Raden Prasodjo Soedomo
Unknown Affiliation

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Pengaruh Enzim Organik Campuran terhadap Kualitas Bibit Bawang Daun dalam Penyimpanan Soedomo, Raden Prasodjo
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 3 (2006): September 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Kebiasaan penanaman bawang daun oleh petani di Indonesia menggunakan anakan, induk, dan hampir tidak ada yang menggunakan biji. Pengiriman bibit ke luar daerah sering mengalami kerusakan sebelum sampai ke tempat tujuan. Percobaan ini bertujuan mengetahui pengaruh enzim organik campuran guna mengetahui pengaruhnya terhadap daya simpan bibit bawang daun. Percobaan dilakukan di Laboratorium Teknologi Benih Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang (1.250 m dpl), Jawa Barat, pada bulan Agustus sampai Desember 2005 untuk penyimpanan dan di lapangan untuk tes pertumbuhan. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap untuk di laboratorium dan acak kelompok untuk di lapangan, dengan model rancangan petak-petak terpisah dengan 3 ulangan. Kombinasi perlakuan ada 24, rincian perlakuan terdiri atas media simpan (petak utama): A (A1= pembanding/tanpa menggunakan media/kering, A2=kontrol/menggunakan air, A3=Dufic 0,1 ml/l air, A4=Dufic 0,2 ml/l air), ukuran bibit (anak petak): B (B1=super/ panjang batang palsu >15 cm dan diameternya >15 mm, B2=medium/panjang batang palsu 10-15 cm, dan diameter batang 10-15 mm dan B3=kecil atau pendek/panjang batang palsu <10cm, dan diameter batang <10 mm), lokasi penyimpanan (anak-anak petak): C (C1=tempat terbuka/greenhouse, C2=tempat tertutup/Laboratorium Benih). Hasil percobaan menunjukkan bahwa bibit bawang daun dapat disimpan maksimum 6 hari dengan syarat batangnya tidak terendam larutan Dufic 508 dosis 0,1 ml/l air dan bibit yang ukurannya besar mampu menstimulir aktivasi metabolisme sel dalam bentuk rendahnya kerusakan bibit dan berpengaruhnya terhadap partumbuhan tinggi tanaman. Interaksi perlakuan terbaik adalah penggunaan Dufic 508 dosis 0,1 ml/l air dan ukuran bibit super yang disimpan di dalam ruangan tertutup.ABSTRACT, Soedomo, R.P. 2006. The effect of organic enzyme mixture on bunching onions planting material quality in storage. Commonly Indonesian farmers use sucker of bunching onion as a planting material and never use seeds. Planting material transportation outside region encountered damages before reached the destination. The objective of this trial was to determine the effect of mixture of organic enzyme (Dufic 508) on bunching onions planting material storage quality. The experiment was carried out in the laboratory of Seed Technology and in the field of Indonesian Vegetable Research Institutes (1,250 m asl), West Java, from August to December 2005. The experimental design was a RBD for seed laboratory study and a RCBD for field test, a split split plot design with 3 replications. The treatment combinations were: keeping media (main plot) (A1=standard/without media/dry, A2=control/used water, A3=Dufic 0.1 ml/l of water, A4=Dufic 0.2 ml/1 of water), B. Planting material size (subplot) (B1=super/length of stem >15 cm and diameter > 15mm, B2 = Medium/length of stem 10-15 cm and diameter 10-15 mm, B3=small or short/stem <10 cm and diameter <10 mm), C. Storage (subsubplot) (C1=open storage/greenhouse, C2=close storage in the seed laboratory). The results showed that the planting material of bunching onion could be kept maximum for 6 days with unsoaked stem, Dufic 508 dosage 0.1 ml/1 liter of water in combination with super size of planting material could stimulate metabolism activation of plant cells described by decreasing of planting material damages and increasing of plant height. Interaction between Dufic 508 with dosage 0.1 ml/l of water, super size of planting material and keep in closed storage was the best.
