Shirly Kumala
Magister Farmasi Universitas Pancasila Jakarta, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perbandingan Biaya Pengobatan Kombinasi Amlodipin-Candesartan Dengan Amlodipin-Irbesartan Pada Pasien Hipertensi Rawat Inap Bpjs Di Rumah Sakit Evasari Erlita Erlita; Shirly Kumala; Prih Sarnianto
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.373 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i10.9805

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskuler yang paling lazim. Prevalensinya bervariasi menurut umur, ras, pendidikan dan banyak variabel lain. Besarnya biaya pengobatan hipertensi dipengaruhi beberapa hal seperti pemilihan obat, tindakan medis yang diberikan Di Era JKN pembayaran untuk pelayanan di rumah sakit menggunakan sistem Ina-CBGs dimana besaran pembayaran klaim oleh BPJS Kesehatan didasarkan pada kelompok diagnosis penyakit dan prosedur penanganannya. Pembayaran klaim BPJS yang bersifat paket membuat rumah sakit harus melakukan pengendalian biaya-biaya terkait pelayanan pasien rawat inap agar tidak merugi. Tujuan penelitian ini mengkaji perbandingan biaya pengobatan terapi kombinasi amlodipin-candesartan dengan kombinasi amlodipin–irbesartan pada pasien rawat inap dengan menggunakan BPJS di RS Evasari. dari penelitian ini diperoleh hasil unit cost dalam pengobatan pasien hipertensi dengan kombinasi amlodipin-irbesartan lebih rendah yaitu Rp. 5.991.007,66 dengan rata-rata lama rawat selama 3 hari. Sedangkan pada kombinasi amlodipin-candesartan unit cost yang dikeluarkan sebesar Rp. 10.025.676,16 dengan rata-rata rawat selama 5 hari. unit cost yang menjadi pengeluaran paling besar biaya obat dan alkes untuk kombinasi amlodipin-candesartan Rp. 3.148.406,26 dan kombinasi amlodipin-irbesartan Rp. 2.108.379. Perbedaan biaya yang cukup besar dipengaruhi oleh lama rawat inap yang dibutuhkan berbeda. Pasien dengan kombinasi amlodipin-candesartan memerlukan lama rawat yang lebih lama bila dibandingkan dengan kombinasi amlodipin-irbesartan.
Pengaruh Edukasi Farmasis terhadap Hasil Terapi dan Kualitas Hidup Pasien Prolanis Diabetes Melitus Tipe 2 Dewi Laxmi; Shirly Kumala; Prih Sarnianto; Asnah Tarigan
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.332 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v6i1.2086

Abstract

Diabetes Mellitus merupakan suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, protein, dan lipid sebagai akibat insufiensi fungsi insulin. Penyakit DM memerlukan pengelolaan secara benar, terpadu, dan berkesinambungan sehingga glukosa darah dapat terkontrol dan kualitas hidup yang optimal akan tercapai. Tujuan penelitian ini adalah dengan adanya konseling farmasis dapat meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan pasien diabetes melitus tipe 2 sehingga tercapai hasil terapi kualitas hidup yang optimal. Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimental dengan desain Two Group Pretest-Posttest. Hasil penelitian pada kelompok intervensi setelah diuji Wilcoxon terjadi peningkatan nilai rata-rata pengetahuan, peningkatan nilai kepatuhan, penurunan kadar gula darah puasa (GDP), penurunan kadar Gula Darah Setelah Makan (GDPP) dan peningkatan nilai kualitas hidup yang signifikan, sedangkan pada kelompok kontrol peningkatan nilai rata-rata pengetahuan, peningkatan nilai kepatuhan, penurunan kadar GDP, dan peningkatan nilai kualitas hidup tidak signifikan, hanya pada penurunan kadar GDPP yang signifikan. Dari hasil uji Mann Whitney ada perbedaan bermakna antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol pada tingkat pengetahuan, kepatuhan, GDPP, dan kualitas hidup, sedangkan pada GDP tidak ada perbedaan yang bermakna. Dengan uji Spearmen’s terlihat adanya hubungan antara pengetahuan, kepatuhan, kadar gula darah, dan kualitas hidup. Dapat disimpulkan bahwa dengan adanya konseling oleh farmasis dapat meningkatkan pengetahuan, dan kepatuhan pasien diabetes melitus tipe II sehingga tercapai hasil terapi dan kualitas hidup yang optimal.