Nizzah Amalia Subchan
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

FAKTOR NORMALISASI HUBUNGAN DIPLOMATIK YORDANIA DENGAN QATAR: ANALISIS DINAMIKA KEAMANAN KAWASAN DAN IDENTITAS NASIONAL Nizzah Amalia Subchan
Indonesian Journal of International Relations Vol 4 No 1 (2020): INDONESIAN JOURNAL OF INTERNATIONAL RELATIONS
Publisher : Indonesian Association for International Relations

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.488 KB) | DOI: 10.32787/ijir.v4i1.119

Abstract

Yordania sebagai negara yang diapit beberapa negara berkonflik serta tidak memiliki kekayaan sumber daya alam membuat aliansi sangat penting bagi keberlangsungan negara tersebut. Dalam memenuhi kebutuhan tersebut, Yordania seringkali beraliansi dengan aktor-aktor hegemon untuk mendapatkan status pelindung maupun bantuan finansial. Maka dalam cakupan Timur Tengah, Yordania memilih beraliansi dengan negara Arab Saudi beserta koalisinya di kawasan Teluk dalam Gulf Cooperation Council. Aliansi ini dilanjutkan hingga pada krisis diplomatik Qatar tahun 2017, Yordania terpaksa memutuskan hubungan dengan Qatar agar aliansi dengan kerajaan Saudi tidak rusak. Namun pada 2019, Yordania melakukan normalisasi hubungan diplomatik dengan Qatar setelah hubungan mereka renggang dua tahun. Keputusan ini juga datang meskipun Arab Saudi beserta koalisinya belum melakukan normalisasi dengan Qatar sendiri, dan dapat berpotensi membahayakan eksistensi Yordania jika melakukan tindakan tersebut karena bertentangan dengan koalisi Saudi. Maka peneliti berusaha untuk menganalisis fenomena ini menggunakan teori keamanan kawasan, konsep ketidakstabilan kawasan terhadap pertumbuhan ekonomi, serta level analisis identitas nasional. Peneliti kemudian menemukan dua motif yang melatarbelakangi keputusan tersebut saling berkesinambungan, yaitu meningkatnya kebutuhan akan bantuan finansial serta adanya dukungan Qatar terhadap status pelindung Yerusalem milik Yordania.