Pengaruh Jenis Kemasan dan Daya Simpan Umbi Bibit Bawang Merah terhadap Pertumbuhan dan Hasil di Lapangan Soedomo, Raden Prasodjo
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 3 (2006): September 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Dalam pengiriman umbi bibit bawang merah ke suatu daerah, seringkali mengalami kendala di dalam sistem kemasan, sehingga ketika bibit sampai ke lokasi, umbi bibit banyak yang rusak sebelum ditanam, karena serangan penyakit. Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis bahan pengemas yang terbaik guna memperpanjang daya simpan umbi bibit bawang merah dan dampaknya terhadap pertumbuhan dan hasil di lapangan. Percobaan dilakukan di Laboratorium Benih dan uji pertumbuhan di lapangan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang (1.250 m dpl), pada bulan Oktober 2004–Februari 2005. Penelitian di lapangan selanjutnya untuk observasi terhadap penampilan umbi bibit. Menggunakan rancangan acak lengkap untuk penelitian di penyimpanan dan rancangan acak kelompok untuk uji lapangan, dengan model rancangan petak terpisah, terdiri atas 4 ulangan dan 7 perlakuan, yaitu (1) kantong plastik + batu kapur (CaCO3), (2) kantong plastik + batu kapur (CaCO3) + O2, (3) kantong plastik + Aquastore, (4) kantong plastik + Aquastore + O2, (5) rajut plastik, 6) kantong kertas semen + batu kapur (Ca CO3), dan (7) kantong kertas semen + Aquastore. Hasil menunjukkan bahwa jenis pengemas jaring plastik adalah yang terbaik dengan kerusakan 12%, daya simpan mencapai 45 hari, persentase yang tumbuh di lapangan 96,0%, jumlah anakan 8,20 dan tinggi tanaman pada umur 14, 28, 42, dan 56 hst masing-masing adalah 12,70, 22,2, 27,50, dan 33,10 cm. Bobot umbi per rumpun basah dan kering masing-masing 120,5 dan 84,83 g. Pengemas dalam kondisi tertutup yang dapat dipergunakan adalah kertas semen, baik menggunakan bahan penyerap batu kapur maupun Aquastore dengan nilai kerusakan di penyimpanan masing-masing adalah 13,0 dan 15,5%, daya simpan masing-masing 52,0 hari, daya serap kelembaban mencapai 42,28 dan 516,0%. Persentase yang tumbuh di lapangan 96,6 dan 98,4%, jumlah anakan 7,95 dan 8,10, tinggi tanaman pada umur 14, 28, 42, dan 56 hst masing masing adalah 12,90, 19,20, 24,40, dan 30,71 cm (penyerap kapur) serta 12,80, 19,30, 24,50, dan 30,66 cm (penyerap Aquastore). Bobot hasil per rumpun basah dan kering 115,0 dan 82,10 g (penyerap kapur) dan 111,0 dan 80,50 g (penyerap Aquastore).ABSTRACT. Soedomo, R.P. 2006. The effect of the packing material on storage life of shallot seedbulbs and its impact to the growth and yield in the field. In the transportation of shallot seedbulb often encounter a lot of damages due to diseases attacked caused by unproper packing material. The objectives of the study were to find out the best packing material to lengthen of keeping quality of shallot seedbulbs and its impact to the growth and yield in the field. The study were conducted at the laboratory and in the field of Indonesian Vegetables Research Institute at Lembang (1,250 m asl) on October 2004 to February 2005. The subsequent planting was done in the research field of the institute to observe the performance of the seedbulbs. The experimental design was CRD for the storage study and RCBD for the field study, with a split plot design. There were 7 treatments with 4 replications. The treatments were (1) polyethylene wrap + CaCO3, (2) polyethylene wrap + CaCO3 + O2, (3) polyethylene wrap + Aquastore, (4) polyethylene wrap + Aquastore + O2, (5) polyethylene plastic net, (6) cement paper bag + CaCO3, and (7) cement paper bag + Aquastore. The results showed that plastic net packing material was the best with seed damages only 12%, stored for 45 days, with growing capacity in field was 96.0%, the plant height at 14, 28, 42, and 56 days after planting (dap) were 12.70 cm; 22.20 cm; 27.50 cm; and 33.10 cm respectively and the number of bulblet was 8.20. The wet-weight and dry-weight of the bulb were 120.5 and 84.83 g respectively. The closed packaging using cement paper, with absorber materials of lime stone or Aquastore indicated that shallot seedbulbs can be stored for 52 days with seed damaged of 13.0 and 15.5% respectively. The capacity to absorb humidity were 42.28% (lime stone) and 5.16% (Aquastore). Growing capacity of seedbulb in the field were 96.6% (lime stone) and 98.4% (Aquastore). Plant height at 14, 28, 42, and 56 dap were, 12.90, 18.20, 24.40, and 30.71 cm (lime stone absorber) and 12.80; 19.30; 24.50 and 39.66 cm (absorber Aquastore) respectively. Number of bulblet 7.95 (lime stone) and 8.10 bulblet (Aquastore). The wet-weight dry-weight of the bulb per plant were 115.0 and 82.10 g (lime stone absorber) and 111.0 and 80.50 g (Aquastore absorber) respectively.
