Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Episode Depresif Berat dengan Gejala Psikotik (Studi Kasus dalam Perspektif Psikologi dengan Pendekatan Teori Kognitif Beck) Duddy Fachrudin
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 5, No 2 (2019): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Episode depresif berat dengan gejala psikotik merupakan bentuk dari depresi berat yang disertai gejala psikotik yang khas seperti waham atau delusi non-bizarre nihilistik, somatik, kemiskinan, ketidakberhargaan, atau adanya keyakinan-keyakinan delusional tentang perasaan bersalah dan sedang dihukum, serta kadang-kadang muncul halusinasi. Keyakinan-keyakinan delusional pada penderita episode depresif dengan gejala psikotik merupakan suatu distorsi kognitif, sebuah pola berpikir yang rancu dan menimbulkan kesalahan secara negatif yang meningkatkan kerentanan terhadap depresi. Studi kasus ini mengkaji klien yang didiagnosis episode depresif berat dengan gejala psikotik dari sudut pandang psikologi dengan pendekatan Teori Kognitif Beck. Seorang laki-laki bernama G, berusia 45 tahun mengurung diri dan tidak mau bertemu dengan saudara-saudaranya. Klien tidak mau mandi serta tidak shalat. Klien merasa ia tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Menurut kakak, adik ipar, dan istri klien, klien pernah mengalami kecelakaan ketika bekerja di pabrik dan saat mengendarai sepeda motor sehingga kondisi fisiknya menurun. Klien lalu mendapatkan pemutusan hubungan kerja. Kondisi kejiwaannya terganggu. Hasil integrasi tes psikologi menunjukkan bahwa klien memiliki depresi dan kecemasan berlebihan. Teori kognitif Beck mengenai depresi mencantumkan tiga aktivitas kognitif yang mendasari munculnya sebuah gangguan, yaitu: a) negative triad (pandangan pesimistik terhadap diri sendiri, dunia, dan masa depan); b) skema atau keyakinan negatif yang dipicu oleh peristiwa/ situasi kehidupan negatif; dan c) distorsi kognitif. Negative triad berupa pandangan klien bahwa ia telah gagal, sedang dihukum, dan tidak bisa melakukan apa-apa di masa depan. Skema atau keyakinan negatif klien, yaitu meyakini bahwa karena sakitnya yang dialaminya tersebut membuatnya tidak berdaya. Distorsi Kognitif dalam bentuk overgeneralisasi, yaitu“Saya tidak bisa melakukan apa-apa lagi”. Kata Kunci: depresi, gejala psikotik, keyakinan delusional, Teori Kognitif Beck, negative triad Severe depressive episodes with psychotic symptoms are a form of major depression accompanied by typical psychotic symptoms such as delusions or nihilistic, non-bizarre delusions, somatic, poverty, worthlessness, or delusional beliefs about guilt and being punished, and sometimes appear hallucination. Delusional beliefs in people with depressive episodes with psychotic symptoms are a cognitive distortion, a pattern of thinking that is ambiguous and negatively causes errors that increase susceptibility to depression. This case study discusses clients diagnosed with severe depressive episodes with psychotic symptoms from a psychological perspective with Beck’s Cognitive Theory approach. A 45-year-old man named G locked himself in and didn't want to see his brothers and sisters. Clients did not want to shower and did not pray. The client feels he could not do anything else. According to the brother, sister-in-law, and client's wife, the client had an accident while working in a factory and while riding a motorcycle so that his physical condition declined. The client then gets terminated in work. His mental condition is disturbed. The results of the integration of psychological tests show that the client has depression and excessive anxiety. Beck's cognitive theory of depression lists three cognitive activities that underlie the emergence of a disorder, namely: a) negative triads (pessimistic views of yourself, the world, and the future); b) negative schemes or beliefs triggered by negative life events/ situations; and c) cognitive distortion. Negative triad is the client's view that he has failed, is being punished, and cannot do anything in the future. The client's negative schema or belief, which is to believe that because of the pain he is experiencing makes him helpless. Cognitive Distortion in the form of overgeneralization, which is "I can't do anything else". Keywords: depression, psychotic symptoms, delusional beliefs, Beck’s Cognitive Theory, negative triads
