This Author published in this journals
All Journal Naditira Widya
Nugroho Nur Susanto, S.S.
Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TOPONIMI BENTENG PENGARON DAN PERISTIWA AWAL PERANG BANJAR (THE TOPONYM OF PENGARON FORTRESS AND THE INITIAL EVENT OF THE BANJAR WAR) Nugroho Nur Susanto, S.S.
Naditira Widya Vol 12 No 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3188.491 KB) | DOI: 10.24832/nw.v12i2.311

Abstract

Toponimi ‘benteng’ merupakan nama desa di wilayah Kecamatan Pengaron, in Kalimantan Selatan. Toponimi tersebut diyakini berhubunan dengan keberadaan benteng Belanda ‘Pengaron’ yang diakui sebagai lokasi  awal meletusnya perang Banjar atau perang Barito.  Penelitian ini bertujuan untuk menemukan kembali kawasan Benteng Pengaron yang asli. Penelitian ini menggunakan metode induktif-deskriptif dan teknik pengumpulan data melalui survei, ekskavasi, dan wawancara. Hasil ekskavasi berupa dua struktur bata yang merupakan bagian dari fondasi rumah. Selain bukti-bukti arkeologis berupa struktur bangunan yang  menguatkan hubungan toponimi dan Benteng Pengaron, masih perlu dilakukan kajian arsip tua atau sumber tertulis yang mendukung keeratan hubungan tersebut. The toponym ‘benteng’ is a name of a village in Kecamatan Pengaron, in Kalimantan Selatan. The toponym is suggested to be associated with the existence of the Dutch fortress ‘Pengaron’ which is recognized as the location of the initial outbreak of the Banjar or Barito War. This study aims to rediscover the original Pengaron fort area. This study uses inductive-descriptive methods and data collection techniques by surveys, excavations and interviews. The excavation yielded two brick structures that are parts of a house foundation. Besides the archaeological evidence of building structures that strengthen the relationship between the toponym and Pengaron fort, it is necessary to undertake a study on old archives or written resources that supports the strong relationship between both data.
PENTINGNYA MONUMEN DWIKORA DAN KESEJARAHANNYA (THE SIGNIFICANCE OF DWIKORA MONUMENT AND ITS HISTORY Nugroho Nur Susanto, S.S.
Naditira Widya Vol 13 No 2 (2019): NADITIRA WIDYA
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (895.03 KB) | DOI: 10.24832/nw.v13i2.398

Abstract

Pada saat ini jiwa patriotisme dan sifat kepahlawanan cenderung memudar, sedangkan figur dan sosok teladan mulai langka. Dengan demikian perlu kehadiran sosok pengganti yang dapat memberi nuansa peristiwa perjuangan dan kepahlawanan. Sosok berupa aspek bendawi itu dapat berupa tugu peringatan atau monumen. Monumen ini walaupun dibuat lebih kemudian diharapkan dapat mewakili semangat dan keteladanan. Melalui metode induktif dengan mengkompilasikan sumber sejarah dan bukti-bukti arkeologi yang lain, diungkapkan peristiwa dan makna masa lalu tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk menggali nilai penting aspek ideologis dari tinggalan arkeologi berupa monumen Dwikora. Penelitian ini dapat membantu kita untuk mengungkapkan, menjelaskan, dan mendesain ulang peristiwa masa lalu. Di daerah perbatasan selain masalah ekonomi, ada persoalan yang tak kalah mendesak, yaitu nasionalisme. Monumen Dwikora di Nunukan, Kalimantan Utara, hampir musnah karena terdesak oleh perbedaan kepentingan, demikian pula kisah sejarahnya. Deskripsi kasus di Nunukan ini dihadirkan dalam upaya penanganan dan menakar nilai penting suatu cagar budaya.Today the soul of patriotism and the nature of heroism tends to fade, while figures and role models are becoming scarce. Thus, it is necessary to have a substitute figure that can give the nuances of the struggle and heroism. The figure in the form of material aspects can be a monument or monument. The monument although made later is expected to represent enthusiasm and example. Through the inductive method by compiling historical sources and other archeological evidence, the events and meanings of the past are revealed. This research was conducted to explore the importance of the ideological aspects of the archeological remains of the Dwikora monument. This research can help us to express, explain, and redesign past events. In border areas besides economic problems, there is a problem that is no less urgent, namely nationalism. The Dwikora monument in Nunukan, North Kalimantan, was almost destroyed because it was pressured by differences in interests, as did its historical story. A description of the case in Nunukan needs to be presented in an effort to handle and measure the importance of a cultural property.Â