Esther Rela Intarti
Universitas Kristen Indonesia

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PERAN STRATEGIS TEMAN SEBAYA DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER RELIGIUS REMAJA: PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN Esther Rela Intarti
Jurnal Dinamika Pendidikan Vol. 13 No. 3 (2020): November
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51212/jdp.v13i3.2394

Abstract

Adolescence is a period of transition from children to adulthood. Youth life is a life that is very decisive for their future life. Adolescence is also known as the search for self-identity. Along with its development, there is a desire to socialize and getting to know other people more intensively. Desiring to get along with other people is manifested in the form of peers. Peer groups are the first social environment when adolescents learn to live together with other people who are not family members. Peer characteristics have the same age level, the same actions or behavior, and tend to have the same habits. Peer interaction can help and influence each other. In a phase like this, Christian religious education is very strategic to be instilled in adolescents through the role of peers. Basically, the principles and functions of peers have a strong carrying capacity in applying Christian values ​​to shape the religious character of adolescents. Christian religious education also emphasizes that the barometer of peers is a human consciousness to choose and to have good friends who can strengthen faith. Keywords: peers, character, youth, Christian religious education
Program Tutorial Mata Kuliah Etika Kristen sebagai Pembentukan Konsep Diri Mahasiswa Esther Rela Intarti; Noh Ibrahim Boiliu
Jurnal Basicedu Vol 6, No 1 (2022): February, Pages 1-1500
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v6i1.1721

Abstract

Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai institusi pendidikan, Universitas Kristen Indonesia (UKI) tentu dituntut untuk mendidik para mahasiswa agar para mahasiswa dapat menjadi manusia yang utuh, berilmu, cerdas, tangguh, dan berkarakter. Upaya untuk membangun manusia yang tangguh dan berkarakter ini sejalan dengan nilai-nilai kekristenan yang seharusnya dipahami oleh para mahasiswa. Untuk mengimplementasikan nilai-nilai kristiani bagi para mahasiswa, Unit Pelayanan Kerohanian dan Konseling (UPKK)  UKI melalui mata kuliah Etika Kristen membuat program tutorial etika kristen yang bertujuan agar mahasiswa mengenali konsep diri dan memahami tujuan hidup yang bermakna sehingga menjadi manusia yang tangguh dan berkarakter sesuai dengan nilai-nilai kristiani. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui program tutorial etika Kristen dapat bermanfaat dan diterima oleh para mahasiswa Berdasarkan hasil analisis bahwa rancangan program tutorial mata kuliah Etika Kristen ini terstruktur dengan baik sehingga berdampak positif bagi para mahasiswa. Program tutorial mata kuliah Etika Kristen di UKI diperuntukkan bagi mahasiswa baru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif.
PERANAN FIRMAN ALLAH DALAM PELAYANAN KONSELING PASTORAL YANG HOLISTIK Esther Rela Intarti
Regula Fidei: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 3, No 2 (2018): September 2018
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Kristen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.085 KB) | DOI: 10.46307/rfidei.v3i2.22

Abstract

The meaning of a general counseling is a reciprocal relationship carried out by the counselor to provide the opportunity for the counselee to explore their feelings, discover what problems they faces and explore the counselee's own potential and find the ways to overcome problems bocome a more comfortable and satisfying life. The role of the God’s word in a holistic pastoral counseling service places the God’s word to become the foundation and provide direction and achievement of counseling by looking thoroughly at all aspects of the counselee. It can also be said that the word of God can be an absolute standard of truth. The God’s word in the pastoral counseling process can give enlightenment to the meaning of life and wisdom to the problems faced to obtain a solution. The role of the God’s word does not just stop as the giver of light, but the God’s word is also able to provide a measure of the highest values or norms. The role of the God’s word is a central in resolving or living the life problems of the counselee as a believer because the God’s word is a source that gives us power, strength, willingness and wisdom in helping, entertaining, and strengthening those who are helpless. For counselees, the God’s word can be awaken them from their sins and mistakes which ultimately change their hearts and characters towards a better life change. Abstrak: Konseling secara umum merupakan hubungan timbal balik yang dilakukan oleh konselor untuk memberikan kesempatan konseli mengekplorasi perasaan-perasaannya, menemukan apa masalah yang dihadapinya serta menggali potensi diri konseli dan menemukan cara untuk mengatasi persoalan agar hidup yang lebih nyaman, dan memuaskan. Peranan firman Allah dalam pelayanan konseling pastoral yang holistik adalah menempatkan firman Allah untuk dijadikan landasan dan memberikan Arah serta pencapaian konseling dengan melihat secara menyeluruh seluruh aspek dalam diri konseli. Hal ini dapat juga dikatakan bahwa firman Allah dapat menjadi standar kebenaran yang mutlak. Firman Allah dalam proses pastoral konseling dapat memberi pencerahan makna kehidupan dan hikmat terhadap persoalan yang dihadapi untuk memperoleh jalan penyelesaiannya. Peranan firman Allah tidak hanya berhenti sebagai pemberi terang, tetapi firman Allah juga mampu memberikan ukuran dari nilai-nilai atau norma yang paling tinggi. Peran firman Allah sangat sentral dalam menyelesaikan atau menjalani masalah kehidupan konseli sebagai orang percaya karena firman Allah merupakan sumber yang memberikan kita kuasa, kekuatan, kemauan, dan kebijaksanaan dalam menolong, menghibur, dan menguatkan mereka yang sedang tidak berdaya. Bagi konseli, firman Allah mampu menyadarkan mereka dari dosa dan kesalahannya yang pada akhirnya mengubah hati dan karakter mereka menuju perubahan hidup yang lebih baik.
PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN SEBAGAI MOTIVATOR Esther Rela Intarti
Regula Fidei: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 1, No 2 (2016): September 2016
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Kristen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.909 KB)

