Bambang Sakti Wiku Atmojo
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENINGGALAN KERAJAAN BANJAR DALAM PERSPEKTIF ARKEOLOGI Bambang Sakti Wiku Atmojo
Naditira Widya Vol 5 No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v5i2.74

Abstract

Abstrak. Saat ini, Kerajaan Banjar yang termashur di Kalimantan pada abad 16-19 Masehi sudah tidak ada lagi.Namun, dari segi arkeologis, sisa-sisa eksistensi kerajaan ini masih dapat direkonstruksi dari peninggalannya yangmasih dapat ditemukan saat ini. Persebaran peninggalan tersebut terdapat di wilayah Kota Banjarmasin, Martapura,dan Karang Intan. Tulisan ini membahas berbagai peninggalan Kerajaan Banjar yang masih dapat diidentifikasisampai saat ini. Hasil kajian arkeologis menunjukkan bahwa peninggalan yang masih ada adalah sejumlah masjidserta makam raja dan ulama.
MAKNA SUBTANTIF DAN ESTETIS PADA MAKAM RAJA-RAJA DI PANTAI TIMUR KALIMANTAN Bambang Sakti Wiku Atmojo
Naditira Widya Vol 2 No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7007.644 KB) | DOI: 10.24832/nw.v2i1.160

Abstract

In the east coast of Kalimantan, which stretches from north to south from districts of Bulungan, Berau, Kutai Kertanegara, Paser, Kotabaru, and Tanah Bumbu, archaeological remains of the Islamic periode are abundantly founds comprising palaces and the old burials. Evidences of the old sultanate grandeur are commemorated on a number of places. For instance, based on the result of 2000-2004 research, there were 21 burial compounds of the sultans burials discovered with rich carving on their grave markers and jirat. The carving indicate 6 varieties of design i.e. geometric, floral, arabesque, Arabic calligraphy, Latin scrip and lontarak. This article will discuss about the fundamental and aesthetic significance of ornamentation on the sultan’s burials on the east coast of Kalimantan. 
Arsitektur Atap Masjid Di Kalimantan Selatan Bambang Sakti Wiku Atmojo
Berkala Arkeologi Vol 21 No 2 (2001)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (934.286 KB) | DOI: 10.30883/jba.v21i2.842

Abstract

Atap masjid kuna di Kalimantan berdasarkan berdasarkan bentuknya hampir semuanya mempunyai bentuk yang mirip satu sama lain. Kesamaan tersebut terutama terletak pada bentuk atap bertingkat yang dikenal dengan nama atap tumpang. Hampir semua atap atap tumpang terbuat dari sirap. Kemuncak hampir semuanya berbentuk kubah, kecuali pada beberapa masjid, misalnya Masjid Wasah Hilir yang puncaknya hanya berupa hiasan bunga-bungaan. Bentuk kubah juga bermacam-macam, yaitu bentuk kubah bawang, kubah bulat, kubah yang berbentuk seperti topi, dan kubah segi enam.
ARSITEKTUR ATAP MASJID DI KALIMANTAN SELATAN Bambang Sakti Wiku Atmojo
Berkala Arkeologi Vol. 21 No. 2 (2001)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v21i2.842

Abstract

The roofs of ancient mosques in Kalimantan based on their shape are almost all similar to each other. The similarity mainly lies in the form of multi-storey roofs known as overlapping roofs. Almost all overlapping roofs are made of shingle. The peaks are almost all in the shape of a dome, except in some mosques, such as the Wasah Hilir Mosque whose peaks are only in the form of flower arrangements. The shape of the dome is also varied, namely the shape of the onion dome, the round dome, the dome shaped like a hat, and the hexagonal dome.