Pengaruh Kemasan terhadap Daya Simpan Umbi Bibit, Pertumbuhan, dan Hasil Bawang Putih Soedomo, Raden Prasodjo
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Di Indonesia bawang putih sudah merupakan bumbu masakan yang merakyat. Untuk konsumsi saat ini sebagian besar umbi berasal dari impor, padahal banyak daerah dataran tinggi di Indonesia yang sangat baik untuk penanaman bawang putih. Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis pengemas yang terbaik guna memperpanjang daya simpan umbi bibit bawang putih serta pertumbuhan dan hasil di lapangan. Percobaan telah dilakukan di Laboratorium Benih, Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang (1.250 m dpl), pada bulan Oktober 2004–Februari 2005. Penelitian dilanjutkan di lapangan untuk observasi terhadap penampilan umbi bibit. Rancangan yang digunakan adalah acak lengkap untuk penelitian di laboratorium benih dan acak kelompok untuk penelitian di lapangan, dengan model rancangan petak terpisah, terdiri atas 4 ulangan dan 7 perlakuan. Perlakuan terdiri dari (1) kantong plastik + batu kapur, (2) kantong plastik + batu kapur (CaCO3) + O2, (3) kantong plastik + Aquastore, (4) kantong plastik + Aquastore + O2, (5) rajut plastik, (6) kantong kertas semen + batu kapur, dan (7) kantong kertas semen + Aquastore. Hasil menunjukkan bahwa pengemasan umbi bibit bawang putih yang berdampak terhadap pertumbuhan dan hasil terbaik adalah penggunaan jaring plastik dengan daya simpan 57 hari dan kerusakan 9,6%. Di lapangan tinggi tanaman pada umur 14, 28, 42, 56, dan 70 HST masing-masing adalah 6,00; 12,23; 30,00; 40,75; dan 49,0 cm, dengan daya tumbuh 87,60%. Bobot hasil per lubang tanaman 80,80 g, dan siung per umbi 10,80 buah, dan diameter umbi lapis 32,10 cm. Pengemas dalam kondisi tertutup dapat menggunakan kertas semen, dengan penyerap batu kapur maupun Aquastore, dengan nilai kerusakan pada penyimpanan masing-masing adalah 12,5 dan 11,00%, dan daya simpan masing-masing 62,0 hari. Di lapangan mempunyai daya tumbuh 92,80, 97,90% dan tinggi tanaman pada umur 14, 28, 42, 56, dan 70 HST masing masing adalah 6,90; 12,60; 30,90; 41,15; dan 49,27cm (penyerap kapur), dan 8,43; 14,50; 32,25; 42,50; dan 51,80 cm (penyerap Aquastore). Bobot umbi per lubang tanaman 78,60 dan 77,70 g, jumlah siung per lubang tanaman 10,60 dan 10,70 siung, dan diameter umbi lapis anakan 31,90 dan 30,66 cm.ABSTRACT. Soedomo, R.P. 2006. Effect of packaging materials on the keeping quality of seedbulbs, the growth, and yield performance of garlic. Garlic as cooking spices was widely used in Indonesia. Most of the garlic consumed was imported in fact that some potential higlands suitable for planting garlics were ignored. The objectives of the study were to find out the best packaging materials for seed bulbs and its impact to growth and yield in the field. The trial was conducted at the seed laboratory of Indonesian Vegetable Research Institute at Lembang (1,250 m asl) in October 2004-February 2005. The subsequent planting was done in the research field of the institute to observe the performance of the seedbulbs. The experimental design was CRD for storage laboratory study and RCBD for field observation, with a split plot design. There were 7 treatments and 4 replications. The treatments were (1) polyethylene wrap + CaCO3, (2) polyethylene wrap + CaCO3 + O2, (3) polyethylene wrap + Aquastore, (4) polyethylene wrap + Aquastore + O2, (5) polyethylene plastic net, (6) cement paper bag + CaCO3, and (7) cement paper bag + Aquastore. The results showed that the best packaging material was plastic net with seed bulb damages of 9.6%, and storage life of 57 days. The plant height at 14, 28, 42, 56, and 70 days after planting (dap) were 6.00, 12.23, 30.00, 40.75, and 49.0 cm respectively. The yield per plant was 80.80 g. Number of bulblet per bulb was 10.80, and diameter of bulb was 32.10 cm. Cement paper, with absorber materials of limestone and Aquastore showed damages of 12.5 and 11.0% respectively. The keeping quality stood for 62.0 days. The plant height at 14, 28, 42, 56, and 70 dap were 6.90, 12.60, 30.90, 41.15, and 49.27 cm (limestone absorber), and 8.43, 14.50, 32.25, 42.50, and 51.80 cm (Aquastore absorber) respectively. The plant survival in the field were 92.80 and 97.90%. The number of bulblets were 78.60 (limestone) and 77.70 (Aquastore).
