This Author published in this journals
All Journal Juripol
Henilia Henilia
Universitas Amir Hamzah

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

BEBERAPA GEJALA BAHASA DALAM BAHASA INDONESIA: BEBERAPA GEJALA BAHASA DALAM BAHASA INDONESIA Henilia Henilia
Juripol (Jurnal Institusi Politeknik Ganesha Medan) Vol. 4 No. 1 (2021): Juripol Volume 4 nomor 1 tahun 2021
Publisher : Politeknik Ganesha Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33395/juripol.v4i1.10959

Abstract

Bahasa adalah alat komunikasi yang memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Penguasaan terhadap suatu bahasa bukanlah merupakan warisan atau turunan melainkan sesuatu yang diperoleh dari kebiasaan dalam kehidupan. Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup dan berkembang ejalan dengan perkembangan dengan masyarkat Indonesia (pemakai bahasa). Sehubungan dengan perkembangan itulah kita jumpai gejala yang timbul diantaranya perubahan bentuk kata maupun perubahan arti kata, perubahan-perubahan ini ada yang sudah diterima dan ada yang belum diterima sebagai bahasa yang umum. Gejala bahasa ini adalah salah satu faktor yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Gejala bahasa yang dibicarakan adalah gejala bahasa hiperkorek, gejala bahasa pleonasme, gejala bahasa kontaminasi, gejala bahasa protesis, gejala bahasa epentesis. Masing-masing gejala bahasa tampaknya mempunyai khusus secara sendiri-sendiri. Pengetahuan gejala bahasa dapat menunjang sikap serta pengertian yang wajar terhadap bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia tidak mengenal gejala concord. Peran positif dalam gejala bahasa adalah menyumbangkan sejumlah bentuk yang menambah khazanah kata dalam bahasa Indonesia yaitu gejala bahasa adaptasi, peranan negative secara umum memberi gambaran bahwa gejala bahasa Indonesia menunjukkan bentuk-bentuk yang salah atau destandarisasi yaitu gejala bahasa hiperkorek, gejala bahasa kontaminasi, dan gejala bahasa pleonasme.
PENYIMPANGAN BAHASA DALAM SEBUAH PUISI henilia henilia
Juripol (Jurnal Institusi Politeknik Ganesha Medan) Vol. 4 No. 2 (2021): Juripol (Jurnal Institusi Polgan)
Publisher : Politeknik Ganesha Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33395/juripol.v4i2.11064

Abstract

Puisi memiliki bahasa yang berbeda dengan karya prosa. Struktur yang padat dan penuh kontemplasi membuat penyair menggunakan berbagai penyimpangan bahasa. Penyimpangan bahasa terdiri dari penyimpangan leksikal, semantis, fonologis, morfologis, sintaksis, dialek, register, historis, dan grafologis. Puisi sebagai salah sebuah karya seni dapat dikaji dari bermacam-macam aspeknya. Puisi merupakan salah satu karya yang dapat dikaji dari bermacam-macam aspek. Puisi dapat dikaji dari struktur dan unsur-unsurnya, mengingat bahwa puisi merupakan struktur yang tersusun dari bermacam unsur atau ragam. Puisi juga dapat dikaji dari sudut kesejarahannya, mengingat sepanjang sejarahnya, dari waktu ke waktu puisi selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Puisi termasuk salah satu jenis sastra yang digemari masyarakat. Karena kemajuan masyarakat dari waktu ke waktu terus meningkat, maka corak, sifat dan bentuk puisi pun berubah, mengikuti perkembangan jaman.
ANALISIS MATERI TATA BAHASA DALAM BUKU PELAJARAN BAHASA INDONESIA henilia henilia
Juripol (Jurnal Institusi Politeknik Ganesha Medan) Vol. 5 No. 1 (2022): Juripol (Jurnal Institusi Polgan)
Publisher : Politeknik Ganesha Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33395/juripol.v5i1.11305

Abstract

Pada tahun 2008, pemerintah mulai meluncurkan Buku Sekolah Elektronik (BSE) untuk mendukung ketersediaan buku ajar yang murah dan berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model penyampaian materi tata bahasa, cakupan materi tata bahasa, dan kesesuaian materi tata bahasa. Buku ajar merupakan salah satu bahan ajar tertulis yang digunakan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah buku mata pelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian ini menghasilkan tiga simpulan. Pertama, model penyampaian materi tata bahasa ada dua model, yaitu pendekatan deduktif dan pendekatan induktif. Pendekatan deduktif digunakan pada materi fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Pendekatan induktif digunakan pada materi morfologi, sintaksis, dan semantik. Kedua, cakupan materi tata bahasa dalam BSE Bahasa Indonesia SMA terdiri dari materi fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Fonologi dibagi menjadi satu submateri, yaitu membedakan fonem bahasa Indonesia. Morfologi dibagi menjadi lima submateri, yaitu afiksasi, reduplikasi, proses pemajemukan, mengidentifikasi proses morfologis, serta kata dan penggunaannya. Sintaksis dibagi menjadi tiga submateri, yaitu frasa, klausa, dan kalimat. Semantik dibagi menjadi dua submateri, yaitu jenis-jenis semantik serta perubahan dan pergeseran makna. Ketiga, kesesuaian materi tata bahasa dengan kurikulum
ANALISIS PENGGUNAAN GAYA BAHASA DALAM SEBUAH PUISI henilia henilia
Juripol (Jurnal Institusi Politeknik Ganesha Medan) Vol. 5 No. 1 (2022): Juripol (Jurnal Institusi Polgan)
Publisher : Politeknik Ganesha Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33395/juripol.v5i1.11309

