Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

HUBUNGAN DOWN SYNDROME DENGAN TERJADINYA KARIES GIGI: SCOPING REVIEW Widyawati Widyawati; Okmes Fadriyanti; Sherina Zahara Dita
Menara Ilmu Vol 16, No 2 (2022): VOL. XVI NO. 2 APRIL 2022
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mi.v16i2.3295

Abstract

Down syndrome merupakan kelainan genetik yang berasal dari kelainan kromosom 21 yang paling sering menyebabkan disabilitas intelektual. Disabilitas intelektual yang terjadi menyebabkan keterbatasan dalam adopsi perilaku sehingga masalah kesehatan gigi dan mulut tak dapat dihindari salah satunya karies gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji hubungan down syndrome dengan terjadinya karies gigi, prevalensi karies gigi pada penderita down syndrome dan komposisi saliva pada penderita down syndrome terhadap kejadian karies gigi. Jenis penelitian berupa studi pustaka dan bentuk Scoping Review. Pencarian artikel dilakukan pada database PubMed, Science Direct, dan Taylor and Francis Online. Setelah dilakukan dilakukan seleksi artikel sesuai dengan topik. Hasil penelitian didapatkan bahwa down syndrome memiliki hubungan terhadap peningkatan dan penurunan kejadian karies gigi dengan keterlibatan faktor-faktor tertentu. Peningkatan kejadian karies gigi berkaitan dengan faktor disabilitas perilaku, hipotonus otot wajah, usia, sosial ekonomi keluarga yang rendah, kurang fluoridasi, konsumsi sukrosa tinggi, dan kurangnya tindakan preventif. Penurunan kejadian karies gigi berkaitan dengan keterlambatan erupsi, oligodontia kengenital, sosial ekonomi keluarga yang tinggi, perbedan komposisi saliva dan perbedaan komposisi mikroba saliva. Perbedaan komposisi saliva yaitu pada pH, IgA, laju alir dan kadar elektrolit yang lebih tinggi serta komposisi mikroba yaitu Streptococcus mutans yang lebih rendah. Kesimpulan diperoleh bahwa terdapat hubungan antara down syndrome terhadap peningkatan dan penurunan kejadian karies gigi, serta ditemukan komposisi dan kepadatan mikroba saliva yang berbeda pada penderita down syndrome yang berkaitan dengan penurunan kejadian karies gigi.Kata Kunci: Down Syndrome, Trisomy 21, Dental Caries, Dental Decay
The consequences of external factors of smoking behaviour on the risk of dental caries among teenage smokers and non-smokers at SMKN 2 Padang: Konsekuensi faktor eksternal perilaku merokok pada risiko karies remaja perokok dan non perokok di SMKN 2 Padang Sabrina Arifah Adriani; Yulia Rahmad; Okmes Fadriyanti
Makassar Dental Journal Vol. 14 No. 3 (2025): Volume 14 Issue 3 December 2025
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perilaku merokok pada remaja telah menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi kesehatan gigi dan mulut, khususnya dalam meningkatkan risiko karies gigi. Data dari Dinas Kesehatan Kota Padang menunjukkan prevalensi tinggi karies gigi di SMKN 2 Padang. Artikel ini melaporkan hasil penelitian mengenai konsekuensi faktor eksternal perilaku merokok terhadap risiko karies gigi antara remaja perokok dan non perokok di SMKN 2 Padang. Penelitian kuantitatif dengan rancangan cross-sectional diikuti 68 siswa kelas XI di SMKN 2 Padang. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan rongga mulut menggunakan indeks DMF-T serta kuesioner yang mengevaluasi faktor eksternal seperti pengaruh orang tua, teman sebaya, dan iklan rokok. Analisis data univariat disajikan dalam bentuk tabel dan analisis bivariat menggunakan uji Mann-Whitney. Didapatkan bahwa siswa perokok memiliki tingkat keparahan karies yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa non perokok. Sebanyak 13 siswa (19,12%) perokok mengalami karies gigi tingkat sangat tinggi, sedangkan siswa non perokok 34 siswa tingkat karies giginya 0. Disimpulkan bahwa karies gigi pada perilaku perokok lebih tinggi dan penyebab utama oleh pengaruh dari teman sebaya.
Antibacterial Activity Test of Ethyl Asetate Fraction of Gletang Growth (Tridax procumbens L.) on The Growth of Enterococcus faecalis Widyawati; Ulima Audia Fayi Arta; Okmes Fadriyanti
Denta Journal Kedokteran Gigi Vol 20 No 1 (2026): Februari
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/denta.v20i1.1

Abstract

Background: Intractable root canal infection remains a serious obstacle in endodontic therapy and is a frequent cause of treatment failure, with Enterococcus faecalis (E. faecalis) as a key pathogen. This Gram-positive bacterium can persist under harsh conditions within the root canal system. Chlorhexidine is commonly used as a chemical irrigant, but its long-term application is associated with undesirable side effects, prompting the search for natural antibacterial alternatives. One promising candidate is the gletang plant (Tridax procumbens L.), which contains bioactive compounds with potential antimicrobial effects. Objective: This study aimed to evaluate the antibacterial activity of the ethyl acetate fraction of Tridax procumbens L. at various concentrations against E. faecalis. Method: A laboratory experimental design with post test only control group was used. Antibacterial testing was performed using the agar diffusion method with the gletang ethyl acetate fraction at 2%, 4%, 6%, and 8%, chlorhexidine as a positive control, and 96% methanol as a negative control. Data were analyzed univariately in tables and bivariately using Kruskal–Wallis and Mann–Whitney tests. Results: The fraction inhibited E. faecalis growth, with the largest mean inhibition zone of 3.6 mm at 8% and the smallest at 2%, 1.6 mm. Overall activity across all concentrations was classified as weak; however, statistical analysis (p=0.003, p<0.05) confirmed a significant inhibitory effect. Conclusion: The ethyl acetate fraction of the gletang plant (Tridax procumbens L.) at 8% is effective as an antibacterial against Enterococcus faecalis, with an average inhibition zone diameter close to that of the positive control. The higher the concentration of the ethyl acetate fraction, the higher the bacterial inhibition.