Nita Ssalam
Universitas Pembangunan Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGARUH PERLAKUAN SUHU PEMANASAN TERHADAP ASAM ASKORBAT SARI BUAH TOMAT Nita Ssalam
Journal Agriculture Sciences Vol 7 No 2 (2019): Journal Agriculture Sciences
Publisher : Fakultas Pertanian UNPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia yang merupakan negara tropis basah merupakan negara yang kaya akan hasil buah-buahan. Sebagai gambaran di Indonesia banyak buah-buahan yang mengalami kerusakan sebelum di konsumsi. Jumlah yang hilang karena kerusakan ini diperkirakan 35 – 40 % tomat bahkan memcapai 50%. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Balai Penelitian Obat dan Makanan Manado selama kurang lebih 3 bulan yaitu dari bulan Juni sampai bulan Agustus. Hasil penelitian ini menemukan bahwa proses termal dalam pengolahan sari buah tomat ternyata dapat menurunkan kandungan asam askorbat, hal ini karena asam askorbat merupakan zat yang mudah teroksidasi oleh panas, sinar, alkali, enzim, katalis, tembaga dan besi. Hasil uji organoleptik ternyata bahwa setiap taraf pemanasan tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap warna, bau dan rasa Hal ini berarti bahwa pemanasan tidak berpengaruh terhadap derajat keasaman. Selama pemanasan tidak terjadi pembentukan senyawa-senyawa yang bersifat asam atau pembetukan senyawa-senyawa yang bersifat basa. Hasil uji organoleptik yang memberikan penilaian biasa dan sedikit senang terhadap warna, bau dan rasa karena setiap derajat pemanasan mengakibatkan terjadinya interaksi antara komponen – komponen sari buah dalam hal ini antara asam amino dan gula menghasilkan senyawa melanoidin.
PENGEMBANGAN AYAM BURAS DI DESA TUMOKANG BARU KECAMATAN DUMOGA UTARA KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW Nita Ssalam
Journal Agriculture Sciences Vol 7 No 3 (2019): Journal Agriculture Sciences
Publisher : Fakultas Pertanian UNPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ayam buras merupakan salah satu ternak unggas lokal yang dikenal dengan sebutan ayam kampung. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor internal dan eksternal untuk pengembangan ayam buras di Desa Tumokang Baru Kecamatan Dumoga Utara. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Tumokang Baru Kecamatan Dumoga Utara Kabupaten Bolaang Mongondow. Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan SWOT (Strenght Weaknesses Opportunities Threats) cara yang sederhana untuk memperkirakan cara terbaik untu melaksanakan sebuah strategi pengembangan ayam buras. Kesimpulan yang dapat diambil setelah melakukan pengkajian dengan menggunakan analisis SWOT, maka untuk pengembangan usaha peternakan ayam buras di Desa Tumokang Baru adalah faktor internal (Peternak) yaitu Kemampuan sumber daya manusia peternak dalam ketrampilan beternak masih rendah, maka yang perlu dilakukan adalah Peningkatan kemampuan peternak melalui pendidikan non formal berupa kursus dan pelatihan usaha beternak ayam buras, Pendampingan kepada peternak yang dilakukan oleh petugas penyuluhan peternakan, Perbaikan sisitem peternakan dari system tradisional ke system intensif. Segi Eksternal (Dukungan Pemerintah) yaitu dengan cara memfasilitasi antara peternak dengan pihak swasta berupa dukungan modal, sarana produksi ternak, pemasaran hasil dan pembinaan kelompok ternak.
ANALISIS KELAYAKAN USAHA TANI KACANG TANAH DI KECAMATAN KAWANGKOAN KABUPATEN MINAHASA Nita Ssalam
Journal Agriculture Sciences Vol 7 No 4 (2019): Journal Agriculture Sciences
Publisher : Fakultas Pertanian UNPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Kawangkoan merupakan desa yang memiliki luas areal kacang tanah terbesar di Kabupaten Minahasa. Kacang tanah toleran terhadap tanah kering dan berbagai jenis tanah misalnya latosol, dan tanah berpasir. Usaha tani kacang tanah di Kecamatan Kawangkoan merupakan salah satu sumber pendapatan tambahan petani. Namun perhitungan pendapatan dari usaha tani ini jarang dilakukan oleh petani sehingga tidak ada informasi sampai seberapa besar pendapatan yang diperolehnya dari usaha tani kacang tanah. Metode dasar penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis, penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kawangkoan karena diwilayah tersebut banyak terdapat usaha tani kacang tanah. Di kecamatan Kawangkoan ini memiliki lahan terluas tanaman kacang tanah di Minahasa. Data yang digunakan meliputi data primer dan data sekunder. Pengumpulan data yang dibutuhkan digunakan beberapa teknik pengumpulan data yaitu metode observasi, metode wawancara, metode pencatatan dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa umur petani berpengaruh terhadap hasil usaha tani. Umur berkaitan dengan pengalaman dalam mengusahakan usaha taninya. Tingkat pendidikan petani berhubungan langsung terhadap produksi pertanian artinya semakin tinggi tingkat pendidikan petani maka semakin realistis dalam pengambilan keputusan tentang usaha taninya. Jumlah anggota keeluarga petani sampel akan berpengaruh terhadap biaya . jumlah anggota keluarga petani sampel 1 3 orang berjumlah 18 petani (69,2 %), sedangkan yang memiliki anggota keluarga 3 – 5 orang ada 8 petani. Jenis kelamin angganggota keluarga berpengaruh terhadap produktifitas. Jenis kelamin laki-laki lebih banyak dibanding perempuan (53,95 % laki-laki dan 46,05 % perempuan). Sedangkan umur semakin banyak anggota keluarga yang berumur produktif maka semakin banyak tebaga kerja dalam keluarga, hal ini juga akan berpengaruh terhadap produktivitas tenaga kerja. Kesimpulan dari penelitian ini didapatkan usaha tani kacang tanah di kecamatan Kawangkoan menguntungkan. Besarnya keuntungan yang diperoleh adalah sebesar Rp 216.078.85. Usaha tani kacang tanah di desa ini banyak diusahakan hal ini dilihat dari besarnya R/C rasio yang diperoleh yaitu sebesar 1.292, produktifitas tenaga kerja lebih besar dari pada besar upah yang berlaku yaitu Rp 14.904.71. Produktifitas modal lebih besar dari pada tingkat bunga tabungan bank yaitu 29,2 %. Produksi lebih besar dari BEP produksi yaitu 109,19 kg dan harga yang diterima petani lebih besar dari pada BEP harga yaitu Rp 8.758.