Duddy Fachrudin
Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Episode Depresif Berat dengan Gejala Psikotik (Studi Kasus dalam Perspektif Psikologi dengan Pendekatan Teori Kognitif Beck) Duddy Fachrudin
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 5, No 2 (2019): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Episode depresif berat dengan gejala psikotik merupakan bentuk dari depresi berat yang disertai gejala psikotik yang khas seperti waham atau delusi non-bizarre nihilistik, somatik, kemiskinan, ketidakberhargaan, atau adanya keyakinan-keyakinan delusional tentang perasaan bersalah dan sedang dihukum, serta kadang-kadang muncul halusinasi. Keyakinan-keyakinan delusional pada penderita episode depresif dengan gejala psikotik merupakan suatu distorsi kognitif, sebuah pola berpikir yang rancu dan menimbulkan kesalahan secara negatif yang meningkatkan kerentanan terhadap depresi. Studi kasus ini mengkaji klien yang didiagnosis episode depresif berat dengan gejala psikotik dari sudut pandang psikologi dengan pendekatan Teori Kognitif Beck. Seorang laki-laki bernama G, berusia 45 tahun mengurung diri dan tidak mau bertemu dengan saudara-saudaranya. Klien tidak mau mandi serta tidak shalat. Klien merasa ia tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Menurut kakak, adik ipar, dan istri klien, klien pernah mengalami kecelakaan ketika bekerja di pabrik dan saat mengendarai sepeda motor sehingga kondisi fisiknya menurun. Klien lalu mendapatkan pemutusan hubungan kerja. Kondisi kejiwaannya terganggu. Hasil integrasi tes psikologi menunjukkan bahwa klien memiliki depresi dan kecemasan berlebihan. Teori kognitif Beck mengenai depresi mencantumkan tiga aktivitas kognitif yang mendasari munculnya sebuah gangguan, yaitu: a) negative triad (pandangan pesimistik terhadap diri sendiri, dunia, dan masa depan); b) skema atau keyakinan negatif yang dipicu oleh peristiwa/ situasi kehidupan negatif; dan c) distorsi kognitif. Negative triad berupa pandangan klien bahwa ia telah gagal, sedang dihukum, dan tidak bisa melakukan apa-apa di masa depan. Skema atau keyakinan negatif klien, yaitu meyakini bahwa karena sakitnya yang dialaminya tersebut membuatnya tidak berdaya. Distorsi Kognitif dalam bentuk overgeneralisasi, yaitu“Saya tidak bisa melakukan apa-apa lagi”. Kata Kunci: depresi, gejala psikotik, keyakinan delusional, Teori Kognitif Beck, negative triad Severe depressive episodes with psychotic symptoms are a form of major depression accompanied by typical psychotic symptoms such as delusions or nihilistic, non-bizarre delusions, somatic, poverty, worthlessness, or delusional beliefs about guilt and being punished, and sometimes appear hallucination. Delusional beliefs in people with depressive episodes with psychotic symptoms are a cognitive distortion, a pattern of thinking that is ambiguous and negatively causes errors that increase susceptibility to depression. This case study discusses clients diagnosed with severe depressive episodes with psychotic symptoms from a psychological perspective with Beck’s Cognitive Theory approach. A 45-year-old man named G locked himself in and didn't want to see his brothers and sisters. Clients did not want to shower and did not pray. The client feels he could not do anything else. According to the brother, sister-in-law, and client's wife, the client had an accident while working in a factory and while riding a motorcycle so that his physical condition declined. The client then gets terminated in work. His mental condition is disturbed. The results of the integration of psychological tests show that the client has depression and excessive anxiety. Beck's cognitive theory of depression lists three cognitive activities that underlie the emergence of a disorder, namely: a) negative triads (pessimistic views of yourself, the world, and the future); b) negative schemes or beliefs triggered by negative life events/ situations; and c) cognitive distortion. Negative triad is the client's view that he has failed, is being punished, and cannot do anything in the future. The client's negative schema or belief, which is to believe that because of the pain he is experiencing makes him helpless. Cognitive Distortion in the form of overgeneralization, which is "I can't do anything else". Keywords: depression, psychotic symptoms, delusional beliefs, Beck’s Cognitive Theory, negative triads
Skizofrenia Simpleks (sebuah studi kasus perspektif psikologi) Duddy Fachrudin
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 4, No 1 (2018): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSkizofrenia simpleks merupakan suatu tipe skizofrenia yang tidak lazim yang dicirikan pada perkembangan yang perlahan, namun bersifat progresif dari gejala negatif skizofrenia, seperti ketidakmampuan untuk memenuhi tuntutan masyarakat, dan penurunan kinerja secara menyeluruh. Tidak seperti tipe skizofrenia lainnya (hebefrenik, paranoid, dan katatonik), skizofrenia simpleks sulit ditemukan dan ditentukan diagnosisnya. Diagnostic and Statistical Manual (DSM) V menghapus diagnosis untuk skizofrenia simpleks, namun dalam Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa (PPDGJ) III dan International and Classification Diseases (ICD)-10 masih disertakan. Studi kasus ini membahas pasien yang didiagnosis skizofrenia simpleks dengan diagnosis pembandingnya episode depresif berat dengan gejala psikotik. Seorang laki-laki bernama AY, berusia 28 tahun, dan tidak tamat sekolah dasar tidak memiliki figur ayah. Klien AY pernah bekerja secara wajar serta menyukai lawan jenis. Kemunduran fungsi psikologis kemudian terjadi. Simtom negatif dari skizofrenia pada AY sangat menonjol, yaitu sedikit berbicara, afek datar, menarik diri dari pergaulan sosial, minat dan ambisi kurang, dan dorongan vitalitas rendah. AY memiliki ide atau pikiran-pikiran bahwa dirinya bersalah, berdosa, dan memandang sesuatu tampak kotor sehingga terdapat perilaku mencuci yang berulang-ulang. Hasil integrasi tes psikologi menjukkan tanda-tanda patologis, yaitu depresi, cemas