Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Evaluasi Penggunaan Kerangka Sampel Area Sebagai Metode Baru dalam Mengukur Produktivitas Padi di Indonesia diana dwi susanti
Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol 3, No 3 (2019)
Publisher : Department of Agricultural Social Economics, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jepa.2019.003.03.4

Abstract

BPS telah menerapkan metode statistik untuk memprediksi produktivitas padi selama bertahun-tahun yang didasarkan pada kerangka sampel rumah tangga (RT) dengan acuan hasil Sensus Penduduk 2010. Namun metode ini memiliki masalah akurasi, karena metode RT tidak mempertimbangkan lokasi sawah petani. Sampel yang tinggal di lokasi yang berbeda, mungkin memiliki sawah di area yang sama, sehingga menghasilkan lokasi pengambilan sampel non-acak dari produktivitas padi. Untuk mengatasi masalah ini, BPS, bekerja sama dengan BPPT, telah mengembangkan metode prediksi baru, yaitu Area Sampling Framework (KSA). Dalam metode ini, sampel plot ubinan dihitung berdasarkan lokasi sawah, bukan lokasi rumah tangga tani. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk mengevaluasi sampel plot ubinan metode KSA dibandingkan dengan metode RT sebelumnya. Penelitian ini telah menghasilkan beberapa temuan penting untuk meningkatkan metode KSA. Pertama, KSA menunjukkan hasil yang lebih baik daripada metode sebelumnya karena lokasi lahan sawah dianggap sebagai pengganti pendekatan rumah tangga petani, sebagaimana dibuktikan oleh sebaran plot. Kedua, dalam hal rasio petak sampel (ubinan), kedua metode prediksi menunjukkan pola rasio yang sama, di mana rasio petak sampel di kota (Kota) lebih kecil daripada di daerah pedesaan (Kabupaten). Rasio sampel di Kota dan Kabupaten adalah 1:11 dan 1: 360, masing-masing untuk metode RT, dan 1:74 dan 1: 391, masing-masing untuk metode KSA. Ketiga, untuk meningkatkan ketepatan produktivitas padi, sampel plot ubinan di Kabupaten perlu ditingkatkan, terutama untuk rasio sampel plot per hektar luas lebih dari 1000 ha, karena fakta bahwa luas wilayah Kabupaten biasanya lebih besar daripada ukuran Kota