sri ulya suskarwati
Institut Komunikasi Dan Bisnis LSPR

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

INSTAGRAM SEBAGAI MEDIA GOVERNMENT PUBLIC RELATIONS KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA DI MASA PANDEMI COVID 19 Andrea Amorita Tulung; sri ulya suskarwati; Virgin Cansa Abinta
Commed : Jurnal Komunikasi dan Media Vol. 5 No. 2 (2021): Commed : Jurnal Komunikasi dan Media
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Putera Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33884/commed.v5i2.3667

Abstract

Since the spread of Covid-19 and declared a pandemic in Indonesia, the Government has provided various communication media as channels of information for the public. Instagram @kemenkominfo is an official account managed by the Ministry of Communications and Informatics (Kemenkominfo), which is one of the information centers about Covid-19 in Indonesia and is a new medium for it's Government Public Relations (GPR) during the Pandemic. This study aims to understand the concept of GPR Kemenkominfo through Instagram, by referring to the theory of Computer Mediated Communication (CMC) to understand the virtual communication process between government and public. A qualitative descriptive approach with a case study method is used by researcher to achieve research objectives. The results of the study is understanding of the range, speed, and amount of information on @kemenkominfo to provide knowledge and information according to public needs. Through Instagram, it provides understanding and direction regarding Covid-19 to public, as well as providing information dissemination services through an official account managed by Public Relations of the Ministry of Communications and Informatics. As a communicator and mediator in the spread of Covid-19 in Indonesia is the application of GPR concept during a pandemic. The Ministry of Communications and Informatics builds a conducive communication with the Indonesian people through the official Instagram account @kemenkominfo. Keyword:Government Public Relations, Instagram, Kemenkominfo, Computer Mediated Communication
KOEVOLUSI RADIO BERITA RRI PRO3 PADA PROGRAM INDONESIA MENYAPA Sri Ulya Suskarwati
WACANA: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Volume 18, No. 2 December 2019
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/wacana.v18i2.922

Abstract

Persaingan antara media radio tidak bisa dihindari akibat munculnya internet. Hal tersebut dialami juga oleh Radio Republik Indonesia Programa Tiga atau RRI Pro3 dengan mengubah konten berita dari FM 88,8 MHz ke RRI Net. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan transformasi konten berita oleh RRI Pro3. Penulis menggunakan konsep koevolusi dari teori Mediamorfosis Roger Fidler, untuk mengarahkan pemahaman transformasi bentuk media komunikasi. Pendekatan yang digunakan kualitatif dengan paradigma konstruktivis. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Unit analisis penelitian adalah program Indonesia Menyapa'. Hasilnya ditemukan bahwa, pendengar RRI Pro3 layaknya menonton program televisi dalam format konten radio yang ia sukai. Terdapat pemikiran baru tentang konten berita, yang awalnya berbentuk auditif imajinatif, kemudian diubah menjadi konten radio visual.
PERILAKU NON VERBAL TOUR GUIDE LOMBOK SEBAGAI KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DALAM BERINTERAKSI DENGAN WISATAWAN ASING Sri Murti Dina Triyasningrum; Sri Ulya Suskarwati; Andre Josua Christiawan S
Jurnal Mutakallimin : Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jm.v6i2.12839

Abstract

Komunikasi antarbudaya adalah proses komunikasi dari satu individu dengan suatu budaya dengan individu dari budaya lainnya dan tercipta pemahaman yang sama. Proses tersebut dialami oleh tour guide lokal di Lombok yang berkomunikasi dengan wisatawan asing yang memiliki perbedaan budaya. Tour guide lokal menggunakan bahasa Inggris dalam memperkenalkan objek wisata Lombok, namun masih terjadi perbedaan pemahaman antara keduanya. Fenomena tersebut menarik perhatian peneliti untuk mengetahui komunikasi antarbudaya yang terjadi dari 5 elemen menurut konsep Larry A. Samovar yang dianalisis dengan teori komunikasi akomodasi melalui metode penelitian kualitatif dengan hasil adanya kecenderungan penggunaan perilaku  non verbal dengan gesture, gerak tangan, ekspresi,  serta adanya adaptasi dengan lingkungan baru dan perilaku verbal dengan menggunakan bahasa inggris namun masih perlu frekuansi pengulangan kata dan bantuan kamus online. Penelitian ini diharapkan dapat membantu jasa pemandu wisata lokal lombok untuk lebih mendalami pemahaman komunikasi non verbal dengan wisatawan asing serta dapat menjadi bahan evaluasi diri untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi antarbudaya dengan wisatawan asing.
PERILAKU NON VERBAL TOUR GUIDE LOMBOK SEBAGAI KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DALAM BERINTERAKSI DENGAN WISATAWAN ASING Sri Murti Dina Triyasningrum; Sri Ulya Suskarwati; Andre Josua Christiawan S
Jurnal Mutakallimin : Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jm.v6i2.12839