Seleksi Induk Tanaman Bawang Merah Soedomo, Raden Prasodjo
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Keterbatasan sumber genetik mengakibatkan program pemuliaan pada bawang merah tidak tercapai. Penggunaan induk sebagai bahan pemuliaan, perlu diseleksi dan dievaluasi terlebih dahulu. Percobaan ini bertujuan menyeleksi dan mengevaluasi penampilan fenotifik dan daya adaptasi untuk bahan induk tanaman. Percobaan dilakukan di Kebun Benih Induk Padi Kramat, daerah dataran rendah Kabupaten Tegal, Jawa Tengah pada bulan Oktober s/d Desember 2005 musim kemarau sampai dengan hujan, jenis tanah alluvial, pada ketinggian +5 m dpl. Menggunakan rancangan acak kelompok, jumlah ulangan 5 dan 13 perlakuan. Perlakuan tersebut adalah Ilokos, Bima Brebes, Bauji, Cokol Hijau, Singkil Gajah, Philipina, Timor, Bethok, Tiron, Kuning, Maja, Bangkok Warso, dan Bombay. Hasil menunjukkan bahwa kultivar yang mempunyai potensi sebagai bahan induk adalah kultivar Tiron, Bethok, dan Bima Brebes dengan kemampuan bertahan hidup cukup baik (92,92; 91,2; dan 81,54%), Jumlah anakan cukup banyak (9,90; 5,34; dan 7,24 anakan), jumlah daun tiap rumpun cukup lebat (35,50; 26,18; dan 21,62 helai), pertumbuhan tanaman tidak terlalu tinggi (8,42; 27,20; dan 23,62 cm), ukuran umbi relatif cukup besar dengan diameter umbi (24,2/25,4; 23,6/27,6; dan 22,4/26,6 mm), produksinya cukup tinggi dengan bobot hasil umbi kering per plot 6 m2 (5970,4; 5107,0; dan 4915,20 g), per dapur (92,6; 76,6; dan 76,7 g), dan per ha (9,26; 8,51; dan 8,18 t). Susut bobot cukup sedikit (18,34; 19,03; dan 21,73%), serta ketahanan hama penyakit cukup baik. Dilihat dari penampilan fenotifik secara umum dapat dibagi ke dalam 6–10 kelompok penampilan yang berbeda yang dapat digunakan sebagai bahan induk pemuliaan.ABSTRACT. Soedomo, R.P. 2006. The parent selection of shallots. Limiting genetic sources hindered breeding program of shallot. The breeding materials, must be selected and evaluated. The objective of this trial was to select and evaluate the phenotype and adaptability of shallot for breeding materials. This experiment was conducted at District of Tegal, Central Java (+ 5 m asl), from October to December 2005 (dry to rainy season), at alluvial soil. The experiment was set up in a randomized block design with 5 replications. The varieties of shallot used in this experiment were Ilokos, Bima Brebes, Bauji, Cokol Hijau, Singkil Gajah, Philipina, Timor, Bethok, Tiron, Kuning, Maja, Bangkok Warso, and Bombay. The results of this experiment showed that the potential cultivar for breeding materials were Tiron, Bethok and Bima Brebes cultivars, with survival rate i.e. 92.92; 91,2; and 81,54% respectively, moderate number of bulblet i.e. 9.90; 5.34 and 7.24 bulblet, respectively moderate number of leaf i.e. 35.50; 26.18; and 21.62 respectively, plant height (18.42; 27.20; and 23.62 cm), relatively big bulb size, with diameter 24.2/25.4; 23.6/27.6; and 22.4/26.6 mm respectively), relatively high production was rather yield i.e. dry bulb per plot 5,970.4; 5,107.0; and 4,915.20 g/6 m2 respectively; per hole 92.6; 76.6; and 76.7 g respectively, and per ha: 9.26; 8.51; and 8.18 t respectively. Weight losses was moderate i.e. 18.34; 19.03; and 21.73% respectively, and resistance of pest and diseases were moderate to good. Base on general phenotype appearance there were 6 to 10 groups considered as breeding materials.
