This Author published in this journals
All Journal JURNAL KEBIDANAN
Aida Ratna Wijayanti
akademi kebidanan dharma husada

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERILAKU IBU DALAM MELATIH TOILET TRAINING PADA BALITA USIA 12-36 BULAN ( Di BPS Ny. Hj. Siti Munawaroh, SST., Desa Mlati, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri ) Aida Ratna Wijayanti; Sukma Silvianingtyas
JURNAL KEBIDANAN Vol 7 No 1 (2018): JURNAL KEBIDANAN
Publisher : AKADEMI KEBIDANAN DHARMA HUSADA KEDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.271 KB) | DOI: 10.35890/jkdh.v7i1.27

Abstract

Latihan berkemih (toilet training) pada anak dapat menciptakan hubungan kasih sayang antara ibu dan anak. Latihan berkemih (toilet training) sangat dianjurkan pada balita usia 12 sampai 36 bulan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana Perilaku Ibu Dalam Melatih Berkemih (Toilet Training) Pada Balita Usia 12 Sampai 36 Bulan Di BPS Ny. Siti Munawaroh, SST Desa Mlati Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang mempunyai balita usia 12 sampai 36 bulan. Sampel yang digunakan adalah ibu yang memiliki balita usia 12 sampai 36 bulan yang datang waktu penelitian Di BPS Ny. Siti Munawaroh, SST Desa Mlati Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri. Teknik sampling menggunakan accidental sampling.Pengumpulan data variabel menggunakan kuesioner. Data dikumpulkan kemudian dilakukan pengolahan dengan proses editing, coding, scoring, tabulating yang selanjutnya dianalisa dengan prosentase. Dari hasil penelitian pada 20 responden menunjukkan 48,5% berperilaku baik. 36,5% berperilaku cukup. 15% berperilaku kurang dalam melakukan latihan berkemih (toilet training) pada balita. Berdasarkan analisa dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa perilaku ibu dalam melatih toilet training pada balita usia 12-36 bulan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya umur, pendidikan, pekerjaan, jumlah anak dan sumber informasi. Untuk itu perlu adanya usaha dari ibu secara pribadi dalam menimbulkan perilaku ibu dalam latihan berkemih (toilet training) serta perlu adanya penyuluhan dari tenaga kesehatan tentang melakukan latihan berkemih (toilet training).
GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR RISIKO KEJADIAN PREEKLAMPSIA PADA IBU BERSALIN DENGAN PREEKLAMPSIA (Di RS Aura Syifa Kabupaten Kediri bulan Februari – April tahun 2016) Widya Kusumawati; aida Ratna Wijayanti
JURNAL KEBIDANAN Vol 6 No 2 (2017): JURNAL KEBIDANAN
Publisher : AKADEMI KEBIDANAN DHARMA HUSADA KEDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.765 KB) | DOI: 10.35890/jkdh.v6i2.43

Abstract

Preeklampsia merupakan sekumpulan gejala yang muncul selama kehamilan dengan usia lebih dari 20 minggu dengan tanda-tanda hipertensi, oedema, dan proteinuria. Penyebab preeklampsia belum diketahui, dan masih merupakan disease of theory. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor risiko kejadian preeklampsia pada ibu bersalin. Desain penelitian adalah deskriptif, populasi semua ibu bersalin dengan preeklampsia sebanyak 43 ibu bersalin, menggunakan teknik total sampling, variabel dalam penelitian ini variabel tunggal yaitu faktor-faktor risiko kejadian preeklampsia pada ibu bersalin dengan preeklampsia. Pengumpulan data menggunakan rekam medik pada bulan Februari – April 2016, pengolahan data dengan menggunakan editing, coding, scoring, dan tabulating, kemudian data dianalisa menggunakan prosentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor risiko kejadian preeklampsia pada ibu bersalin dengan preeklampsia berdasarkan jumlah paritas (primigravida sejumlah 19%, multigravida 81%), usia (< 20 sejumlah 7%, 20-35 sejumlah 56%, > 35 sejumlah 37%), faktor lain (distensia rahim berlebihan sejumlah 17%, hipertensi kronis sejumlah 2%, riwayat preeklampsia sejumlah 14%, dan tidak ada faktor sejumlah 67%). Kesimpulan dari hasil penelitian ini faktor-faktor risiko kejadian preeklampsia pada ibu bersalin dengan preeklampsia berdasarkan paritas tertinggi multigravida, usia tertinggi pada rentang 20-35 tahun, dan faktor lain karena distensia rahim berlebihan, hipertensi kronis serta riwayat preeklampsia. Risiko preeklampsia pada ibu bersalin dari berbagai faktor tersebut dapat dijadikan gambaran oleh tenaga kesehatan untuk memberikan informasi kepada ibu-ibu hamil dan lebih mengutamakan pada antenatal care sedini mungkin untuk mendeteksi preeklampsia.