Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Efisiensi Usahatani Tebu Rakyat Lahan Sawah Kategori Tanaman PC (Plant Cane) (Studi Kasus: Wilayah Kerja PG Gempolkrep, PTPN X) Danang Permadhi; Trikuntari Dianpratiwi
Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Department of Agricultural Social Economics, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jepa.2021.005.02.08

Abstract

PT Perkebunan Nusantara X (PTPN X) merupakan perusahaan yang bisnis utamanya adalah gula. Perusahaan ini memiliki 9 (sembilan) unit usaha pabrik gula (PG) yang berproduksi di Jawa Timur dengan total kapasitas giling ±40.000 TCD (Ton Cane per Day). Pada tahun 2019, PTPN X menargetkan produksi Gula Kristal Putih (GKP) tumbuh 4,8 persen menjadi 352.184 ton dibandingkan tahun giling 2018 (335.205 ton). Petani tebu sebagai mitra PG masih dapat meningkatkan produktivitas tanaman tebunya dengan menggunakan faktor-faktor produksi yang efisien, sehingga pendapatan meningkat. Tujuan penelitian ini, yaitu: (1) Menganalisis faktor-faktor produksi yang berpengaruh terhadap produksi tebu; (2) Menganalisis efisiensi penggunaan faktor produksi usahatani tebu; (3) Menganalisis faktor yang memengaruhi inefisiensi produksi tebu (teknis dan alokatif); dan (4) Menganalisis pendapatan usahatani tebu. Metode Analisis yang digunakan yaitu analisis fungsi produksi Cobb Douglas, Data Envelopment Analysis (DEA), analisis regresi linier berganda dan analisis usahatani tebu. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor yang memengaruhi produksi tebu adalah luas lahan, penggunaan benih dan pupuk dengan niai R2 sebesar 0,63. Ruang lingkup uji tingkat efisiensi adalah pada faktor-faktor yang memengaruhi produksi tebu tersebut. Rata-rata tingkat efisiensi teknis sebesar 0,922 yang bermakna dalam petani melaksanakan usahatani tebu tingkat efisiensi teknis dicapai sebesar 92,2 persen. Sementara itu, rata-rata tingkat efisiensi alokatif sebesar 0,583, berarti petani tebu tidak menggunakan input produksi dengan biaya yang minimal dan secara umum biaya produksi dapat diturunkan sebesar 41,67 persen untuk mencapai output (produksi) yang sama. Faktor penduga yang berpengaruh negatif terhadap inefisiensi teknis adalah pengalaman berusahatani. Faktor yang berpengaruh positif terhadap inefisiensi alokatif adalah faktor usia, status usahatani tebu dan penyuluhan PG, sedangkan faktor yang berpengaruh negatif adalah kemudahan akses kredit. Usahatani tebu rakyat di wilayah kerja PG Gempolkrep dapat mencapai pendapatan sebesar Rp.7.200.829,- per hektar dalam satu musim tanam dan dapat ditingkatkan lagi dengan meningkatkan efisiensi usahataninya secara teknis maupun alokatif.
Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Minat Petani Berusahatani Tebu (Studi Kasus: Wilayah Kerja Pabrik Gula Gempolkrep, PT Perkebunan Nusantara X) Danang Permadhi; Trikuntari Dianpratiwi
Indonesian Sugar Research Journal Vol 1, No 2 (2021): Indonesian Sugar Research Journal
Publisher : Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (741.745 KB) | DOI: 10.54256/isrj.v1i2.18

Abstract

Penurunan luas lahan tebu rakyat (TR) di wilayah kerja PG Gempolkrep mengindikasikan minat petani dalam berusahatani tebu menurun. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang memengaruhi minat petani dalam berusahatani tebu. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari 77 petani tebu dengan menggunakan kuisioner terstruktur. Analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dengan menggunakan alat bantu software SPSS 16. Data sekunder diperoleh dari Kementerian Pertanian, PTPN X dan PG Gempolkrep. Hasil penelitian ini menunjukkan faktor-faktor yang memengaruhi minat petani dalam berusahatani tebu adalah penguasaan lahan, pendapatan berusahatani tebu, peran petugas PG, peran KPTR dan peran dinas terkait. Nilai determinasi R Square sebesar 0,562 menunjukkan bahwa variabel X (independent variable)  dapat menjelaskan variabel Y (dependent variable) sebesar 56,2%, sedangkan sisanya 43,8% dijelaskan oleh faktor atau variabel lain di luar model.