ABSTRAKHujan lebat terjadi di desa Kuta limbaru, Kecamatan Kutalimbaru, Deli Serdang, Sumatera Utara tanggal 26 Juli 2020 pukul 09.00 UTC (16.00 WIB). Berdasarkan website dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kejadian ini menghanyutkan 9 orang (8 ditemukan dan 1 meninggal dunia). Penelitian ini menggunakan data citra dan reanalisis penginderaan jauh dari Satelit Himawari-8. Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan software SATAID dan GRADS. Data kemudian disajikan dalam bentuk grafik/time series, tabel, dan peta spasial. Hasil data berupa grafik/time series dan peta suhu puncak awan menunjukkan bahwa terjadi penurunan suhu awan ≤-50oC sehingga membentuk awan-awan konvektif berupa awan Cumulonimbus dimulai dari pukul 05.50 UTC (12.50 WIB) hingga meluruh pukul 10.30 UTC (17.30 WIB). Hasil data indeks stabilitas atmosfer di lokasi kejadian menunjukkan bahwa terjadi ketidakstabilan atmosfer sebelum terjadinya hujan lebat. Hal ini menjadi pendorong dalam mempercepat pertumbuhan awan-awan Cumulonimbus (Cb). Peta streamline angin dan vortisitas memperlihatkan bahwa terjadi pertemuan massa udara dari arah yang berbeda dan pembentukan sirkulasi aliran fluida angin siklonik sehingga menimbulkan konvergensi saat terjadinya hujan lebat.Kata kunci: Hujan Lebat, Himawari-8, SATAID, Awan Konvektif ABSTRACTHeavy rain occurred in Kuta limbbaru village, Kutalimbaru sub-district, Deli Serdang, North Sumatra on July 26, 2020 at 09.00 UTC (16.00 WIB). Based on the website of the Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), this incident swept away 9 people (8 found and 1 person died). This study uses image data and remote sensing reanalysis from the Himawari-8 Satellite. The data obtained were processed using SATAID and GRADS software. The data is then presented in the form of graphs/time series, tables, and spatial maps. The data results in the form of graphs/time series and cloud top temperature maps show that there is a decrease in temperature of ≤-50oC so as to form convective clouds in the form of Cumulonimbus clouds starting at 05.50 UTC (12.50 WIB) until decaying at 10.30 UTC (17.30 WIB). The results of the occurrence of atmospheric index data at the location of the incident indicate that the instability of the atmosphere before heavy rains. This is the driving force for the growth of Cumulonimbus (Cb) clouds. Wind streamline maps and vortices show that the meeting of air masses from different directions and the formation of cyclonic wind fluid flow circulation, causing convergence during heavy rains.Keywords: Heavy Rain, Himawri-8, SATAID, Convective Cloud