Budi Susanto
Akademi Fisioterapi Rs. Dustira Cimahi, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pengaruh Ultrasound Diathermy dan Terapi Latihan pada Tendinitis Bicipitalis Sinistra Budi Susanto
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.064 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i2.6241

Abstract

Ultrasound Diathermy merupakan suatu terapi menggunakan getaran mekanik gelombang suara yang bertujuan dengan pemberian Ultrasound Diarthermy ini dapat mengurangi nyeri (Hayes, 2016). Fisioterapi adalah bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu dan atau kelompok untuk mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak dan fungsi tubuh sepanjang rentang kehidupan dengan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan (fisik, elektroterapeutis dan mekanis) pelatihan fungsi dan komunikasi (Permenkes No.65 Tahun 2015). Penelitian ini dilakukan untuk memahami dan mengetahui sejauh mana penggunaan modalitas Ultrasound Dhiathermy dalam mengurangi nyeri, terapi latihan Free Active Exercise dalam meningkatkan Lingkup gerak sendi dan Active Resisted Exercise dalam meningkatkan kekuatan otot pada kasus Tendinitis Bicipitalis Sinistra. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini berupa purposive sampling. Dari sejumlah populasi yang akan menjadi sample dan memenuhi kriteria inklusi yang sebelumnya telah ditetapkan. Setelah dilakukan terapi sebanyak 4 kali yang dilakukan pada tanggal 12 Februari 2020 sampai dengan 22 Februari 2020 didapatkan hasil adanya penurunan nyeri yang dilakukan dengan pemeriksaan nyeri menggunakan Visual Analogue Scale atau VAS pada T1 (12 Februari 2020) yaitu untuk nyeri diam: 1,2 cm, nyeri tekan area sulcus bicipitalis sinistra: 7,2 cm dan nyeri gerak: 6,9 cm, pada akhir terapi atau T4 (22 Februari 2020) didapatkan hasil nyeri diam: 0 cm, nyeri tekan area sulcus bicipitalis sinistra: 5,2 cm dan nyeri geraki: 4,3 cm. Disarankan pula bagi penderita yang memiliki akivitas rutin dalam kasus ini contohnya yaitu senam dengan melihat usia penderita yang tidak lagi muda aktivitas rutinitas tersebut mungkin dapat diseimbangkan dengan kondisi dan kemampuan penderita dalam mengikuti runtutan gerakan pada senam tersebut atau hanya mengikuti gerakan yang dapat ditoleransi oleh pederita sendiri.