Lister Eva
Universitas Negeri Medan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

JEJAK POHON KAPUR BARUS DI DESA SIORDANG KECAMATAN SIRANDORUNG KABUPATEN TAPANULI TENGAH SUMATERA UTARA AKHIR ABAD 19 Lister Eva; Rahmadani Pane
Puteri Hijau : Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 4, No 2 (2019): Puteri Hijau Vol. 4 No. 2
Publisher : Department of History Education, Faculty of Social Science, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/ph.v4i2.16332

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang ditemukannya kembali jejak keberadaan pohon kapur barus di Desa Siordang Kecamatan Sirandorung dan keberadaan pohon kapur barus di Desa Siordang Kecamatan Sirandorung, lokasih sebaran serta kondisi pohon kapur barus hingga sekarang. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Siordang dengan menentukan lahan Bapak Silaban yang berada di Desa Siordang sebagai lokasi penelitian. Untuk memperoleh data  dalam penelitian ini digunakan metode penelitian lapangan (Field research) dan dikombinasikan dengan penelitian kepustakaan (Library research) dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari lapangan melalui wawancara dengan tokoh-tokoh yang memiliki andil dalam kepemilikan pohon kapur barus kuno dan yang berkuasa di Desa Siordang Kecamatan Sirandorung bidang Pemerintahan terutama Camat dan Kepala Desa. Selanjutnya data diperoleh berdasarkan buku-buku dan tulisan-tulisan berupa buletin-buletin, artikel yang berkaitan dengan Jejak Pohon Kapur Barus di Desa Siordang Kecamatan Sirandorung Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara Akhir Abad 19. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, bahwasanya Jejak Pohon Kapur Barus ditemukan di Desa Siordang oleh penjelajah dan ilmuan peduli sejarah dan lingkungan yang melakukan perjalanan menjelajahi Sumateta Utara terkhusus Kabupaten Tapanuli Tengah. Pohon kapur barus kemudian mulai muncul lagi berupa berita dan tayangan TV sehingga pengetahuan mengenai tanaman langkah ternyata masih ada. Pohon kapur barus dengan usia tergolong kuno masih ditemui dengan umur ±100 tahun, berdasarkan keterangan informan merupakan pohon kapur barus peninggalan akhir abad 19, dan ternyata juga masih dijaga keasliannya serta dirawat untuk mendapatkan hasil pohon kapur yang berkualitas. Jumlah pohon kapur mencapai 500 pohon lebih yang bervariasi umur dari pohon bibit hingga umur100 tahun yang menjadi pohon induk sumber benih. Beberapa faktor yang menyebabkan kepunahan dari pohon kapur barus seperti faktor ekonomi, mistik, keserakaan dan lingkungan. Kata Kunci: Kapur Barus, Lokasi Sebaran, Siordang
Migrasi Batak Di Tanah Alas Kabupaten Aceh Tenggara (1904-1920) Lister Eva; Rina Ariani Pandiangan
Puteri Hijau : Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 4, No 1 (2019): Puteri Hijau Vol. 4 No. 1
Publisher : Department of History Education, Faculty of Social Science, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/ph.v4i1.13890

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang sejarah awal migrasinya batak toba ke wilayah Tanah Alas Kabupaten Aceh Tenggara (1904-1920), bagaimna proses terjadinya migrasi Batak Toba diwilayah Tanah Alas dan apa saja dampak yang terjadi pada masayrakat tanah Alas ketika kedatangan masyarakat suku Batak Toba kewilayah tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah dengan menggunakan 4 tahap penelitian yaitu pertama, pengumpulan sumber-sumber yang relevan dengan penelitian. Dalam pengumpulan data, peneliti melakukan penelitian lapangan dengan observasi, wawancara serta untuk mendukung data penelitian juga melakukan penelitian kepustakaan dengan mengumpulkan buku-buku,dokumen, artikel dan sejenisnya. Kedua data yang dikumpilkan tersebut diuji kebenarannya lewat kritik sumber, ketiga penafsiran sumber dan yang keempat ialah pemulisan.Berdasarkan hasi penelitian yang dilakukan diketahui bahwa terjadinya Migrasi Batak Toba ke wilayah Tanah Alas disebabkan karena faktor kedatangan kolonial Belanda kewilayah tanah Batak, khususnya di daerah Sidikalang. Daerah sidikalang merupakan daerah awal datangnya migrasi Batak Toba kewilayah Tanah Alas Kabupaten Aceh Tenggara dan melarikan diri dari daerahnya sendiri menuju daerah baru dan mulai melakukan penjajakan diwilayah baru.Terjadinya migrasi Batak Toba di Tanah Alas memberikan dampak yang sangat mempengaruhi masyarakat suku Alas yaitu dengan sistem pertanian, sistem pertanian yang ditanamkan oleh masyarakat Batak Toba membantu meningkatkan perekonomian baik pada masyarakat Batak Toba itu sendiri maupun masyarakat suku Alas dengan cara mengelolah lahan-lahan yang kosong milik suku Alas menjadi lahan pertanian yang sangat subur.Kata Kunci : Migrasi, Batak Toba dan Tanah Alas