Pengaruh Enzim Organik Campuran terhadap Kualitas Bibit Bawang Daun dalam Penyimpanan Soedomo, Raden Prasodjo
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 3 (2006): September 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v16n3.2006.p%p

Abstract

ABSTRAK. Kebiasaan penanaman bawang daun oleh petani di Indonesia menggunakan anakan, induk, dan hampir tidak ada yang menggunakan biji. Pengiriman bibit ke luar daerah sering mengalami kerusakan sebelum sampai ke tempat tujuan. Percobaan ini bertujuan mengetahui pengaruh enzim organik campuran guna mengetahui pengaruhnya terhadap daya simpan bibit bawang daun. Percobaan dilakukan di Laboratorium Teknologi Benih Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang (1.250 m dpl), Jawa Barat, pada bulan Agustus sampai Desember 2005 untuk penyimpanan dan di lapangan untuk tes pertumbuhan. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap untuk di laboratorium dan acak kelompok untuk di lapangan, dengan model rancangan petak-petak terpisah dengan 3 ulangan. Kombinasi perlakuan ada 24, rincian perlakuan terdiri atas media simpan (petak utama): A (A1= pembanding/tanpa menggunakan media/kering, A2=kontrol/menggunakan air, A3=Dufic 0,1 ml/l air, A4=Dufic 0,2 ml/l air), ukuran bibit (anak petak): B (B1=super/ panjang batang palsu >15 cm dan diameternya >15 mm, B2=medium/panjang batang palsu 10-15 cm, dan diameter batang 10-15 mm dan B3=kecil atau pendek/panjang batang palsu <10cm, dan diameter batang <10 mm), lokasi penyimpanan (anak-anak petak): C (C1=tempat terbuka/greenhouse, C2=tempat tertutup/Laboratorium Benih). Hasil percobaan menunjukkan bahwa bibit bawang daun dapat disimpan maksimum 6 hari dengan syarat batangnya tidak terendam larutan Dufic 508 dosis 0,1 ml/l air dan bibit yang ukurannya besar mampu menstimulir aktivasi metabolisme sel dalam bentuk rendahnya kerusakan bibit dan berpengaruhnya terhadap partumbuhan tinggi tanaman. Interaksi perlakuan terbaik adalah penggunaan Dufic 508 dosis 0,1 ml/l air dan ukuran bibit super yang disimpan di dalam ruangan tertutup.ABSTRACT, Soedomo, R.P. 2006. The effect of organic enzyme mixture on bunching onions planting material quality in storage. Commonly Indonesian farmers use sucker of bunching onion as a planting material and never use seeds. Planting material transportation outside region encountered damages before reached the destination. The objective of this trial was to determine the effect of mixture of organic enzyme (Dufic 508) on bunching onions planting material storage quality. The experiment was carried out in the laboratory of Seed Technology and in the field of Indonesian Vegetable Research Institutes (1,250 m asl), West Java, from August to December 2005. The experimental design was a RBD for seed laboratory study and a RCBD for field test, a split split plot design with 3 replications. The treatment combinations were: keeping media (main plot) (A1=standard/without media/dry, A2=control/used water, A3=Dufic 0.1 ml/l of water, A4=Dufic 0.2 ml/1 of water), B. Planting material size (subplot) (B1=super/length of stem >15 cm and diameter > 15mm, B2 = Medium/length of stem 10-15 cm and diameter 10-15 mm, B3=small or short/stem <10 cm and diameter <10 mm), C. Storage (subsubplot) (C1=open storage/greenhouse, C2=close storage in the seed laboratory). The results showed that the planting material of bunching onion could be kept maximum for 6 days with unsoaked stem, Dufic 508 dosage 0.1 ml/1 liter of water in combination with super size of planting material could stimulate metabolism activation of plant cells described by decreasing of planting material damages and increasing of plant height. Interaction between Dufic 508 with dosage 0.1 ml/l of water, super size of planting material and keep in closed storage was the best.
