Akhmad Mustain
Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Bala Putra Dewa Palembang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Desain Organisasi terhadap Kinerja Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) di Kota Palembang Akhmad Mustain
Jurnal Ilmu Administrasi dan Studi Kebijakan (JIASK) مجلد 1 عدد 2 (2019): Jurnal Ilmu Administrasi dan Studi Kebijakan (JIASK) (Maret 2019)
Publisher : MAP Program Pascasarjana Universitas Sjakhyakirti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48093/jiask.v1i2.13

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kinerja Dinas Penananamn Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Palembang. Penyebabnya adalah desain organisasi DPMPTSP belum sepenuhnya mendukung kebutuhan, sistem dan tujuan dari pelayanan terpadu satu pintu bidang perizinan. Penelitian ini bermaksud menguji pengaruh desain organisasi terhadap kinerja organisasi melalui metode survei. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dengan teknik analisis menggunakan Structural Equation Model (SEM). Hasil penelitian menjelaskan bahwa desain organisasi memiliki pengaruh yang besar terhadapkinerja organisasi. Besarnya pengaruh desain organisasi terhadap kinerja organisasi tersebut ditentukan oleh faktor struktur, proses dan manusia. Artinya bahwa perubahan faktor struktur, proses dan manusia dalam desain organisasi dapat memberikan dampak yang besar bagi kinerja organisasi. Proses organisasi menjadi faktor palingkuat dalam merefleksikan desain organisasi dibandingkan struktur dan manusia. Berdasarkan simpulan penelitian diperoleh hasil bahwa Desain organisasi memiliki pengaruh terhadap kinerja organisasi. Pengaruh desain organisasi terhadap kinerja organisasi tersebut ditentukan oleh faktor struktur, proses danmanusia dalam organisasi. Adapun faktor proses merupakan faktor yang palingmerefleksikan desain organisasi dibandingkan faktor lain dalam desain organisasi yaitu struktur dan manusia. Struktur yang dibuat masih sangat hierarkis, proses organisasi dalam pelayanan perizinan belum terintegrasi. Penataan sumber daya manusia dalam organisasi belum mendukung kebutuhan tenaga teknik dalam organisasi, sehingga akan menimbulkan kinerja dalammenghasilkan pelayanan perizinan yang optimalbelum tercapai.
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA MELALUI PENGAWASAN KETENAGAKERJAAN PADA DINAS TENAGA KERJA PROVINSI SUMATERA SELATAN Randa Gustiawan; Suandi Suandi; Akhmad Mustain; Edwar juliartha
Jurnal Ilmu Administrasi dan Studi Kebijakan (JIASK) مجلد 9 عدد 1 (2026): Jurnal Ilmu Administrasi dan Studi Kebijakan (JIASK) (September 2026)
Publisher : MAP Program Pascasarjana Universitas Sjakhyakirti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48093/jiask.v9i1.484

Abstract

Perlindungan tenaga kerja merupakan bagian penting dari kebijakan publik karena berkaitan dengan pemenuhan hak pekerja, keselamatan dan kesehatan kerja, jaminan sosial, kepastian hubungan kerja, serta terciptanya hubungan industrial yang harmonis. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi kebijakan perlindungan tenaga kerja melalui pengawasan ketenagakerjaan pada Dinas Tenaga Kerja Provinsi Sumatera Selatan, mengidentifikasi faktor yang memengaruhi implementasi, menjelaskan hambatan, dan menguraikan upaya yang dilakukan untuk mengatasinya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan informan yang terdiri atas pimpinan Dinas Tenaga Kerja, pejabat bidang pengawasan, pengawas ketenagakerjaan, staf, perwakilan perusahaan, serta tenaga kerja/buruh. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Analisis menggunakan teori implementasi kebijakan George C. Edward III yang mencakup komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan telah berjalan, tetapi belum sepenuhnya optimal. Komunikasi dilakukan melalui rapat, pengarahan, surat dinas, koordinasi, sosialisasi, pembinaan, pemeriksaan, dan komunikasi langsung. Sumber daya manusia, anggaran, sarana-prasarana, dan kewenangan tersedia, tetapi jumlah pengawas belum sebanding dengan luas wilayah dan banyaknya perusahaan. Disposisi pelaksana relatif mendukung melalui komitmen, profesionalisme, integritas, dan kepatuhan terhadap prosedur. Struktur birokrasi didukung SOP dan koordinasi, tetapi masih memerlukan penguatan terutama pada koordinasi dan tindak lanjut. Faktor penghambat paling dominan adalah keterbatasan sumber daya, sedangkan komitmen dan kompetensi pelaksana menjadi kekuatan utama. Upaya perbaikan perlu diarahkan pada penguatan sumber daya, pengawasan berbasis prioritas, komunikasi yang lebih luas, pembinaan perusahaan, pemanfaatan teknologi, dan tindak lanjut yang berkelanjutan