Marzuki Marzuki
Institut Agama Islam Tribakti Kediri

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Motif Orang Tua Santri di Pondok Pesantren HM Lirboyo Marzuki Marzuki; Ahmad Masrukin
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman Vol. 30 No. 1 (2019): Jurnal Tribakti
Publisher : Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/tribakti.v30i1.667

Abstract

Motif Orang Tua Santri di Pondok Pesantren HM Lirboyo Marzuki Marzuki; Ahmad Masrukin
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman Vol. 30 No. 1 (2019): Jurnal Tribakti
Publisher : Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/tribakti.v30i1.667

Abstract

Tulisan ini bermaksud menjelaskan motif yang mendasari orang tua memilih pondok pesantren sebagai tempat pendidikan anaknya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif fenomenologi dengan subjek penelitian orang tua santri, pengurus pondok pesantren, dan santri. Hasil penelitian menyimpulkan alasan yang mendasari memilih pondok pesantren adalah pertama, alasan agama dan ideologis, yaitu orang tua santri berharap anaknya dapat meneruskan kiprah perjuangan mereka di masyarakat dengan mengajarkan Islam Ahlusunah wal Jama’ah. Konsep moderasi Islam selalu diajarkan dalam pesantren, mereka para alumni dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat. Kedua, lingkungan keluarga dan masyarakat. Orang tua menyadari tentang kondisi di sekitar mereka dengan berbagai bentuk kenakalan remaja yang berpengaruh pada perilaku anaknya. Mereka tidak dapat mengatasi persoalan itu secara sendiri, alternatif mengatasi persolan itu orang tua memilih anaknya untuk belajar di pondok pesantren. Ketiga, pendidikan dalam pondok pesantren. Selain belajar formal, di pondok pesantren ada kegiatan pembelajaran lain, aturan dan pengawasan. Setiap hari di pondok pesantren diisi dengan berbagai kegiatan, dalam bentuk madrasah, jam’iyyah, musyawarah, mengaji, muratil dan lainnya. Kegiatan yang ketat dibarengi dengan aturan yang ketat. Berbagai aturan dibuat untuk mengatur santri pada setiap harinya. Dalam waktu 24 jam santri melakukan berbagai aktivitas. Terakhir ada pengawasan dari pengurus, santri mendapatkan pengawasan, setiap pelanggaran yang dilakukan oleh santri akan mendapatkan teguran, peringatan bahkan takzir dari pengurus.