Seleksi Induk Tanaman Bawang Merah Soedomo, Raden Prasodjo
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v16n4.2006.p%p

Abstract

ABSTRAK. Keterbatasan sumber genetik mengakibatkan program pemuliaan pada bawang merah tidak tercapai. Penggunaan induk sebagai bahan pemuliaan, perlu diseleksi dan dievaluasi terlebih dahulu. Percobaan ini bertujuan menyeleksi dan mengevaluasi penampilan fenotifik dan daya adaptasi untuk bahan induk tanaman. Percobaan dilakukan di Kebun Benih Induk Padi Kramat, daerah dataran rendah Kabupaten Tegal, Jawa Tengah pada bulan Oktober s/d Desember 2005 musim kemarau sampai dengan hujan, jenis tanah alluvial, pada ketinggian +5 m dpl. Menggunakan rancangan acak kelompok, jumlah ulangan 5 dan 13 perlakuan. Perlakuan tersebut adalah Ilokos, Bima Brebes, Bauji, Cokol Hijau, Singkil Gajah, Philipina, Timor, Bethok, Tiron, Kuning, Maja, Bangkok Warso, dan Bombay. Hasil menunjukkan bahwa kultivar yang mempunyai potensi sebagai bahan induk adalah kultivar Tiron, Bethok, dan Bima Brebes dengan kemampuan bertahan hidup cukup baik (92,92; 91,2; dan 81,54%), Jumlah anakan cukup banyak (9,90; 5,34; dan 7,24 anakan), jumlah daun tiap rumpun cukup lebat (35,50; 26,18; dan 21,62 helai), pertumbuhan tanaman tidak terlalu tinggi (8,42; 27,20; dan 23,62 cm), ukuran umbi relatif cukup besar dengan diameter umbi (24,2/25,4; 23,6/27,6; dan 22,4/26,6 mm), produksinya cukup tinggi dengan bobot hasil umbi kering per plot 6 m2 (5970,4; 5107,0; dan 4915,20 g), per dapur (92,6; 76,6; dan 76,7 g), dan per ha (9,26; 8,51; dan 8,18 t). Susut bobot cukup sedikit (18,34; 19,03; dan 21,73%), serta ketahanan hama penyakit cukup baik. Dilihat dari penampilan fenotifik secara umum dapat dibagi ke dalam 6–10 kelompok penampilan yang berbeda yang dapat digunakan sebagai bahan induk pemuliaan.ABSTRACT. Soedomo, R.P. 2006. The parent selection of shallots. Limiting genetic sources hindered breeding program of shallot. The breeding materials, must be selected and evaluated. The objective of this trial was to select and evaluate the phenotype and adaptability of shallot for breeding materials. This experiment was conducted at District of Tegal, Central Java (+ 5 m asl), from October to December 2005 (dry to rainy season), at alluvial soil. The experiment was set up in a randomized block design with 5 replications. The varieties of shallot used in this experiment were Ilokos, Bima Brebes, Bauji, Cokol Hijau, Singkil Gajah, Philipina, Timor, Bethok, Tiron, Kuning, Maja, Bangkok Warso, and Bombay. The results of this experiment showed that the potential cultivar for breeding materials were Tiron, Bethok and Bima Brebes cultivars, with survival rate i.e. 92.92; 91,2; and 81,54% respectively, moderate number of bulblet i.e. 9.90; 5.34 and 7.24 bulblet, respectively moderate number of leaf i.e. 35.50; 26.18; and 21.62 respectively, plant height (18.42; 27.20; and 23.62 cm), relatively big bulb size, with diameter 24.2/25.4; 23.6/27.6; and 22.4/26.6 mm respectively), relatively high production was rather yield i.e. dry bulb per plot 5,970.4; 5,107.0; and 4,915.20 g/6 m2 respectively; per hole 92.6; 76.6; and 76.7 g respectively, and per ha: 9.26; 8.51; and 8.18 t respectively. Weight losses was moderate i.e. 18.34; 19.03; and 21.73% respectively, and resistance of pest and diseases were moderate to good. Base on general phenotype appearance there were 6 to 10 groups considered as breeding materials.