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan gaya bahasa pada puisi, sehingga dapat diketahui gaya bahasa paling dominan yang digunakan beserta karakteristik penggunaan gaya bahasa pada sebuah puisi. Penelitian difokuskan pada gaya bahasa dalam sebuah puisi. Penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi untuk mengumpulkan data. Data dianalisis dengan teknik analisis semantik. Keabsahan data diperoleh melalui validitas semantik dan reliabilitas intrareter dan interater. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat 38 gaya bahasa yang digunakan pada puisi, dengan gaya bahasa yang paling mendominasi adalah personifikasi, erotesis, anafora, simile, dan anadiplosis, (2) karakteristik gaya bahasa pada puisi siswa tergantung dari pemilihan tema, masalah, dan isi yang siswa ingin utarakan. Isi puisi siswa berupa kejadian yang dialami sendiri, melihat sekitar, berbekal latar belakang pengetahuan, tren masa kini, dan ungkapan hati yang sesungguhnya, (3) Gaya bahasa yang mendominasi tema egoik-psikologis antara lain simile, gaya bahasa repetisi, litotes, erotesis, dan personifikasi. Gaya bahasa pada puisi bertema social-cinta kasih antara lain berupa satire, hiperbola, gaya bahasa repetisi, dan erotesis. Gaya bahasa yang mendominasi tema social-alam adalah personifikasi dan gaya bahasa perulangan, sedangkan gaya bahasa satire, ironi, sinisme, sarkasme terkadang muncul untuk melakukan kritik sosial. Gaya bahasa yang sering muncul pada tema ketuhanankeyakinan adalah epitet, parabel, erotesis, dan gaya bahasa repetisi. Gaya bahasa yang sering muncul pada tema ketuhanan-religiositas adalah erotesis, gaya bahasa repetisi, dan litotes.
PEMAKAIAN FRASA DALAM SEBUAH KARANGAN henilia henilia
Juripol (Jurnal Institusi Politeknik Ganesha Medan) Vol. 5 No. 2 (2022): Juripol (Jurnal Institusi Polgan)
Publisher : Politeknik Ganesha Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33395/juripol.v5i2.11689

Abstract

Keterampilan berbicara dan keterampilan menulis termasuk dalam keterampilan produktif. Keterampilan menulis dianggap sebagai keterampilan berbahasa yang paling sulit. Hal ini disebabkan keterampilan menulis dianggap sebagai keterampilan mendengarkan, berbicara, dan membaca. Selain itu, dalam keterampilan menulis juga harus menguasai keterampilan menyusun gagasan atau ide yang akan disampaikan kepada pembaca dengan menggunakan kata-kata dalam susunan yang tepat berdasarkan penggunaan kata, pemilihan kata, dan struktur kalimat. Keterampilan menyusun kata-kata dan kalimat membentuk kesatuan isi dalam paragraf juga diperlukan dalam keterampilan menulis. Karangan sebagai hasil proses berpikir dan bernalar, mungkin merupakan proses bernalar induktif atau deduktif. Untuk memahami kedua proses ini masih mengalami kesulitan. Penulis belum mampu menggeneralisasi atau menyatakan hubungan sebab akibat tentang yang ditulisnya sebagai proses induktif. Begitu pula halnya dengan proses deduktif pun belum bisa memulai karangannya dengan pernyataan umum yang selanjutnya dikembangkan dengan rincian-rincian yang bersifat khusus. Hal ini terjadi karena penulis sangat kurang pengetahuan tentang tema yang ditulisnya. Memadukan kalimat dengan kalimat dalam paragraf merupakan kendala bagi penulis. Mereka tidak bisa membentuk paragraf yang dibangun oleh kalimatkalimat yang mempunyai hubungan timbal-balik, sehingga kalimat-kalimat itu bukan merupakan satu-kesatuan. Penggabungan dua buah kata atau lebih yang menjadi satu-kesatuan dan tidak memiliki unsur predikatif disebut frasa. Penggabungan tersebut untuk menampung konsep makna yang lebih khas atau lebih tertentu yang tidak dapat diwujudkan dengan sebuah kata. Istilah frasa digunakan sebagai satuan sintaksis yang satu tingkat berada di bawah klausa, atau satu tingkat berada di atas satuan kata. Karena frasa itu mengisi salah satu fungsi sintaksis, maka salah satu unsur frasa itu tidak dapat dipindahkan secara kesuluhan sebagai satu-kesatuan.