Abstract

Komunikasi antarbudaya adalah proses komunikasi dari satu individu dengan suatu budaya dengan individu dari budaya lainnya dan tercipta pemahaman yang sama. Proses tersebut dialami oleh tour guide lokal di Lombok yang berkomunikasi dengan wisatawan asing yang memiliki perbedaan budaya. Tour guide lokal menggunakan bahasa Inggris dalam memperkenalkan objek wisata Lombok, namun masih terjadi perbedaan pemahaman antara keduanya. Fenomena tersebut menarik perhatian peneliti untuk mengetahui komunikasi antarbudaya yang terjadi dari 5 elemen menurut konsep Larry A. Samovar yang dianalisis dengan teori komunikasi akomodasi melalui metode penelitian kualitatif dengan hasil adanya kecenderungan penggunaan perilaku  non verbal dengan gesture, gerak tangan, ekspresi,  serta adanya adaptasi dengan lingkungan baru dan perilaku verbal dengan menggunakan bahasa inggris namun masih perlu frekuansi pengulangan kata dan bantuan kamus online. Penelitian ini diharapkan dapat membantu jasa pemandu wisata lokal lombok untuk lebih mendalami pemahaman komunikasi non verbal dengan wisatawan asing serta dapat menjadi bahan evaluasi diri untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi antarbudaya dengan wisatawan asing.
Stereotip Kecantikan Perempuan pada Kampanye #BeautyDiQuity dalam Iklan Luxcrime Fadila Ariani; Sri Ulya Suskarwati; Zhafran Tsany Yudizon
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 8 No. 2 (2025): Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/wartaiski.v8i2.462

Abstract

Abstract - The study aims to analyze stereotypical representations of female beauty in the #BeautyDiQuity campaign for Luxcrime advertisement using Roland Barthes semiotic approach. The main focus is how the stereotype of beauty from the model of #BeautydiQuity campaign, which are people with disability shown with photo and video in Luxcrime social media page Instagram. This research using interpretive paradigm, qualitative methodology research, with Roland Barthes Semiotic data analyze, with three level of meaning: connotation, denotation, and myth as well as using data collection techniques through Kenneth Burke’s Pentad method analysis. The result of the research shows that Luxcrime #BeautyDiQuity campaign successfully create a new ideology about beauty. Beauty is not seen based on stereotype of beauty formed in society, which usually measured by physical perfection, but beauty is also seen from other things such as self-love, self-acceptance, daring to appear different, and all the strengths and weaknesses that women have are the true definition of beauty. Keywords: Semiotic; beauty stereotype; social media; beauty product; campaign
Representasi Citra Publik dan Otherness dalam Short Film Ghosts Karya Michael Jackson Zhafran Tsany Yudizon; Kartini Dwi Sartika; Sri Ulya Suskarwati
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 9 No. 1 (2026): Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/9s2w5h78

Abstract

Penelitian ini mengkaji representasi citra publik dan konstruksi “keberlainan” (otherness) dalam film pendek Ghosts (1996) karya Michael Jackson yang disutradarai oleh Stan Winston sebagai teks komunikasi yang merefleksikan stigma media dan politik identitas selebritas. Berlandaskan teori semiotika Roland Barthes serta didukung teori representasi, pembingkaian media (media framing), dan komunikasi stigma, penelitian ini berhipotesis bahwa Ghosts berfungsi sebagai bentuk resistensi simbolik terhadap narasi publik negatif yang mengelilingi Jackson pada era 1990-an. Penelitian menggunakan pendekatan komunikasi kualitatif dengan menerapkan tiga tingkat makna Barthes—denotasi, konotasi, dan mitos—untuk menganalisis tanda visual, dialog, dan struktur naratif dalam adegan terpilih. Analisis difokuskan pada simbol komunikasi yang membangun “keberlainan,” merepresentasikan eksklusi sosial, dan menantang representasi dominan media. Temuan menunjukkan bahwa Ghosts membalik relasi kuasa dominan dengan menggambarkan sosok yang distigmatisasi sebagai pribadi kreatif, kuat, dan secara moral lebih unggul dibanding komunitas “Normal Valley” yang penuh prasangka. Film ini memperlihatkan bagaimana masyarakat arus utama membangun batas antara yang “normal” dan “menyimpang,” sementara mitos tentang ketakutan, abnormalitas, dan eksklusi dikonstruksi sekaligus didekonstruksi melalui simbol sinematik. Kesimpulan: studi ini, Ghosts berfungsi sebagai ekspresi artistik sekaligus strategi komunikasi yang menantang stigma, merekonstruksi identitas selebritas, dan menyoroti peran budaya populer dalam membentuk ulang wacana publik.