Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PERPUSTAKAAN SEKOLAH Suatu Keniscayaan dalam Penyelenggaraan Pendidikan Formal Sudarsono, Blasius
ACARYA PUSTAKA Vol 1, No 2 (2015): ACARYA PUSTAKA
Publisher : ACARYA PUSTAKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.423 KB)

Abstract

AbstrakKeberadaan perpustakaan sekolah idealnya menempati posisi sentral dalam lembaga pendidikan. Apakah fungsi perpustakaan sekolah sudah benar dipahami, dihayati, dan dikembangkan oleh pihak terkait dalam proses pembelajaran formal? Apakah masyarakat perpustakaan sekolah di Indonesia juga sudah menyadari adanya IFLA School Library Guidelines edisi ke dua, Juni, 2015? Sudahkah materi tersebut diacu guna mengembangkan perpustakaan sekolah? Ketiadaan persepsi mendasar tentang perpustakaan sekolah menjadikan keberadaan perpustakaan sekolah belum pada posisi ideal. Perkembangan fungsi dan peran perpustakaan sekolah tidak dapat dilepas dari adanya manifesto perpustakaan sekolah: IFLA/UNESCO School Library Manifesto (SLM), yaitu: perpustakaan sekolah memberikan informasi dan ide yang menjadi dasar keberhasilan fungsional dalam masyarakat masa kini yang berbasis informasi dan pengetahuan dan perpustakaan sekolah membekali murid berupa keterampilan pembelajaran sepanjang hayat serta pengembangan imajinasi, memungkinkan mereka hidup sebagai warga negara yang bertanggung jawab. Perpustakaan sekolah bertugas menyediakan layanan pembelajaran, buku dan sumber informasi lain sehingga menjadikan seluruh warga masyarakat sekolah menjadi pemikir kritis (critical thinkers) dan pemakai efektif informasi dalam beragam media dan format. Perpustakaan Sekolah harus mempunyai pustakawan profesional. Ini dinyatakan juga dalam manifesto perpustakaan sekolah. Dinyatakan bahwa pustakawan sekolah haruslah professionally staff member yang bertanggung jawab atas perencanaan dan pengelolaan Perpustakaan Sekolah. Pengembangan kemampuan profesionalitas berkesinambungan (Continuing Professional Development= CPD) menjadi tanggung jawab pribadi pustakawan sekolah yang harus difasilitasi oleh sekolah (lembaga kerja), asosiasi profesi pustakawan (sekolah), dan lembaga pendidikan pustakawan (sekolah perpustakaan). Manifesto ini juga memberikan arahan untuk melaksanakannya. Kebijakan tertulis atas layanan perpustakaan sekolah  harus dibuat. Kebijakan ini mencakup tujuan dan prioritas layanan sehubungan dengan kurikulum sekolah yang berlaku. Perpustakaan sekolah juga harus diselenggarakan dan dikelola berdasar standar profesional. Layanan harus dapat diakses oleh setiap anggota masyarakat sekolah dan diselenggarakan berdasar konteks masyarakat setempat. Kata kunci: perpustakaan sekolah dan IFLA/UNESCO School Library Manifesto (SLM)
MEMAHAMI DOKUMENTASI Sudarsono, Blasius
ACARYA PUSTAKA Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Ilmiah Perpustakaan dan Informasi
Publisher : ACARYA PUSTAKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.017 KB)

Abstract

In Indonesia, documentation does not develop as a science as the library. Even the documentation is forgotten or deliberately forgotten. In the United States documentation has also been considered the past since the introduction of information science. Yet it is precisely from America too, the documentation evolved into a new science. Currently there is Document Academy Meeting (DOCAM) which is held annually on an international level. At European Tromso University became the lead pioneer of documentation studies. This development seems to escape from the view of the library school in Indonesia. This paper presents a personal journey in interpreting the documentation. It is hoped that this paper can inspire librarians practitioners and academics in the field of documentation study. Keywords: documentation, library, librarian
PUSTAKAWAN MEMANDANG KNOWLEDGE MANAGEMENT Sudarsono, Blasius; Imadianti, Prafita
BACA: Jurnal Dokumentasi dan Informasi Vol. 33 No. 2 (2012): BACA: Jurnal Dokumentasi dan Informasi (Desember)
Publisher : Direktorat Repositori, Multimedia, dan Penerbitan Ilmiah - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/j.baca.v33i2.98

Abstract

It is already more than a decade that the word of Knowledge Management (KM) have been discussed by librarians within the International Federation of Library Associations (IFLA). Many librarians then became interested in studying KM in order to implement it in their organizations. The discussions about KM then become broad and have been expanded into some fields, including tacit knowledge, implicit knowledge, explicit knowledge, and procedural knowledge. The crucial dimension of KM is collecting and connecting, so that dissemination of knowledge in organization becomes broader and deeper than before. This paper discusses the perception of Indonesian librarians toward KM.
MENERAPKAN KONSEP PERPUSTAKAAN 2.0 Sudarsono, Blasius
BACA: Jurnal Dokumentasi dan Informasi Vol. 31 No. 1 (2010): BACA: Jurnal Dokumentasi dan Informasi (Agustus)
Publisher : Direktorat Repositori, Multimedia, dan Penerbitan Ilmiah - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/j.baca.v31i1.95

Abstract

The Library 2.0 terminology was coined in 2005 by Michael E Casey in his blog entitled Library Crunch. This article discusses the implementation of Library 2.0 concept, as a continuation of the previous article by the same author which had introduced the concept. Basically, Library 2.0 is an application of Web 2.0 for library purposes. It based on two fundament¬als that are: the strength of participation and the sophisticated of information technology. For library, theses forces based on three basic transformations i.e.: from book centered to human centered, from users oriented to users centered, and from information management to knowledge management. To discuss the implementation of the concept, the author did not start from the scratch, but looking other libraries that already had undertaken the effort. Examples are taken from USA, Australia, and China. Finally, the author discusses the possibility of Indonesian Librarians to implement the Library 2.0 concept. In addition the author also gives some suggestions.
GENERASI PEMBELAJAR MANDIRI DAN PENDIDIKAN ABAD 21 Sudarsono, Blasius
BACA: Jurnal Dokumentasi dan Informasi Vol. 33 No. 1 (2012): BACA: Jurnal Dokumentasi dan Informasi (Juni)
Publisher : Direktorat Repositori, Multimedia, dan Penerbitan Ilmiah - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/j.baca.v33i1.104

Abstract

Kebutuhan untuk belajar tidak akan pernah berhenti. Oleh karena itu konsep belajar sepanjang hayat memang benar! Secara logika untuk melaksanakan konsep tersebut jelas tidak mungkin dilakukan selalu dengan keterlibatan pihak lain. Lebih banyak situasi seseorang harus belajar secara mandiri. Selain itu seperti pada pembelajaran formal selalu ada saat akhirnya. Sedangkan pembelajaran mandiri hanya akan berakhir saat seseorang hidupnya berakhir. Oleh karena itu disebut pembelajaran sepanjang hayat.