Pengaruh Jenis Kemasan dan Daya Simpan Umbi Bibit Bawang Merah terhadap Pertumbuhan dan Hasil di Lapangan Raden Prasodjo Soedomo
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 3 (2006): September 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v16n3.2006.p%p

Abstract

ABSTRAK. Dalam pengiriman umbi bibit bawang merah ke suatu daerah, seringkali mengalami kendala di dalam sistem kemasan, sehingga ketika bibit sampai ke lokasi, umbi bibit banyak yang rusak sebelum ditanam, karena serangan penyakit. Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis bahan pengemas yang terbaik guna memperpanjang daya simpan umbi bibit bawang merah dan dampaknya terhadap pertumbuhan dan hasil di lapangan. Percobaan dilakukan di Laboratorium Benih dan uji pertumbuhan di lapangan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang (1.250 m dpl), pada bulan Oktober 2004–Februari 2005. Penelitian di lapangan selanjutnya untuk observasi terhadap penampilan umbi bibit. Menggunakan rancangan acak lengkap untuk penelitian di penyimpanan dan rancangan acak kelompok untuk uji lapangan, dengan model rancangan petak terpisah, terdiri atas 4 ulangan dan 7 perlakuan, yaitu (1) kantong plastik + batu kapur (CaCO3), (2) kantong plastik + batu kapur (CaCO3) + O2, (3) kantong plastik + Aquastore, (4) kantong plastik + Aquastore + O2, (5) rajut plastik, 6) kantong kertas semen + batu kapur (Ca CO3), dan (7) kantong kertas semen + Aquastore. Hasil menunjukkan bahwa jenis pengemas jaring plastik adalah yang terbaik dengan kerusakan 12%, daya simpan mencapai 45 hari, persentase yang tumbuh di lapangan 96,0%, jumlah anakan 8,20 dan tinggi tanaman pada umur 14, 28, 42, dan 56 hst masing-masing adalah 12,70, 22,2, 27,50, dan 33,10 cm. Bobot umbi per rumpun basah dan kering masing-masing 120,5 dan 84,83 g. Pengemas dalam kondisi tertutup yang dapat dipergunakan adalah kertas semen, baik menggunakan bahan penyerap batu kapur maupun Aquastore dengan nilai kerusakan di penyimpanan masing-masing adalah 13,0 dan 15,5%, daya simpan masing-masing 52,0 hari, daya serap kelembaban mencapai 42,28 dan 516,0%. Persentase yang tumbuh di lapangan 96,6 dan 98,4%, jumlah anakan 7,95 dan 8,10, tinggi tanaman pada umur 14, 28, 42, dan 56 hst masing masing adalah 12,90, 19,20, 24,40, dan 30,71 cm (penyerap kapur) serta 12,80, 19,30, 24,50, dan 30,66 cm (penyerap Aquastore). Bobot hasil per rumpun basah dan kering 115,0 dan 82,10 g (penyerap kapur) dan 111,0 dan 80,50 g (penyerap Aquastore).ABSTRACT. Soedomo, R.P. 2006. The effect of the packing material on storage life of shallot seedbulbs and its impact to the growth and yield in the field. In the transportation of shallot seedbulb often encounter a lot of damages due to diseases attacked caused by unproper packing material. The objectives of the study were to find out the best packing material to lengthen of keeping quality of shallot seedbulbs and its impact to the growth and yield in the field. The study were conducted at the laboratory and in the field of Indonesian Vegetables Research Institute at Lembang (1,250 m asl) on October 2004 to February 2005. The subsequent planting was done in the research field of the institute to observe the performance of the seedbulbs. The experimental design was CRD for the storage study and RCBD for the field study, with a split plot design. There were 7 treatments with 4 replications. The treatments were (1) polyethylene wrap + CaCO3, (2) polyethylene wrap + CaCO3 + O2, (3) polyethylene wrap + Aquastore, (4) polyethylene wrap + Aquastore + O2, (5) polyethylene plastic net, (6) cement paper bag + CaCO3, and (7) cement paper bag + Aquastore. The results showed that plastic net packing material was the best with seed damages only 12%, stored for 45 days, with growing capacity in field was 96.0%, the plant height at 14, 28, 42, and 56 days after planting (dap) were 12.70 cm; 22.20 cm; 27.50 cm; and 33.10 cm respectively and the number of bulblet was 8.20. The wet-weight and dry-weight of the bulb were 120.5 and 84.83 g respectively. The closed packaging using cement paper, with absorber materials of lime stone or Aquastore indicated that shallot seedbulbs can be stored for 52 days with seed damaged of 13.0 and 15.5% respectively. The capacity to absorb humidity were 42.28% (lime stone) and 5.16% (Aquastore). Growing capacity of seedbulb in the field were 96.6% (lime stone) and 98.4% (Aquastore). Plant height at 14, 28, 42, and 56 dap were, 12.90, 18.20, 24.40, and 30.71 cm (lime stone absorber) and 12.80; 19.30; 24.50 and 39.66 cm (absorber Aquastore) respectively. Number of bulblet 7.95 (lime stone) and 8.10 bulblet (Aquastore). The wet-weight dry-weight of the bulb per plant were 115.0 and 82.10 g (lime stone absorber) and 111.0 and 80.50 g (Aquastore absorber) respectively.
