. Ragam kerja yang dilakukan oleh nelayan adalah buruh tani, buruh bangunan dan pekerjaan serabutan lainnya. Pola nafkah ganda dilakukan oleh istri dan anak-anak yang sudah boleh bekerja. Istri melakukan pekerjaan buru cuci dan kerja di vila, sedangkan anak-anak ikut melaut dan membersihkan perahu. Hal ini sangat berarti untuk kelangsungan ekonomi rumah tangka nelayan.
PROSES KERJA MASYARAKAT NELAYAN: Studi Kasus Nelayan Patorani di Desa Pa’lalakkang Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan Talitha Wenifrida
Journal Agriculture Sciences Vol 5 No 1 (2017): Journal Agriculture Sciences
Publisher : Fakultas Pertanian UNPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research is motivated by the perspective to think that the cause of the lack of success of the government in an effort to increase the income and standard of living of fishermen is the lack of attention to social and cultural aspects of fishing communities. Therefore, this study was conducted to obtain social information alligator fishing communities that can be used to assist the government in improving the income and living standards of fishermen. This study aims to determine the fishing community work process from preparation Patorani fishing, production processes, marketing system until the system of rewards / profit sharing. The study found that the typical behavior of fishermen Patorani the work is to implement two kinds of traditional knowledge, namely ErangPassimombalang (knowledge cruise) and ErangPakboya-Boyang (knowledge of business organization). While Patorani work process, starting from (1) the preparation of the arrest, which perform rituals Patorani namely massikkopakkaja, massisibiseang and accaru-caru.It’s implementation has been simplified with the aim of saving operating costs, without reducing the significance of ceremonial purposes, namely for safety and success in work. (2) poses production, conducted in the East, is located in the Makassar Strait. Fishing gear used, namely traditional still pakkaja and balla-balla. (3) The marketing system is the right papalele, without the intervention of the skipper, the marketing system, from papalele to traders or exporters, while (4) the sharing system, determined by papalele. The reward system is not put in question by labor (skipper and mustard greens) because there is no guarantee unwritten papalele to provide social and economic security against the skipper and mustard during their work on the papalele. The conclusion that can be drawn from this research is: the process of working fishermen Patorani, still use traditional ways, by maintaining the socio-cultural aspects (indigenous) community.
POTENSI PENGEMBANGAN PRODUK AREN (Arenga pinnata MERR) DI DESA IKHWAN KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW Talitha Wenifrida
Journal Agriculture Sciences Vol 6 No 1 (2018): Journal Agriculture Sciences
Publisher : Fakultas Pertanian UNPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produk tanaman aren memiliki nilai ekonomi tinggi dan berpotensi ekspor jika diusahakan secara serius, karena hampir semua bagian fisik tanaman (akar, batang dan daun) maupun produksi tanaman (buah muda, nira dan pati atau tepung dalam batang) dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi, sehingga tanaman aren mempunyai potensi yang besar sebagai sumber pendapatan petani. Namun tanaman aren belum dibudidayakan secara khusus dan pemanfaatannya masih sangat terbatas diketahui oleh petani. Hasil penelitian yang diperoleh adalah: (1) Produk aren dimanfaatkan dengan cara membuat gula aren, kolang kaling, saguer dan cap tikus. Pengolahan dilakukan dengan cara tradisional yaitu kebiasaan yang dilakukan secara turun temurun. Bahan baku (nira) diperoleh dari tanaman enau yang tersebar di hutan dan yang ada di halaman rumah. (2) Pendapatan yang diperoleh dari hasil pengolahan produk aren yaitu pendapatan dari gula aren sebesar Rp 49.000,-/hari, Kolang-kaling sebesar Rp 37.500,-/ hari, Saguer sebesar Rp 300.000,-/hari dan cap tikus sebesar Rp 150.000,-/ hari. Dengan demikian apabila melakukan pengolahan produk aren dapat menambah pendapatan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan.
PENGELOLAAN MANGROVE BERBASIS PEREMPUAN DAN MODAL SOSIAL Talitha Wenifrida
Journal Agriculture Sciences Vol 7 No 1 (2019): Journal Agriculture Sciences
Publisher : Fakultas Pertanian UNPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sustainable mangrove management need women and social capital. Not pay attention to women and social capital that exist in society are particularly vulnerable to achieve sustainability. Because women are the social potential in coastal areas, while social capital is a means of control in the management of mangrove. This paper describes the women in the social capital to implement the coastal mangrove management, by analyzing the three-dimensional social ecosystem-based management, the ecological dimension, economic dimension and socio-cultural dimensions of society Bahowo. While the elements of social capital that are used are: trust, values and norms, reciprocity and proactive measures.
MONITORING DAN EVALUASI PENEMPATAN DAN PELAKSANAAN TUGAS TENAGA PENYULUH PERTANIAN LAPANGAN (PPL) DI KECAMATAN MAPANGET Talitha Wenifrida
Journal Agriculture Sciences Vol 7 No 2 (2019): Journal Agriculture Sciences
Publisher : Fakultas Pertanian UNPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dalam pembangunan pertanian mempunyai mandate untuk menyelenggarakan pendidikan non formal bagi petani – nelayan, keluarga tani dan masyarakat luas khususnya di pedesaan. Metode penentuan daerah ditentukan secara purposive yaitu Kecamatan Mapanget. Adapun alasan pemilihan daerah penelitian tersebut adalah daerah agraris dengan potensi tanaman jagung dan palawija dan PPL diharapkan peranannya dalam penyuluhan pertanian di wilayah tersebut. Pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi: Monitoring dilaksanakan setiap minggu sekali dan evaluasi dilaksanakan setiap bulan sekali. Keberhasilam pelaksanaan tugas pokok PPL di daerah penelitian telah dilaksanakan dengan baik oleh PPL dan dianggap berhasil. Upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi kurangnya jumlah PPL adalah dengan penambahan jumlah PPL dan untuk mengatasi masalah jauhnya jarak tempat tinggal PPL ke wilayah kerja adalah dengan penyediaan kendaraan dinas bagi PPL. Upaya-upaya lain yang dilakukan dalam mengatasi masalah pelaksanaan tugas adalah terus memberikan penyuluhan kepada petani dengan materi-materi yang lebih mudah diserap oleh petani, melengkapi kurangnya sarana dan prasarana penyuluhan dengan swadaya kelompok tani dan PPL serta memanfaatkan sumber daya yang tersedia dan bekerja sama dengan kepala desa ataupun tokoh masyarakat setempat lainnya untuk mengajak masyarakat agar mau mengikuti kegiatan penyuluhan.