This Author published in this journals
All Journal Naditira Widya
ulce oktrivia
Balai Arkeologi Banjarmasin

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TEKNOLOGI, BENTUK, FUNGSI, DAN MOTIF HIAS TEMBIKAR DI ISTANA ALMUKARRAMMAH, SINTANG ulce oktrivia
Naditira Widya Vol 10 No 2 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 2 Oktober 2016
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2200.146 KB) | DOI: 10.24832/nw.v10i2.138

Abstract

Tembikar dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kepandaian teknologis dan aktivitas masyarakat pada masa lalu. Guna mengetahui hal tersebut, maka perlu diketahui tingkat teknologi tembikar, bentuk, dan motif hias tembikar, dan kaitan antara fungsi tembikar dan fungsi situs Istana Almukarrammah pada masa lalu. Permasalahan tersebut dijawab dengan menggunakan teknik pengamatan berdasarkan variabel jejak buat, warna, motif hias dan teknik hias. Selain itu juga dilakukan penggambaran dengan teknik mirror untuk bagian tepian tembikar. Tembikar Istana Almukarramah yang terdiri dari periuk, mangkuk, kendi, dan tembikar berbentuk persegi, dibentuk dengan tangan, alat, dan gabungan kedua teknik tersebut. Tidak semua bahan tanah liat dipilih dengan baik. Rata rata tembikar dibakar pada suhu yang rendah sampai sedang, meskipun terdapat beberapa yang dibakar pada suhu tinggi. Motif hias dan teknik yang digunakan sangat berfariasi. tembikar Istana Almukarramah keperluan sehari-hari dan media upacara. Hal ini dapat dilihat dari fungsi lokasi ini sebalum tahun 1932 adalah sebagai lokasi pemukiman. Sedangkan fungsi upacara didasarkan banyaknya temuan tembikar disekitar Batu Kundur. Dengan demikian dapat diketahui bahwa masyarakat yang membuat tembikar Istana Almukarramah rata-rata memiliki kepandaian dan pengetahuan teknologis antara rendah sampai sedang. Kegiatan yang pernah terjadi dilokasi ini adalah aktifitas kehidupan sehari hari, dan atifitas upacara yang terkait dengan Batu Kundur 
TIPOLOGI FACADE BANGUNAN DAN PERKEMBANGAN ARSITEKTUR KOLONIAL Dl SANGA·SANGA, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA* Ulce Oktrivia
Naditira Widya Vol 3 No 1 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.1
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8437.088 KB) | DOI: 10.24832/nw.v3i1.372

Abstract

Sanga Sanga is a city which was developed based on the growth of oil mining activities during the Dutch colonization in the east coast of Kalimantan. Archaeological researches indicated that Sanga Sanga was established as the centre of oil mining in the territory of the Sultanate of Kutai Kartanegara; other oil mining sites are Sanga Sanga, Angana, Semboja, Muara Badak, and Balikpapan. Being the centre of an oil mining activity, a number of mining facility were established such as housing, offices, storages, and public buildings. My observation suggests that each building indicate specific characteristics such as the fagade. This article discusses the typology of fagade in regard to the development of colonial architecture in Sanga Sanga.