Pengaruh Kemasan terhadap Daya Simpan Umbi Bibit, Pertumbuhan, dan Hasil Bawang Putih Raden Prasodjo Soedomo
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v16n4.2006.p%p

Abstract

ABSTRAK. Di Indonesia bawang putih sudah merupakan bumbu masakan yang merakyat. Untuk konsumsi saat ini sebagian besar umbi berasal dari impor, padahal banyak daerah dataran tinggi di Indonesia yang sangat baik untuk penanaman bawang putih. Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis pengemas yang terbaik guna memperpanjang daya simpan umbi bibit bawang putih serta pertumbuhan dan hasil di lapangan. Percobaan telah dilakukan di Laboratorium Benih, Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang (1.250 m dpl), pada bulan Oktober 2004–Februari 2005. Penelitian dilanjutkan di lapangan untuk observasi terhadap penampilan umbi bibit. Rancangan yang digunakan adalah acak lengkap untuk penelitian di laboratorium benih dan acak kelompok untuk penelitian di lapangan, dengan model rancangan petak terpisah, terdiri atas 4 ulangan dan 7 perlakuan. Perlakuan terdiri dari (1) kantong plastik + batu kapur, (2) kantong plastik + batu kapur (CaCO3) + O2, (3) kantong plastik + Aquastore, (4) kantong plastik + Aquastore + O2, (5) rajut plastik, (6) kantong kertas semen + batu kapur, dan (7) kantong kertas semen + Aquastore. Hasil menunjukkan bahwa pengemasan umbi bibit bawang putih yang berdampak terhadap pertumbuhan dan hasil terbaik adalah penggunaan jaring plastik dengan daya simpan 57 hari dan kerusakan 9,6%. Di lapangan tinggi tanaman pada umur 14, 28, 42, 56, dan 70 HST masing-masing adalah 6,00; 12,23; 30,00; 40,75; dan 49,0 cm, dengan daya tumbuh 87,60%. Bobot hasil per lubang tanaman 80,80 g, dan siung per umbi 10,80 buah, dan diameter umbi lapis 32,10 cm. Pengemas dalam kondisi tertutup dapat menggunakan kertas semen, dengan penyerap batu kapur maupun Aquastore, dengan nilai kerusakan pada penyimpanan masing-masing adalah 12,5 dan 11,00%, dan daya simpan masing-masing 62,0 hari. Di lapangan mempunyai daya tumbuh 92,80, 97,90% dan tinggi tanaman pada umur 14, 28, 42, 56, dan 70 HST masing masing adalah 6,90; 12,60; 30,90; 41,15; dan 49,27cm (penyerap kapur), dan 8,43; 14,50; 32,25; 42,50; dan 51,80 cm (penyerap Aquastore). Bobot umbi per lubang tanaman 78,60 dan 77,70 g, jumlah siung per lubang tanaman 10,60 dan 10,70 siung, dan diameter umbi lapis anakan 31,90 dan 30,66 cm.ABSTRACT. Soedomo, R.P. 2006. Effect of packaging materials on the keeping quality of seedbulbs, the growth, and yield performance of garlic. Garlic as cooking spices was widely used in Indonesia. Most of the garlic consumed was imported in fact that some potential higlands suitable for planting garlics were ignored. The objectives of the study were to find out the best packaging materials for seed bulbs and its impact to growth and yield in the field. The trial was conducted at the seed laboratory of Indonesian Vegetable Research Institute at Lembang (1,250 m asl) in October 2004-February 2005. The subsequent planting was done in the research field of the institute to observe the performance of the seedbulbs. The experimental design was CRD for storage laboratory study and RCBD for field observation, with a split plot design. There were 7 treatments and 4 replications. The treatments were (1) polyethylene wrap + CaCO3, (2) polyethylene wrap + CaCO3 + O2, (3) polyethylene wrap + Aquastore, (4) polyethylene wrap + Aquastore + O2, (5) polyethylene plastic net, (6) cement paper bag + CaCO3, and (7) cement paper bag + Aquastore. The results showed that the best packaging material was plastic net with seed bulb damages of 9.6%, and storage life of 57 days. The plant height at 14, 28, 42, 56, and 70 days after planting (dap) were 6.00, 12.23, 30.00, 40.75, and 49.0 cm respectively. The yield per plant was 80.80 g. Number of bulblet per bulb was 10.80, and diameter of bulb was 32.10 cm. Cement paper, with absorber materials of limestone and Aquastore showed damages of 12.5 and 11.0% respectively. The keeping quality stood for 62.0 days. The plant height at 14, 28, 42, 56, and 70 dap were 6.90, 12.60, 30.90, 41.15, and 49.27 cm (limestone absorber), and 8.43, 14.50, 32.25, 42.50, and 51.80 cm (Aquastore absorber) respectively. The plant survival in the field were 92.80 and 97.90%. The number of bulblets were 78.60 (limestone) and 77.70 (Aquastore).