Riana Miranda Sinaga
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Profil Kadar Glukosa Darah pada Pasien Skin Tag Riana Miranda Sinaga
Majalah Kedokteran Nusantara The Journal Of Medical School Vol 51, No 4 (2018): The Journal of Medical School
Publisher : Fakultas Kedokteran USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction Skin tag (acrochordon) is benign tumor of connective tissue in the dermis of the most frequently encountered. Skin tag have a relationship with glucose metabolism disorders, especially diabetes mellitus and insulin resistance. Increased fasting blood glucose levels with polyuri, polydipsy and polyphagy one of the criteria for diagnosis of diabetes mellitus.Methods This study is a descriptive study with cross -sectional design involving 32 patients skin tag. Diagnosis of skin tag is made based on history, clinical examination. Then the patient's blood sample for examination of fasting blood glucose levels. Test results are presented in the form of descriptive data.Results In this study the majority of 27 patient skin tag (84.40%) had normal fasting blood glucose levels.  Conclusion :  Patients with skin tag generally have a normal fasting blood sugar levels.Keywords skin tag, fasting blood glucose levels, characteristic. AbstrakPendahuluan Skin tag (acrochordon) adalah tumor jinak jaringan konektif pada dermis yang paling sering dijumpai. Skin tag mempunyai hubungan dengan gangguan metabolisme glukosa terutama penyakit diabetes mellitus dan resistensi insulin. Peningkatan kadar glukosa darah puasa disertai poliuri, polidipsi, polifagi merupakan salah satu kriteria untuk menegakkan diagnosis penyakit diabetes mellitus. Peningkatan kadar glukosa darah diduga dapat terjadi pada pasien skin tag.Metode Penelitian inimerupakan suatu studi deskriptif dengan rancangan potong lintang (cross sectional) yang melibatkan 32 pasien skin tag. Diagnosis skin tag ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan klinis. Kemudian pada pasien dilakukan pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan kadar glukosa darah puasa. Hasil pemeriksaan disajikan dalam bentuk data deskriptif.Hasil Pada penelitian ini didapati mayoritas pasien skin tak 27 orang (84.40%) mempunyai kadar glukosa darah puasa normal.Simpulan Pasien skin tag  umumnya mempunyai kadar gula darah puasa normal.Kata kunci skin tag ,kadar glukosa darah puasa, karakteristik.
The Combination of Surgical Excision with Debulking Technique and Intralesional Triamcinolone Acetonide Injection in the Management of Keloid Riana Miranda Sinaga; Desy Sahara Putri S
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 6 No. 2 (2025): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v6i2.17727

Abstract

Abstract. Background: Keloid is a fibroproliferative disorder of the dermis resulting from abnormal wound healing, characterized by excessive collagen deposition, thickened and highly vascularized dermis, and abundant infiltration of inflammatory cells.The highest incidence of keloid occurs in individuals during their second decade of life. Case Ilustartion: A 16-year-old female presented to the Dermatology and Venereology Clinic at Prof. Chairuddin P. Lubis Hospital, Medan, with the chief complaint of a lump on the front and back of her left earlobe accompanied by itching for the past three years. Initially, 4 years ago, the patient complained of itching after ear piercing. Over time, a lump appeared at the site of the piercing. The lump was reported to have gradually increased in size over the past 2 years. Dermatological examination, there was a solitary erythema nodule with firm boundaries, with a spongy solid consistency, oval round shape and size 1.4x1.3x0.9 cm, regular edges, smooth surface in the region of the anterior auricularis lobule sinistra and posterior auricularis lobule sinistra. The patient was diagnosed with keloid. The patient was then planned for surgical excision with debulking technique and intralesional triamcinolone acetonide injection. Discussion: It is stated in the literature that combination treatment is the optimal strategy and from most studies it has been found that surgical excision combined with steroid injection shows a recurrence rate of less than 50%. Conclusion: Keloid treatment should be done in combination to reduce recurrence.     Abstrak Keloid merupakan kelainan fibroproliferatif pada dermis akibat penyembuhan luka yang tidak normal, ditandai dengan deposisi kolagen yang berlebihan, penebalan dan vaskularisasi dermis yang tinggi, serta infiltrasi sel inflamasi yang melimpah. Insidensi keloid tertinggi terjadi pada individu pada usia dekade kedua.  Ilustrasi Kasus: Seorang perempuan berusia 16 tahun datang ke Poliklinik Dermatologi dan Venereologi RS Prof. Chairuddin P. Lubis Medan dengan keluhan utama adanya benjolan di bagian depan dan belakang daun telinga kiri disertai rasa gatal sejak tiga tahun yang lalu. Awalnya, 4 tahun lalu, pasien mengeluh gatal setelah tindik telinga. Seiring waktu, benjolan muncul di lokasi penindikan. Benjolan tersebut dilaporkan bertambah besar secara bertahap selama 2 tahun terakhir. Pada pemeriksaan dermatologi terdapat bintil eritema soliter berbatas tegas, konsistensi padat seperti spons, bentuk bulat lonjong dan ukuran 1,4x1,3x0,9 cm, tepi teratur, permukaan licin pada daerah lobulus aurikularis anterior sinistra dan lobulus aurikularis posterior sinistra. Pasien didiagnosis dengan keloid. Pasien kemudian direncanakan untuk dilakukan eksisi bedah dengan teknik debulking dan injeksi triamcinolone acetonide intralesi. Pembahasan: Penatalaksanaan kombinasi merupakan strategi yang optimal dan sebagian besar penelitian ditemukan bahwa eksisi bedah yang dikombinasikan dengan injeksi steroid menunjukkan angka kekambuhan >50%. Kesimpulan: Pengobatan keloid sebaiknya dilakukan secara kombinasi untuk mengurangi kekambuhan.