Sondang Martini Siregar
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

JEJAK TANTRAYANA DI SITUS BUMIAYU Sondang Martini Siregar
Naditira Widya Vol 10 No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (955.674 KB) | DOI: 10.24832/nw.v10i1.174

Abstract

Agama Hindu Buddha mengenal aliran Tantrayana. Aliran ini bersifat gaib dan diajarkan secara lisan kepadapemeluknya. Aliran ini pernah berkembang di Nusantara dan sisa-sisa arca yang dipuja masih ditemukan di beberapa situsdi Indonesia. Aliran Tantrayana juga berkembang di situs Bumiayu. Selanjutnya, permasalahan yang muncul adalahbagaimana penggambaran arca Tantrayana yang ada di Bumiayu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis danciri arca Tantrayana di situs Bumiayu, dan hubungannya dengan arca Tantrayana lainnya di Pulau Sumatera (PadangLawas dan Sungai Langsat). Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah kualitatif yang bersifat deskriptif denganpenalaran induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa awal perkembangan agama Hindu di Bumiayu berkisar pada abadke-9 Masehi, yang selanjutnya mendapat pengaruh aliran Tantrayana. Arca dengan aliran Tantrayana digambarkan dalambentuk menyeramkan dan memiliki hiasan tengkorak. Umat Hindu melakukan upacara Tantrayana dengan tujuan untukmelindungi daerah Bumiayu dari serangan Raja Kertanegara yang melakukan ekspedisi Pamalayu ke Sumatera pada tahun1275
JEJAK TANTRAYANA DI SITUS BUMIAYU Sondang Martini Siregar
Naditira Widya Vol. 10 No. 1 (2016): Naditira Widya Volume 10 Nomor 1 April Tahun 2016
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Agama Hindu Buddha mengenal aliran Tantrayana. Aliran ini bersifat gaib dan diajarkan secara lisan kepada pemeluknya. Aliran ini pernah berkembang di Nusantara dan sisa-sisa arca yang dipuja masih ditemukan di beberapa situs di Indonesia. Aliran Tantrayana juga berkembang di situs Bumiayu. Selanjutnya, permasalahan yang muncul adalah bagaimana penggambaran arca Tantrayana yang ada di Bumiayu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan ciri arca Tantrayana di situs Bumiayu, dan hubungannya dengan arca Tantrayana lainnya di Pulau Sumatera (Padang Lawas dan Sungai Langsat). Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah kualitatif yang bersifat deskriptif dengan penalaran induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa awal perkembangan agama Hindu di Bumiayu berkisar pada abad ke-9 Masehi, yang selanjutnya mendapat pengaruh aliran Tantrayana. Arca dengan aliran Tantrayana digambarkan dalam bentuk menyeramkan dan memiliki hiasan tengkorak. Umat Hindu melakukan upacara Tantrayana dengan tujuan untuk melindungi daerah Bumiayu dari serangan Raja Kertanegara yang melakukan ekspedisi Pamalayu ke Sumatera pada tahun 1275.Hindu-Buddhist religion had known Tantrayana stream. Tantrayana was supernatural and had been taughtorally to its adherents. This stream had ever grown in the archipelago and the remains of revered statues were found in several sites in Indonesia. Tantrayana had also developed in Bumiayu site. An important issue is how the depiction of Hindu-Tantric statues in Bumiayu. This study aims to gain the types and characterictics of Hindu-Tantric statues in Bumiayu, and its relationship with other Tantric statues found in Sumatera (Padang Lawas and Sungai Langsat). The method used in this research is a qualitative method, by descriptive analysis and inductive reasoning. The result showed that the development of Hindu in Bumiayu began during 9th century, and then It had gotten Tantrayana influence. Some Hindu-Tantric statues were depicted in horrific form with skull ornaments. The aim of Hindu-Tantric follower performed their religious ceremonies was to protect Bumiayu from Kertanegara attack who did Pamalayu expedition to Sumatera in 1275.