This Author published in this journals
All Journal Naditira Widya
Vida Pervaya Rusianti Kusmartono
Balai Arkeologi Banjarmasin

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

TIWAH: THE ART OF DEATH IN SOUTHERN KALIMANTAN Vida Pervaya Rusianti Kusmartono
Naditira Widya Vol 1 No 2 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.2
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5182.532 KB) | DOI: 10.24832/nw.v1i1.344

Abstract

Kelompok etnis Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah masih memelihara adat mengelola kematian, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kepercayaan Kaharingan. Kelompok etnis Dayak Ngaju (or Ngaju) terbagi lagi menjadi beberapa sub-kelompok keci/. Praktek mengelola kematian menekankan gagasan tentang hubungan kehidupan di alam maya dan alam baka yang dapat mempengaruhi kesejahteraaan manusia yang masih hidup. Fokus pengelolaan kematian ini adalah upacara kematian Tiwah. Kegiatan pengelolaan kematian merupakan suatu karya manusia sebagai realisasi pemenuhan aspek spiritual kepada yang lebih berkuasa atas hidup man usia dan aspek sosial kepada sesama manusia dan lingkungan di sekitarnya. Artikel ini akan membahas kosmologi dan praktek Tiwah di salah satu sub-kelompok kecil ini mendiami daerah Pendahara pada Sungai Katingan. Tujuan pembahasan terse but adalah agar dapat mengerti bentuk karya, representasi dari karya, dan konteks sosial karya tersebut.
WARISAN MULAVARMMAN: MAKNA DAN KEBIJAKAN STRATEGIS Vida Pervaya Rusianti Kusmartono
Naditira Widya Vol 2 No 2 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.2
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13405.778 KB) | DOI: 10.24832/nw.v2i2.349

Abstract

Every individual who has attended a 12-years-elementary education must be familiar with the lndic influenced name of "MOiavarmman", which marked the commencement of the historical era of the Indonesian Archipelago in early 4th Century. The written evidence of MOiavarmman's existence is inscribed on six of the seven yOpa of Muara Kaman. Besides the seven yOpa, archaeological traces of Hinduism are also discovered in settlement pouches along the Mahakam River Basin up to the upper river in the west and north. Nevertheless, the relationship among those material cultures is still a mystery; whether they can be identified as Oiavarmman's heritage is a question which needs further meticulous analysis for liable answers. Despite the present mystery, this article will discuss a glimpse of cultural occurrences in the eastern region of Kalimantan based on local narratives, the archaeological evidences of Hinduism on the Mahakam River Basin and their significance, and the strategic policy to accomplish the preservation-based benefiting from archaeological resources.
SAPUNDU: MORTUARY POST ON THE SERANAU AND CEMPAGA RIVER BASINS Vida Pervaya Rusianti Kusmartono
Naditira Widya Vol 1 No 1 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.1
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13866.161 KB) | DOI: 10.24832/nw.v1i1.365

Abstract

Sifat sosial manusia dalam lingkup kegiatan kematian secara umum adalah upaya mengingat orang yang meninggal. Salah satu cara adalah membuat tanda-tanda yang mencirikan atau mengingatkan 'yang masih hidup' akan si mati. Salah satu contoh nyata pembuatan tanda-tanda kematian dilakukan oleh masyarakat Ngaju di Kalimantan Tengah yang masih memiliki keyakinan Kaharingan yang kuat dengan upacara kematiannya, Tiwah. Pada masyarakat Ngaju di Oaerah A/iran Sungai Seranau dan Cempaga, kegiatan kematian selalu diiringi dengan pendirian sapundu. Fungsi utama sapundu adalah tiang penambat binatang yang akan dikurbankan dalam Tiwah. Namun, ternyata sapundu memiliki makna sosial-religius yang lebih luas daripada fungsi teknisnya sebagai sekedar tiang tambat kurban. Terdapat beberapa jenis, fungsi dan makna sapundu yang dapat diidentifikasi berdasarkan sifat, orientasi dan lokasi penempatan sapundu. Tulisan ini akan membahas karakteristik sapundu pada Daerah  Aliran Seranau dan Cempaga yang ditinjau dari aspek dimensi, pose, gender dan ornamen, serta orientasi.