Skizofrenia Simpleks (sebuah studi kasus perspektif psikologi) Duddy Fachrudin
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 4, No 1 (2018): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSkizofrenia simpleks merupakan suatu tipe skizofrenia yang tidak lazim yang dicirikan pada perkembangan yang perlahan, namun bersifat progresif dari gejala negatif skizofrenia, seperti ketidakmampuan untuk memenuhi tuntutan masyarakat, dan penurunan kinerja secara menyeluruh. Tidak seperti tipe skizofrenia lainnya (hebefrenik, paranoid, dan katatonik), skizofrenia simpleks sulit ditemukan dan ditentukan diagnosisnya. Diagnostic and Statistical Manual (DSM) V menghapus diagnosis untuk skizofrenia simpleks, namun dalam Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa (PPDGJ) III dan International and Classification Diseases (ICD)-10 masih disertakan. Studi kasus ini membahas pasien yang didiagnosis skizofrenia simpleks dengan diagnosis pembandingnya episode depresif berat dengan gejala psikotik. Seorang laki-laki bernama AY, berusia 28 tahun, dan tidak tamat sekolah dasar tidak memiliki figur ayah. Klien AY pernah bekerja secara wajar serta menyukai lawan jenis. Kemunduran fungsi psikologis kemudian terjadi. Simtom negatif dari skizofrenia pada AY sangat menonjol, yaitu sedikit berbicara, afek datar, menarik diri dari pergaulan sosial, minat dan ambisi kurang, dan dorongan vitalitas rendah. AY memiliki ide atau pikiran-pikiran bahwa dirinya bersalah, berdosa, dan memandang sesuatu tampak kotor sehingga terdapat perilaku mencuci yang berulang-ulang. Hasil integrasi tes psikologi menjukkan tanda-tanda patologis, yaitu depresi, cemas berlebihan, dan gangguan afek. Dinamika psikologi AY menunjukkan beberapa pengalaman traumatik pada masa kecil yang direpres. Konflik yang berkembang dengan ibu sehingga menghasilkan kompleks antara ego alien dengan ego.Kata kunci: skizofrenia simpleks, simtom negatif, diagnosis, egoABSTRACTSimple Schizophrenia is an unusual type of schizophrenia characterized by slow, progressive development of negative symptoms of schizophrenia, such as inability to meet community demands, and overall performance degradation. Unlike other types of schizophrenia (hebephrenic, paranoid, and catatonic), simple schizophrenia is difficult to determine the diagnosis. Diagnostic and Statistical Manual (DSM) V cleared the diagnosis for simple schizophrenia, but in the Mental Disorder Diagnostic Classification Guidelines (MDDCG) III and International and Classification Diseases (ICD) -10 are included. This case study discusses patients diagnosed with simple schizophrenia with a comparative diagnosis of severe depressive episodes with psychotic symptoms. A man named AY, aged 28 years, and did not finish primary school has no father figure. He has worked fairly and liked the woman. The decline of psychological function then occurs. The negative symptoms of schizophrenia in AY are very prominent, ie, little speech, flat affects, withdrawal from social intercourse, lack of interest and ambition, and low vitality drive. AY has ideas or thoughts that he is guilty, sinful, and looks at something so dirty that there is repetitive washing behavior. The integration result of psychological tests shows pathological signs, such as depression, anxiety, and affective disorders. The psychological dynamics of AY shows some traumatic experiences in childhood that are repressed. Conflict that develops with the mother so as to produce a complex between alien ego with ego.Keywords: schizophrenia simplex, negative symptom, diagnosis, ego
Hubungan Kemampuan Mindfulness terhadap Kecemasan pada Lansia Selama Pandemi COVID-19 Gara Samara Brajadenta; Duddy Fachrudin
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 7, No 2 (2021): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Data dari Badan Organisasi Dunia (WHO) menunjukkan 95% virus corona mengakibatkan kematian pada penduduk dengan usia 60 tahun ke atas. Lansia perlu mendapatkan proteksi dari kemungkinan terpapar COVID-19. Pengelolaan kesehatan mental menjadi isu yang sangat penting pada masa pandemi ini. Strategi koping agar terlepas dari kecemasan atau panik berlebihan dibutuhkan oleh setiap individu, khususnya lansia. Salah satu cara yakni dengan mengembangkan kehidupan yang berkesadaran atau biasa disebut mindfulness. Stres dan kecemasan biasanya berawal dari pikiran-pikiran ruminasi yang otomatis muncul ketika menghadapi suatu situasi. Mindfulness menjadi suatu cara untuk mengelola pikiran tersebut sehingga kecemasan ikut terkendali. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kemampuan mindfulness terhadap kecemasan pada lansia selama pandemi COVID-19. Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik dengan menggunakan desain cross sectional. Sebanyak 300 responden yang sesuai dengan kriteria inklusi diikutsertakan dalam penelitian. Uji statistik menggunakan chi-square untuk menganalisis hubungan antar variabel. Hasil: Kemampuan mindfulness sebagai prediktor kecemasan, didapat kontribusi kemampuan mindfulness dalam mempengaruhi kecemasan sebanyak 83.4% dengan nilai p value 0.00 (p<0.05). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara kemampuan mindfulness terhadap kecemasan pada lansia selama pandemic COVID-19. Semakin tinggi kemampuan mindfulness maka semakin rendah kecemasan mengenai Covid-19 dan kemampuan mindfulness dapat memprediksi kecemasan secara signifikan.Kata Kunci: Mindfulness, kecemasan, ruminasi, pandemi COVID-19. ABSTRACTBackground: Data from the World Organization (WHO) shows 95% of the corona virus causes death in people aged 60 years and over. Elderly people need to get protection from the possibility of being exposed to COVID-19. Mental health management is a very important issue during this pandemic. Coping strategies to get rid of anxiety or excessive panic are needed by each individual, especially the elderly. One way is to develop a conscious life or what is commonly called mindfulness. Stress and anxiety usually start from rumination thoughts that automatically arise when faced with a situation. Mindfulness is a way to manage these thoughts so that anxiety is controlled. Purpose: This study aims to analyze the relationship between mindfulness and anxiety in the elderly during the COVID-19 pandemic. Method: This research is an analytical study using a cross sectional design. A total of 300 respondents who fit the inclusion criteria were included in the study. The statistical test used the chi-square test to analyze the relationship between variables. Result: Mindfulness ability as a predictor of anxiety, obtained the contribution of mindfulness ability in influencing anxiety as much as 83.4% with a p value of 0.00 (p <0.05). Conclusion: There is a relationship between mindfulness skills and anxiety in the elderly during the COVID-19 pandemic. The higher the mindfulness ability, the lower the anxiety about Covid-19 and the mindfulness ability can significantly predict anxiety.Keywords: Mindfulness, anxiety, rumination, the COVID-19 pandemic
PERSEPSI TINGKAT KESIAPAN DOKTER MUDA DI ROTASI KLINIK DALAM PROGRAM PROFESI DOKTER DI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI Isney Hanindya; Duddy Fachrudin; Ouve Rahadiani
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 8, No 2 (2022): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Persepsi merupakan suatu proses yang ada pada individu dalam mengelola dan menafsirkan gambaran indra mereka dalam memberikan makna dalam lingkungan mereka. Dalam hal ini, perilaku mahasiswa didasarkan pada persepsi mereka mengenai apa realitas yang ada, bukan mengenai realitas itu sendiri, tetqpi dengan apa yang akan mereka akan hadapi pada rotasi klinik. Tujuan: Untuk mengetahui persepsi tingkat kesiapan dokter muda di rotasi klinik dalam program profesi dokter. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini menggunakan kuesioner yang sudah tervalidasi yang terbagi menjadi lima kategori yaitu; masa transisi dan sosialisasi profesi, beban kerja, kontak dengan pasien, aplikasi pengetahuan dan keterampilan, pembelajaran dan pendidikan. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada fase transisi, mayoritas mahasiswa mempunyai persepsi yang baik terlihat dari mayoritas mahasiswa yang merasa siap untuk memulai pelatihan, dan mahasiswa mampu bekerja sama dengan sesama koas maupun staf klinis lainnya. Namun, mahasiswa mempunyai persepsi yang buruk mengenai beban kerja  di mana mahasiswa menganggap bahwa jam kerjanya terlalu panjang dan Ada perbedaan yang besar antara beban kerja pre-klinik dan klinik/ klerk/ koas. Mayoritas mahasiswa mempunyai persepsi baik mengenai kontak pasien dimana mahasiswa merasa mudah saat harus kontak langsung dengan pasien dan merangsang mahasiswa untuk belajar, mereka menganggap bahwa kontak dengan pasien akan meningkatkan pengetahuan karena mudah diingat. Dari segi pengetahuan dan skill mahasiswa merasa adanya pembelajaran yang didapat pada fase pre-klinik relevan dengan tahap klinik.  Dan mayoritas mahasiswa melakukan belajar mandiri, dan lebih giat dalam belajar dibandingkan sebelum koas. Kesimpulan: persepsi tingkat kesiapan dokter muda di rotasi klinik dalam program profesi dokter di Universitas Swadaya Gunung Jati, mayoritas mahasiswa memiliki persepsi baik.Kata Kunci: persepsi mahasiswa, kesiapan mahasiswa, rotasi klinik.ABSTRACTBackground: Perception is a process on which individuals manage and interpret their senses in providing meaning to their environment. In this case, student behavior reflects their perception of what reality is, instead of about reality itself, with what they will face in clinical clerkship. Objective: To analyze students’ perceptions of the readiness egree for clinical clerkship. Method: This study used a quantitative approach with a validated questionnaire divided into five categories, namely the transition period and professional socialization, workload, contact with patients, application of knowledge and skills, learning and education.  Results: The results of this study show that in the transition phase most medical students have a good perception. This can be seen that they felt ready to start training, were able to work in team with their fellow medical students and other clinical staffs. However, they had bad perceptions about workloads by considering that working hours were too long and there was a big difference between pre-clinical and clinical/clerical/resident workloads. On the other hand, most medical students had a good perception of patient contact by considering it easy to have direct contact with patients and stimulate them to learn. In addition, they assumed that contact with patients would increase their knowledge since it was easy to remember. In terms of knowledge and skills, medical students felt that the learning gained in the pre-clinical phase was relevant to the clinical stage. In this case, most medical students studied independently and were more active in learning than before being the medical students. Conclusion: Most medical student had good perception of the readiness degree for the clinical clerkship. Keywords: perception, readiness, clinical clerkship
HUBUNGAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS DENGAN PROFESIONALISME MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI Nurkholisah; Meidianawaty, Vivi; Fachrudin, Duddy
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara Vol. 24 No. 1 (2025): Januari 2025
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/ibnusina.v24i1.726

Abstract

Nilai yang harus dimiliki mahasiswa dalam bentuk kebiasaan atau kehidupan kemahasiswaan agar dapat melakukan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan buruk dikenal dengan istilah profesionalisme mahasiswa. Profesionalisme di kalangan mahasiswa akan sangat penting bagi standar pelayanan medis. Mayoritas mahasiswa kedokteran menghadapi penurunan profesionalisme akibat tekanan akademis, yang diikuti dengan munculnya masalah pada kemampuan fisik, emosional, dan kognitif serta kemampuan mereka untuk bersosialisasi. Pendidikan profesionalisme diberikan kepada mahasiswa sejak mereka masuk sekolah kedokteran. Hal ini terjadi ketika kesehatan psikologis memburuk. Akan tetapi, hubungan antara keduanya masih belum diketahui, sehingga diperlukan penelitian tentang hubungan antara profesionalisme mahasiswa kedokteran dengan kesejahteraan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara profesionalisme mahasiswa fakultas kedokteran dengan kesehatan psikologisnya. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan menggunakan metode cross-sectional. Sebanyak 295 responden diperoleh dengan menggunakan teknik stratified random sampling. Analisis univariat dan bivariat data primer dalam penelitian ini menggunakan uji Spearman. Hasil uji Spearman menunjukkan adanya korelasi yang lemah namun positif (r = 0,295) antara profesionalisme mahasiswa fakultas kedokteran dengan kesejahteraan psikologisnya, dengan hubungan yang signifikan (p-value = 0,001).
PROFIL CHARACTER STRENGTH DAN VIRTUE PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI ‘Aisy, Radya Rahadatul; Fachrudin, Duddy; Rahadiani, Ouve
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.45356

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi profil character strength dan virtue pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati, mengingat character strength sebagai kualitas psikologis yang termanifestasi dalam perilaku, sangat penting dimiliki seorang dokter. Menggunakan metode observasional deskriptif, studi ini melibatkan 114 responden (36 laki-laki dan 78 perempuan) dari mahasiswa Fakultas Kedokteran tahap profesi tahun kedua, yang dipilih dengan teknik quota sampling dan bersedia berpartisipasi. Kuesioner Values In Action Character Strength menjadi instrumen utama pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lima character strength paling dominan (signature strength) adalah kindness (9,3%), honesty (8,8%), love (7,9%), serta spirituality dan fairness (masing-masing 6,5%). Sementara itu, character virtue yang paling dominan muncul adalah transcendence (32,5%). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kindness, honesty, love, spirituality, dan fairness merupakan signature strength yang menonjol, dan transcendence adalah character virtue yang paling dominan pada mahasiswa kedokteran tahap profesi tahun kedua di Universitas Swadaya Gunung Jati
PENGARUH STRES DAN RESILIENSI TERHADAP MOTIVASI BELAJAR PADA MAHASISWA KEDOKTERAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI TINGKAT II: - Rohmania, Sri Rizki; Bastian, Shofa Nur Fauzah; Fachrudin , Duddy; Akbar, Muhammad Zul Fahmi; Chantika, Aprliyan Laras; Akuturisiano, Binto
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 11 No 2 (2025): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/tumed.v11i2.10925

Abstract

Latar Belakang: Pembelajaran di tingkat II Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati dipersepsi yang paling berat oleh mahasiswa kedokteran. Motivasi belajar diperlukan mahasiswa untuk mengatasi kesulitan yang di alaminya selama pembelajaran. Motivasi belajar di pengaruhi oleh banyak faktor, yang di antaranya stress dan resiliensi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh stress dan resiliensi terhadap motivasi belajar pada mahasiswa kedokteran tingkat II Universitas Swadaya Gunung Jati. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. total sampling digunakan, dengan jumlah partisipan penelitian sebanyak 203 mahasiswa kedokteran tingkat II. Alat ukur menggunakan yaitu medical student stressor questionnaire, academic resilience 30, dan motivated strategies for learning quistionaire. Teknik pengolahan data menggunakan analisis regresi linear berganda. Hasil: Stres dan resiliensi memiliki pengaruh secara simultan terhadap motivasi belajar. Hasil uji f menyatakan nilai f hitung ( 38,056 ) > f tabel: (3,041) sumbangan pengaruh keduanya terhadap motivasi belajar sebanyak 27,6%. Stress dan resiliensi juga memiliki pengaruh secara parsial terhadap motivasi belajar. Hasil uji T hitung stress-motivasi belajar (5,048) > T tabel (1,971), dan nilai T hitung resilensi- belajar (5,776 ) > T tabel (1,97). Simpulan: Stress dan resiliensi memiliki pengaruh terhadap motivasi belajar mahasiswa kedokteran tingkat II Universitas Swadaya Gunung Jati.
The Influence of Body Image and Energy Intake on Nutritional Status in Adolescents at SMAN 1 Cirebon City, Indonesia Kurniasih, Farah Gustin; Wahidin, Muhammad Duddy Satrianugraha; Fachrudin, Duddy
GHMJ (Global Health Management Journal) Vol. 7 No. 3s (2024)
Publisher : Yayasan Aliansi Cendekiawan Indonesia Thailand (Indonesian Scholars' Alliance)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35898/ghmj-741090

Abstract

Background: Adolescents are among the groups vulnerable to nutritional problems. These issues can arise due to restrictive diets, self-assessment (body image), lifestyle choices, energy intake, physical activity, and knowledge of balanced nutrition. According to the WHO (2018), the prevalence of overnutrition among adolescents aged 15–19 years has risen significantly from 4% to over 18%. The increase was observed in 18% of females and 19% of males. Aims: This research aims to examine the correlation between body image, energy intake, and nutritional status among adolescents at SMAN 1 in Cirebon City. Methods: A quantitative approach with a descriptive research design was employed in this study. The sampling technique used was purposive sampling. Primary data were collected through questionnaires, 24-hour food recall interviews, and measurements of body weight and height. Statistical analyses included univariate and multivariate analysis. Results: The findings indicate that most adolescents had a negative body image (60.1%), good energy intake (44.0%), and normal nutritional status (70.2%). Data analysis using the Ordinal Logistic Regression test revealed that body image significantly affects nutritional status (p < 0.001), and energy intake also significantly affects nutritional status (p < 0.001). Conclusion: This study concluded that body image and energy intake significantly influence the nutritional status of adolescents. Statistical analysis demonstrated that adolescents with a positive body image and good energy intake are more likely to have normal nutritional status. Received: 25 September 2024  |  Reviewed: 16 October 2024  |  Revised: 30 November 2024  |  Accepted: 12 December 2024.
HUBUNGAN ANTARA NOMOPHOBIA DENGAN PRESTASI AKADEMIK MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN Theresia Salsabilla; Vivi Meidianawaty; Duddy Fachrudin
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 10 No 1 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/tumed.v10i1.9329

Abstract

Latar Belakang: Nomophobia merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi psikologis berupa cemas, ketakutan, panik, kesepian, kegelisahan seseorang yang diakibatkan tidak menggunakan smartphone. Dalam dunia pendidikan, Nomophobia dapat mempengaruhi penurunan akademik karena dapat membuat mahasiswa menjadi kurang waktu untuk belajar dan tidur, mudah untuk kehilangan energi, memiliki gaya hidup yang kurang sehat, dan terganggu dalam menyelesaikan tugas. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara Nomophobia dengan prestasi akademik mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan metode observasional dengan rancangan Cross Sectional, penelitian menggunakan kuisioner Nomophobia Questionnaire (NMP-Q) dari Calgar Yildirim dengan skala likert 1 sampai 7 yang sudah divalidasi dan dilakukan realibilitas menggunakan Alpha Cronbach didapatkan 0,945. Pengambilan data dilakukan dengan teknik simple random sampling. Data yang didapat kemudian dilakukan analisis menggunakan uji korelasi pearson untuk mengetahui hubungan antara Nomophobia dengan prestasi akademik. Hasil: Tingkat Nomophobia responden yaitu 16 responden berada dikategori mild atau rendah, 87 responden berada dikategori moderate atau sedang, dan 31 responden berada dikategori severe atau berat. Tingkat prestasi akademik responden yaitu 80 responden berada dikategori rendah, 50 responden berada dikategori sedang, dan 4 responden berada dikategori tinggi. Dari 200 responden yang mengembalikan kuisioner sebanyak 134 orang. Data diolah dengan menggunakan SPSS didapatkan nilai signifikan (p) 0,504 yang berarti tidak terdapat hubungan antara Nomophobia dengan prestasi akademik. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara Nomophobia dengan prestasi akademik mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon.
HUBUNGAN RUJUKAN KASUS OBSTETRI DENGAN SECTIO CAESAREA DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH GARUT PERIODE 2018-2020 Permanawati, De’is Putra; Ahmad, Zulkifli; Nurbaniwati, Nunung; Suroso, Triono Adi; Fachrudin, Duddy
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 10 No 4 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/tumed.v10i4.9643

Abstract

Latar belakang: Sectio Caesarea (SC) merupakan jenis persalinan buatan yang dilakukan pada saat kondisi ibu dan janin tidak memungkinkan untuk melakukan persalinan secara pervaginam atau normal. Perlu adanya rujukan dengan beberapa indikasi terkait terlebih dahulu untuk melakukan persalinan secara Sectio Caesarea. Penggunaan tindakan sectio caesarea saat ini semakin meningkat diatas standar yang ditetapkan WHO. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan rujukan kasus obstetric dengan kejadian persalinan secara section caesarea. Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional dengan metode cross-sectional dengan jumlah sampel sebanyak 387 subyek. Data yang digunakan adalah data sekunder, yang kemudian dilakukan analisis. Untuk analisis bivariat, digunakan uji korelasi Spearman, sedangkan untuk analisis multivariat diterapkan uji regresi logistik Hasil: Didapatkan sebesar 58,7% pasien melahirkan dengan caesar dan 41,3% melahirkan dengan persalinan normal. Faktor dengan indikasi medis adalah 57,1% pada indikasi ibu dan 42,9% pada indikasi janin, faktor dengan resiko paritas 17,1%, resiko umur ibu 30,5%, resiko usia kehamilan 60,2%, resiko respon time 36,2%. Berdasarkan perhitungan analisa data peneliti didapatkan hasil dari faktor kejadian persalinan caesar yaitu kejadian indikasi rs=0,184, paritas rs=0,171, umur ibu rs=0,248, usia kehamilan rs=0,207, waktu respon rs=0.=,335. Variabel paling berpengaruh dalam kejadian sectio caesarea adalah umur ibu yang dengan Exp(B) tertinggi dibandingkan variabel yang lain. Kesimpulan: Dari hasil analisis 5 variabel tersebut membuktikan adanya hubungan yang signifikan antara rujukan kasus obstetri dengan kejadian SC di Rumah Sakit Umum Daerah Garut periode 2018-2020. Kata Kunci: Sectio Caesarea, Rujukan Persalinan, Proses Persalinan ABSTRACT Introduction : Sectio Caesarea (SC) is a type of artificial childbirth that is carried out when the condition of the mother and fetus does not allow for pervaginal or normal birthing. There needs to be a referral with several related indications in advance to childbirth by Caesarean sectio. The use of caesarean section is currently increasing and has even exceeded the maximum limit of WHO standards. Aim : This study was conducted to determine the relationship between obstetric case referrals and the incidence of delivery by caesarean sectio. Method This study is an observational research using a cross-sectional method with a sample size of 387 subjects. The data used is secondary data, which was then analyzed. For bivariate analysis, the Spearman correlation test was used, while multivariate analysis employed logistic regression. Result : Researchers got the percentage results of 58.7% of patients gave birth by caesarean section and 41.3% gave birth by normal delivery. Factors with medical indications were 57.1% for maternal indications and 42.9% for fetal indications, factors with parity risk 17.1%, maternal age risk 30.5%, gestational age risk 60.2%, risk response time 36 ,2%. Based on the calculation of the research data analysis, the results obtained from the incidence of cesarean delivery, namely the incidence of indications rs=0.184, parity rs=0.171, maternal age rs=0.248, gestational age rs=0.207, response time rs=0.=.335. The most influential on the incidence of sectio caesarea is the age of the mother who has the highest Exp (B) value compared to other variables. Conclusion : The analysis of the five variables demonstrates a significant relationship between obstetric referrals and the occurrence of cesarean sections at Garut Regional General Hospital during the period of 2018-2020.. Keywords: Section Caesarea, Labor Referral, Delivery Process