Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L) TERHADAP BERBAGAI TAKARAN PUPUK KANDANG SAPI PADA TANAH ANDOSOL Meriati Meriati
Menara Ilmu Vol 13, No 7 (2019): Vol. XIII No. 7 Juli 2019
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/mi.v13i7.1499

Abstract

Abstrak :Kebutuhan terhadap bawang merah (Allium ascalonicum L.) akan terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan daya belinya. Agar kebutuhannya dapat selalu terpenuhi maka harus diimbangi dengan jumlah produksi yang meningkat pula. Salah satu upaya untuk meningkatkan hasil bawang merah adalah teknologi pemupukan, salah satunya dengan mengunakan pupuk kandang kotoran sapi. Tujuanpenelitian adalah untuk mendapatkan takaran terbaik pupuk kandang kotoran sapi dalam mendukung pertumbuhan dan hasil bawang merah. Penelitian ini telah dilaksanakan di Lembah Gumanti, Kab. Solok, Provinsi Sumatera Barat dengan jenis tanah Andosol, pada bulan April 2017 – Juli 2017. Penelitian ini mengunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), 5 perlakuan dan 5 kelompok. Perlakuan yang diberikan adalah berbagai takaran pupuk kandang sapi sebagai berikut : A = Tanpa pupuk kandang sapi, B = Pupuk kandang sapi 5 ton/ha, C = Pupuk kandang sapi 10 ton/ha, D = Pupuk kandang sapi 15 ton/ha dan E = Pupuk kandang sapi 20 ton/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian berbagai takaran pupuk kandang kotoran sapi memberikan pengaruh berbeda tidak nyata pada semua parameter pengamatan yaitu tinggi tanaman, bobot basah umbi per plot, bobot kering umbi per plot sehingga belum didapatkan takaran terbaik dari pupuk kandang kotoran sapi yang diberikan.. Selanjutnya pengamatan bobot basah umbi per plot, bobot kering umbi per plot menunjukkan bahwa perlakuan E (Pupuk kandang sapi 20 ton/ha memiliki bobot yang tertinggi jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya yaitu 1.312 gram per plot atau 10,60 ton per hektar
KAJIAN PENGUNAAN BEBERAPA MIKRO ORGANISME LOKAL ORGANIK DALAM PEMBUATAN KOMPOS meriati meriati
Jurnal Embrio Vol 13 No 1 (2021): Jurnal Embrio
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tamansiswa Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.844 KB) | DOI: 10.31317/embrio.v13i1.681

Abstract

Kompos merupakan zat akhir fermentasi sampah/serasah tanaman termasuk bangkai binatang. Bahan-bahan untuk kompos adalah jerami, daun, sampah dapur, sampah kota dan lain-lain. Untuk mempercepat proses pelapukan digunakanlah aktivator agar proses fermentasi berjalan maksimum. Mikro Organisme Lokal (MOL) adalah aktivator yang dapat membantu mempercepat pembentukan kompos dan bermanfaat untuk meningkatkan ketersediaan unsur hara pada kompos. Dalam pembuatan kompos umumnya petani mengunakan EM4 sebagai sebagai aktivator pembuatan kompos. Aktivator ini bisa dibuat petani dengan metoda sederhana dengan bahan yang ada disekitar kita contohnya buah-buahan, sayur-sayuran, rebung, buah maja. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji efektifitas MOL buatan sendiri dengan pembanding EM4. Percobaan ini telah dilaksanakan di Kecamatan Pauh Kota Padang bulan Maret – Juni 2017. Perlakuan MOL ada 5 yaitu A= EM4 , B=MOL Pepaya, C=MOL Rebung, D=MOL Buah Maja dan E= MOL Kangkung. Pengamatan meliputi lamanya pembentukkan kompos, struktur kompos, Kandungan N, C-organik dan C/N. Data penelitian dianalisis kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama pengomposan dengan EM4 30 hari sedangkan dengan perlakuan MOL lainnya 31 hari berarti MOL buatan sendiri lebih lama 1 hari dibandingkan dengan mengunakan EM4. Selanjutnya kandungan N, C-organik dan C/N kompos menunjukkan bahwa semua kompos yang terbentuk dengan EM4 dan berbagai MOL tesebut memenuhi kriteria kompos sesuai SNI 19-7030-2004. Compost is the final substance of waste fermentation / plant litter including animal carcasses. The ingredients for compost are straw, leaves, kitchen waste, municipal waste and others. To speed up the weathering process activators are used so that the fermentation process runs maximum. Local Micro Organisms (MLO) are activators that can help accelerate compost formation and are useful for increasing nutrient availability in compost. In composting, farmers generally use EM4 as an activator for composting. This activator can be made by farmers with a simple method with ingredients that are around us, for example fruits, vegetables, bamboo shoots, maja fruit. The effectiveness study of homemade MOL to be done with EM4 comparison. This experiment has been carried out in Pauh District, Padang City in March - June 2017. There are 5 treatments for MLO, A = EM4, B = MLO Papaya, C = MLO Bamboo Shoots, D = MLO Fruit Maja and E = MLO Kale. Observations included the duration of compost formation, compost structure, N content, organic C and C / N. The research data were analyzed qualitatively and quantitatively. The results showed that composting time with EM4 was 30 days whereas with other MLO treatments 31 days meant homemade MLO was 1 day longer than using EM4. Furthermore, the content of N, C-organic and C / N compost showed that all compost formed with EM4 and various MLO met the compost criteria according to SNI 19-7030-2004.