berlebihan, dan gangguan afek. Dinamika psikologi AY menunjukkan beberapa pengalaman traumatik pada masa kecil yang direpres. Konflik yang berkembang dengan ibu sehingga menghasilkan kompleks antara ego alien dengan ego.Kata kunci: skizofrenia simpleks, simtom negatif, diagnosis, egoABSTRACTSimple Schizophrenia is an unusual type of schizophrenia characterized by slow, progressive development of negative symptoms of schizophrenia, such as inability to meet community demands, and overall performance degradation. Unlike other types of schizophrenia (hebephrenic, paranoid, and catatonic), simple schizophrenia is difficult to determine the diagnosis. Diagnostic and Statistical Manual (DSM) V cleared the diagnosis for simple schizophrenia, but in the Mental Disorder Diagnostic Classification Guidelines (MDDCG) III and International and Classification Diseases (ICD) -10 are included. This case study discusses patients diagnosed with simple schizophrenia with a comparative diagnosis of severe depressive episodes with psychotic symptoms. A man named AY, aged 28 years, and did not finish primary school has no father figure. He has worked fairly and liked the woman. The decline of psychological function then occurs. The negative symptoms of schizophrenia in AY are very prominent, ie, little speech, flat affects, withdrawal from social intercourse, lack of interest and ambition, and low vitality drive. AY has ideas or thoughts that he is guilty, sinful, and looks at something so dirty that there is repetitive washing behavior. The integration result of psychological tests shows pathological signs, such as depression, anxiety, and affective disorders. The psychological dynamics of AY shows some traumatic experiences in childhood that are repressed. Conflict that develops with the mother so as to produce a complex between alien ego with ego.Keywords: schizophrenia simplex, negative symptom, diagnosis, ego
PERSEPSI TINGKAT KESIAPAN DOKTER MUDA DI ROTASI KLINIK DALAM PROGRAM PROFESI DOKTER DI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI Isney Hanindya; Duddy Fachrudin; Ouve Rahadiani
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 8, No 2 (2022): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Persepsi merupakan suatu proses yang ada pada individu dalam mengelola dan menafsirkan gambaran indra mereka dalam memberikan makna dalam lingkungan mereka. Dalam hal ini, perilaku mahasiswa didasarkan pada persepsi mereka mengenai apa realitas yang ada, bukan mengenai realitas itu sendiri, tetqpi dengan apa yang akan mereka akan hadapi pada rotasi klinik. Tujuan: Untuk mengetahui persepsi tingkat kesiapan dokter muda di rotasi klinik dalam program profesi dokter. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini menggunakan kuesioner yang sudah tervalidasi yang terbagi menjadi lima kategori yaitu; masa transisi dan sosialisasi profesi, beban kerja, kontak dengan pasien, aplikasi pengetahuan dan keterampilan, pembelajaran dan pendidikan. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada fase transisi, mayoritas mahasiswa mempunyai persepsi yang baik terlihat dari mayoritas mahasiswa yang merasa siap untuk memulai pelatihan, dan mahasiswa mampu bekerja sama dengan sesama koas maupun staf klinis lainnya. Namun, mahasiswa mempunyai persepsi yang buruk mengenai beban kerja  di mana mahasiswa menganggap bahwa jam kerjanya terlalu panjang dan Ada perbedaan yang besar antara beban kerja pre-klinik dan klinik/ klerk/ koas. Mayoritas mahasiswa mempunyai persepsi baik mengenai kontak pasien dimana mahasiswa merasa mudah saat harus kontak langsung dengan pasien dan merangsang mahasiswa untuk belajar, mereka menganggap bahwa kontak dengan pasien akan meningkatkan pengetahuan karena mudah diingat. Dari segi pengetahuan dan skill mahasiswa merasa adanya pembelajaran yang didapat pada fase pre-klinik relevan dengan tahap klinik.  Dan mayoritas mahasiswa melakukan belajar mandiri, dan lebih giat dalam belajar dibandingkan sebelum koas. Kesimpulan: persepsi tingkat kesiapan dokter muda di rotasi klinik dalam program profesi dokter di Universitas Swadaya Gunung Jati, mayoritas mahasiswa memiliki persepsi baik.Kata Kunci: persepsi mahasiswa, kesiapan mahasiswa, rotasi klinik.ABSTRACTBackground: Perception is a process on which individuals manage and interpret their senses in providing meaning to their environment. In this case, student behavior reflects their perception of what reality is, instead of about reality itself, with what they will face in clinical clerkship. Objective: To analyze students’ perceptions of the readiness egree for clinical clerkship. Method: This study used a quantitative approach with a validated questionnaire divided into five categories, namely the transition period and professional socialization, workload, contact with patients, application of knowledge and skills, learning and education.  Results: The results of this study show that in the transition phase most medical students have a good perception. This can be seen that they felt ready to start training, were able to work in team with their fellow medical students and other clinical staffs. However, they had bad perceptions about workloads by considering that working hours were too long and there was a big difference between pre-clinical and clinical/clerical/resident workloads. On the other hand, most medical students had a good perception of patient contact by considering it easy to have direct contact with patients and stimulate them to learn. In addition, they assumed that contact with patients would increase their knowledge since it was easy to remember. In terms of knowledge and skills, medical students felt that the learning gained in the pre-clinical phase was relevant to the clinical stage. In this case, most medical students studied independently and were more active in learning than before being the medical students. Conclusion: Most medical student had good perception of the readiness degree for the clinical clerkship. Keywords: perception, readiness, clinical clerkship