Abstract

The teacher's responsibility is to help learners to develop their full potential. Potential learners that must be developed not only concerns the problem of intelligence and skills, but concerns all aspects of personality. Teachers are not only required to have an understanding or ability in the field of learning and learning but also in motivating learners. Christian Education Teachers (CET) play a role in teaching spiritual values and motivating learners. Christian Education teachers must understand the concepts of motivation so that they can function as facilitators of development of learners, whether involving the intellectual, emotional, social, and mental spiritual aspects. Abstrak: Tanggung jawab guru adalah membantu peserta didik agar dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya secara maksimal. Potensi peserta didik yang harus dikembangkan bukan hanya menyangkut masalah kecerdasan dan keterampilan, melainkan menyangkut seluruh aspek kepribadian. Guru tidak hanya dituntut untuk memiliki pemahaman atau kemampuan dalam bidang belajar dan pembelajaran tetapi juga dalam memotivasi peserta didik. Guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) berperan dalam mengajarkan nilai-nilai spritual dan memotivasi peserta didiknya. Guru PAK harus memahami konsep-konsep motivasi sehingga mampu berfungsi sebagai fasilitator perkembagan peserta didik, baik yang menyangkut aspek intelektual, emosional, sosial, maupun mental spiritual.
PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN ANTISIPATIF RADIKALISME DALAM BERAGAMA DI INDONESIA Fredik Melkias Boiliu; Noh Ibrahim Boiliu; Esther Rela Intarti
Regula Fidei: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 4, No 2 (2019): September 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Kristen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.755 KB) | DOI: 10.46307/rfidei.v4i2.37

Abstract

This article is an attempt to include Christian religious education as religious education that is antipative to radicalism in religion in Indonesia. Indonesia is a diverse country in religion, in this case, there are religious names that are recognized in the Indonesian nation. The six religions are Islam, Christianity, Catholicism, Hinduism, Buddhism, and Confucianism. Religious radicalism is an act of a person or group of people that is contrary to humanitarian principles on the basis of religious beliefs. With a tendency to justify, support, or tolerate understandings or actions that are contrary to humanitarian principles on the basis of claims of religious understanding. Seeing this phenomenon, then to overcome it must be through teaching religious education. Christian religious education is an appropriate religious education to anticipate the understanding of religious radicalism that is happening and will occur in the life of the community, through teaching Christian religious education in families, churches, schools and plural societies Artikel ini merupakan upaya untuk memasukan pendidikan agama Kristen sebagai pendidikan agama yang antipatif terhadap radikalisme dalam beragama di indonesia. Indonesia merupkan Negara yang beragam dalam beragama, dalam hal ini, ada enama agama yang di akui di bangsa Indonesia keenam agama tersebut adalah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konhucu. Radikalisme agama merupakan tindakan seseorang atau sekelompok orang yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan atas dasar keyakinan agama. Dengan kecenderungan untuk membenarkan, mendukung, atau menoleransi paham atau tindakan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan tersebut atas dasar klaim paham keagamaan. Melihat fenomena tersebut, maka untuk mengatasinya harus melalui pengajaran pendidikan agama. Pendidikan agama Kristen merupakan pendidikan agama yang tepat untuk mengantisipasi paham radikalisme agama yang sedang terjadi dan yang akan terjadi dalam kehidupam masyarakat, melalui pengajaran pendidikan agama Kristen di keluarga, gereja, sekolah dan masyarakat majemuk.
Program Tutorial Mata Kuliah Etika Kristen sebagai Pembentukan Konsep Diri Mahasiswa Esther Rela Intarti; Noh Ibrahim Boiliu
Jurnal Basicedu Vol 6, No 1 (2022): February, Pages 1-1500
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v6i1.1721

Abstract

Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai institusi pendidikan, Universitas Kristen Indonesia (UKI) tentu dituntut untuk mendidik para mahasiswa agar para mahasiswa dapat menjadi manusia yang utuh, berilmu, cerdas, tangguh, dan berkarakter. Upaya untuk membangun manusia yang tangguh dan berkarakter ini sejalan dengan nilai-nilai kekristenan yang seharusnya dipahami oleh para mahasiswa. Untuk mengimplementasikan nilai-nilai kristiani bagi para mahasiswa, Unit Pelayanan Kerohanian dan Konseling (UPKK)  UKI melalui mata kuliah Etika Kristen membuat program tutorial etika kristen yang bertujuan agar mahasiswa mengenali konsep diri dan memahami tujuan hidup yang bermakna sehingga menjadi manusia yang tangguh dan berkarakter sesuai dengan nilai-nilai kristiani. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui program tutorial etika Kristen dapat bermanfaat dan diterima oleh para mahasiswa Berdasarkan hasil analisis bahwa rancangan program tutorial mata kuliah Etika Kristen ini terstruktur dengan baik sehingga berdampak positif bagi para mahasiswa. Program tutorial mata kuliah Etika Kristen di UKI diperuntukkan bagi mahasiswa baru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif.