Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Human Monoclonal Antibody (HMAb) Solusi Pengganti Antitoksin Difteri Rasmi Zakiah Oktarlina; Adela Putri Agata
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 3, No 1 (2019): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v3i1.2230

Abstract

Kejadian luar biasa difteri masih menjadi masalah di Indonesia sejak tahun 2011. Kejadian terbesar terjadi pada tahun 2012, sebesar 955 kasus. Hal ini menyebabkan Indonesia menjadi negara kedua dengan prevalensi kasus difteri terbanyak setelah India. Hingga pada akhir tahun 2017, ditemukan 591 kasus difteri di Indonesia. Hal ini berbanding lurus dengan meningkatnya angka kejadian drop out imunisasi yang berhubungan dengan semakin banyaknya kelompok anti vaksin. Terjadinya peningkatan kasus difteri ini menyebabkan diperlukannya pengobatan yang optimal terhadap kasus difteri. Pengobatan difteri saat ini adalah dengan Difteri Antitoksin (DAT) yang dikombinasikan dengan antibiotik yang adekuat. Namun dalam penggunaannya DAT yang berasal dari kuda ini memiliki efek samping berupa risiko alergi, reaksi hipersensitivitas tipe lambat, serum sickness, bahkan syok anafilaktik. Saat ini hanya India dan Brazil memproduksi DAT. Sementara untuk mengimpor DAT harus dengan seizin Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Penggunaan DAT dibatasi dan harus dilakukan pemeriksaan sensitivitas terlebih dahulu kepada pasien. Sedangkan penatalaksanaan difteri yang terlambat akan menyebabkan terjadinya peningkatan risiko komplikasi. Human Monoclonal Antibody (HMAb) bisa menjadi pilihan dalam menggantikan DAT yang dipakai selama ini. HMAb mampu menghambat terjadinya ikatan antara toksin difteri dan fragmen B dengan Heparin-binding Epidermal Growth Factor (HB-EGF). HMAb bisa menjadi pilihan yang sangat baik untuk menggantikan penggunan DAT.Kata Kunci : difteri, dat, human monoclonal antibody
Penatalaksanaan Holistik Pasien Lansia dengan Hipertensi Derajat 1, Diabetes Mellitus Tipe 2, Obese Grade I, dan Hiperkolesterolemia Melalui Pendekatan Kedokteran Keluarga di Puskesmas Rawat Inap Kedaton Dinda Afifa; Tutik Ernawati; Adela Putri Agata
Medula Vol 12 No 2 (2022): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v12i2.411

Abstract

Hypertension is one of the degenerative disease. Degenerative disease is a chronic non-communicable disease due to deterioration in organ function due to the aging process. The prevalence of hypertension in lampung reached 7,95%. Through identifying the risk factors, clinical problems, conduct patient management holistically by applying family doctors according to evidence based medicine through a patient center, family approach, and community oriented. This study is a case report. The primary data obtained through anamnesis, physical examination, and home visits to complete the family data, psychosocial and environmental data. Assessment based upon a holistic diagnosis of early, process, and the final quantitative and qualitative studies. Based on a holistic diagnosis, the patient had a history of hypertension and type 2 diabetes mellitus for more than 10 years, as well as hypercholesterolemia and obesity. Patients routinely seek treatment at the clinic and routinely take medication every day. The patient's diet is still irregular and the patient rarely does physical activity. The diagnosis and managemet of the patient has been done holistically, patient centered, family approach and in accordance with national guidelines and based on evidence based medicine. Changes in patient and family knowledge and behaviour occur after patient center and family approach interventions.