Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

SUMPING PENCIRI KESENIAN ARCA MASA KADIRI – SINGHASARI Muhamad Satok Yusuf
Naditira Widya Vol 15 No 1 (2021): NADITIRA WIDYA VOLUME 15 NOMOR 1 APRIL 2021
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v15i1.456

Abstract

Peradaban masa Hindu-Buddha, berdasarkan tinggalan arkeologinya, merupakan puncak kebudayaan Indonesia. Kerajaan Kadiri dan Kerajaan Singhasari menempati satu ruang kesejajaran sebagai masa-masa puncak kesenian di Jawa Timur, yang ditandai oleh tinggalan arkeologi berupa arca yang dipahatkan secara halus, indah, dan detail. Penggarapan arca mengikuti pakem ikonografi, khususnya pada laksana dan wahana. Walaupun begitu, kebebasan berekspresi si artis dalam penggarapan arca dapat dilihat pada penggambaran perhiasannya, salah satunya adalah sumping. Oleh karena itu, melalui sumping dapat dirunut identitas kesenian pada masa Kadiri-Singhasari, khususnya tipo-morfologi, fungsi, dan makna sumping. Penelitian tentang sumping pada masa Hindu-Buddha sangat jarang dikemukakan secara mendalam. Penelitian ini bersifat kualitatif, tetapi menggunakan analisis kuantitatif dalam bentuk tabulasi dan klasifikasi khusus berdasarkan data yang telah dikumpulkan melalui observasi dan kajian pustaka. Teori mimesis dan kreativitas digunakan untuk mengkaji perkembangan tipo-morfologi sumping pada masa Kadiri-Singhasari. Penggunaan karya sastra sezaman merupakan hal yang penting sebagai pembanding untuk memahami pemaknaan sumping, baik secara profan maupun sakral. Hasil penelitian menunjukkan sumping pada masa Kadiri-Singhasari dibagi menjadi empat tipe, yaitu A, B1, B2, dan C. Tipe B2 dan tipe C merupakan pengembangan yang terjadi pada masa Singhasari. Sumping pada arca menunjukkan fungsinya sebagai hiasan telinga dan media peribadatan. Penggunaan sumping merupakan simbol religio-magis dari pengultusan bunga dalam agama Hindu dan Buddha.
Arca-Arca dan Candi Sumbernanas di Blitar Sebagai Karya Seni Masa Kadiri Muhamad Satok Yusuf
Tumotowa Vol 4 No 2 (2021): Tumotowa
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/tmt.v4i2.107

Abstract

Kesenian pada masa Kerajaan Kadiri menempati posisi antara kesenian pada masa Klasik Tua dengan Klasik Muda. Penelitian terhadap tinggalan arkeologi pada masa Kadiri cukup jarang dilakukan sebab minimnya data pendukung. Salah satu tinggalan yang diduga kuat berasal dari masa Kadiri adalah arca-arca dan Candi Sumbernanas di Blitar. Penelitian ini berupaya menganalisis arca-arca dan Candi Sumbernanas sebagai karya seni dari masa Kadiri, melalui proses pengumpulan data berupa observasi dan kajian pustaka. Analisis yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui kajian ikonografi dan perbandingan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa arca-arca dari Candi Sumbernanas, khususnya arca Caturmuka memiliki kesamaan ikonografi dan langgam pemahatan dengan arca Caturmuka dari Candi Gurah dan Tondowongso yang berasal dari periode Kadiri. Candi Sumbernanas juga termasuk karya seni dari masa Kadiri berdasarkan perbandingan denah, ornamen, dan arah hadap bangunan yang menunjukkan periode bangunan suci antara Klasik Tua dengan Klasik Muda, serta konsep candi merupakan bangunan yang melindungi arca (dewagṛha).
SUMPING PENANDA KESENIAN ARCA PADA MASA KADIRI – SINGHASARI Muhamad Satok Yusuf
Naditira Widya Vol. 15 No. 1 (2021): Naditira Widya Volume 15 Nomor 1 April Tahun 2021
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peradaban masa Hindu-Buddha, berdasarkan tinggalan arkeologinya, merupakan puncak kebudayaan Indonesia. Kerajaan Kadiri dan Kerajaan Singhasari menempati satu ruang kesejajaran sebagai masa-masa puncak kesenian di Jawa Timur, yang ditandai oleh tinggalan arkeologi berupa arca yang dipahatkan secara halus, indah, dan detail. Penggarapan arca mengikuti pakem ikonografi, khususnya pada laksana dan wahana. Walaupun begitu, kebebasan berekspresi si artis dalam penggarapan arca dapat dilihat pada penggambaran perhiasannya, salah satunya adalah sumping. Oleh karena itu, melalui sumping dapat dirunut identitas kesenian pada masa Kadiri-Singhasari, khususnya tipo-morfologi, fungsi, dan makna sumping. Penelitian tentang sumping pada masa Hindu-Buddha sangat jarang dikemukakan secara mendalam. Penelitian ini bersifat kualitatif, tetapi menggunakan analisis kuantitatif dalam bentuk tabulasi dan klasifikasi khusus berdasarkan data yang telah dikumpulkan melalui observasi dan kajian pustaka. Teori mimesis dan kreativitas digunakan untuk mengkaji perkembangan tipo-morfologi sumping pada masa Kadiri-Singhasari. Penggunaan karya sastra sezaman merupakan hal yang penting sebagai pembanding untuk memahami pemaknaan sumping, baik secara profan maupun sakral. Hasil penelitian menunjukkan sumping pada masa Kadiri-Singhasari dibagi menjadi empat tipe, yaitu A, B1, B2, dan C. Tipe B2 dan tipe C merupakan pengembangan yang terjadi pada masa Singhasari. Sumping pada arca menunjukkan fungsinya sebagai hiasan telinga dan media peribadatan. Penggunaan sumping merupakan simbol religio-magis dari pengultusan bunga dalam agama Hindu dan Buddha. The Hindu-Buddhist civilization, based on its archaeological remains, is the pinnacle of Indonesian culture. The kingdoms of Kadiri and the Singhasari had simultaneously hit their artistic peak in East Java, which was marked by finely beautiful, sculpted, and detailed statues. Sculpting a statue during the classical period in Indonesia followed Hindu-Buddhist iconography standards, especially regarding ‘laksana’ (attributes) and ‘wahana’ (rides). Even so, the artist’s freedom of expression in sculpting a statue was depicted by the adornments of the statue, one of which is the sumping. Therefore, through sumping, the identity of the arts with regard to typo-morphology, function, and meaning of sumping, during the Kadiri-Singhasari period can be traced. In-depth research on sumping from the Hindu-Buddhist period has rarely been done. This is qualitative research but uses quantitative analysis in the form of tabulations and special classifications, based on data collected through observation and literature review. The theories of mimesis and creativity were used to study the development of the typo-morphology of sumping during the Kadiri-Singhasari period. The use of contemporary literary works was important as a comparison to understand the significance of sumping, whether profane or sacred. The results showed that during the Kadiri-Singhasari period sumping was divided into four types, i.e. A, B1, B2, and C. Types B2 and C were developments that occurred during the Singhasari period. Sumping showed its function both as ear adornment and a means of worship. The use of sumping is a religious-magical symbol of glorifying flowers in Hinduism and Buddhism