Nurhayani Hayani
Dosen Tetap Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sumatera Utara Medan Jl. Williem Iskandar Pasar V Medan Estate Kec. Percut Sei Tuan - Medan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERAN RASA MALU DAN RASA BERSALAH TERHADAP PENGAJARAN MORAL ANAK Nurhayani Hayani
Al-Irsyad: Jurnal Pendidikan dan Konseling Vol 7, No 1 (2017): Edisi janauri-Juni 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/al-irsyad.v7i1.6669

Abstract

Each human’s emotion develop in certain meaning. It means that loosing negative emotions in our understanding about child development is same as loosing one of basic colour in painter’s self; and not only the basic colour will loose but a million colours which are created from combination of colours and basic colour. Negative emotion such as shame and guil will be more useful than positive emotion when someone learn to change his behavior.Negative emotion will motivate children to learn and practice prosocial behavior. It will effect directly to children’s behavior and personality because extreme emotion gives deep effect to motivate them in doing kindness which is hoped others. Shame and guilt are not emotion which must be disappeared. Shame and guilt will teach moral values to children if we use correctly.Key words: moral emotion, shame, guilt, children’s moral, moral development.
Dilema Psikososial Dalam Penyesuaian Sosial Pada Remaja Gifted Nurhayani Hayani
Al-Irsyad: Jurnal Pendidikan dan Konseling Vol 12, No 1 (2022): Edisi Januari-Juni 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/al-irsyad.v12i1.12077

Abstract

Individu pada fase remaja mengalami suatu periode yang memperlihatkan fenomena perubahan dikarenakan adanya transisi perubahan berbagai aspek perkembangannya. Pada fase remaja, terjadi pola perubahan perilaku yang sangat berbeda dan tampak diskontiniu. Remaja sering bertanya-tanya dan berusaha menemukan jati dirinya dan demikian juga halnya dengan individu gifted di fase remajanya. Namun remaja gifted memiliki kekhususan. Perkembangan kognitif yang berada di level di atas rata-rata membuat remaja gifted memiliki kedalaman emosi sehingga  tidak hanya membuat  berfikir  dan merasa secara berbeda dari teman sebayafr. Proses perkembangan identitas  remaja dengan bakat intelektual tinggi ini mengalami kerumitan dikarenakan perbedaan bawaan mereka untuk mendapatkan nilai konformitas dari teman sebayanya. Inilah yang menyebabkan remaja gifted berusaha menyembunyikan keberbakatannya dalam mengembangkan identitas alternatif yang dirasa secara sosial lebih dapat diterima. Dengan memakai topeng pelindung dianggap dapat membantu untuk merahasiakan cintanya dengan belajar dan menyembunyikan minatnya yang berbeda dari teman sebayanya. Jika identitas yang tersembunyi ini benar-benar membawa kepada penerimaan yang dicarinya, remaja gifted akan menjadi takut untuk membuka topengnya. Dilema sosial inilah yang membuat remaja gifted berada diposisi rentan  mengalami kesulitan dalam  penyesuaian sosial.