Lusiana Limono
Forum Kriya Kontemporer Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Membaca Ke-indonesia-an Dalam Karya Wastra Merah Putih Lusiana Limono
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 5 No. 2 (2017): Media, Kebudayaan dan Identitas
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/.v5i2.52

Abstract

Abstrak: Gemuruhnya hembusan isu SARA di tengah masyarakat bisa berakibat pada perpecahan antar anak bangsa. Para aktor kreatif ingin menyuarakan isi hatinya, mengungkapkan dengan bahasa kreatif, “mengingatkan” bukan “memperingatkan” bahwa Indonesia milik semua Warga Negara Indonesia dengan segala macam keberagaman yang ada. “Pameran Merah Putih’ adalah hadiah ulang tahun yang ke-72 bagi Republik Indonesia dari para seniwati kriya Indonesia. Beberapa karya seniman dalam pameran karya Wastra Merah-Putih memiliki ”bahasa” yang paralel dalam mengekspresikan Nasionalisme. Lebih jauh lagi bisa dilihat bagaimana kreatifitas mereka secara tidak langsung sudah diberi koridor ”Merah-Putih” oleh penggagas pameran. Selain kriya, pameran ini juga diberi narasi yang turut membangun konteks melalui sesi pemutaran fim Athirah karya Riri Riza yang di dalam beberapa adegannya menggambarkan keindahan kain-kain Bugis dan peran sosial kain Bugis tersebut. Komunitas Wastra menggunakan tanda-tanda: Warna Merah-Putih, Soekarno, Basuki Tjahja Purnama (Ahok), peta Indonesia, Pancasila dan turunannya, mainan tradisional Indonesia, rumah serta benda-benda tradisional untuk merepresentasikan ”Indonesia”. Tulisan ini memetakan karya-karya yang dipamerkan yang merupakan representasi dari budaya visual antar-”anggota” kriyawati wastra ini, serta sekaligus menggambarkan pola penciptaan makna melalui simbol-simbol, tanda-tanda, serta bentuk yang kemudian menjadi media untuk berdialog tentang Indonesia. Abstract: The rumble of the issue of racial intolerance in society can result in the split between the peoples. Craft artists expressed their hearts with creativities to ”remind” not to ”warn” that Indonesia belongs to all Indonesian citizens with all kinds of diversity that exists. ”Merah Putih Exhibition” is the 72nd birthday present for the Republic of Indonesia from Indonesian craft artists. Some works of artists in the Wastra Merah-Putih exhibition have a parallel ”language” in expressing Nationalism. Furthermore, it can be seen how their creativity has been indirectly given the ”Red-and-White” corridor by the initiator of the exhibition. In addition to the craft, this exhibition is also given a narrative that helped build the context through the screening session of Riri Riza’s movie, Athirah, which in some scenes depicts the beauty of Bugis fabrics and the social role of the Bugis fabric. The Wastra community uses signs: Red and White colors, Soekarno, Basuki Tjahja Purnama (Ahok), Indonesian map, Pancasila and its derivatives, traditional Indonesian toys, houses and traditional objects to represent ”Indonesia”. This paper maps the exhibited works which are representations of the visual culture among these ”members” of wisdom, and simultaneously describes the pattern of meaning creation through symbols, signs, and forms which later became the medium for dialogue about Indonesia.
TRANSFORMASI PRAKTIK KRIYA TEKSTIL RUMAHAN PADA PEREMPUAN MASYARAKAT URBAN Lusiana Limono
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 10 No. 2 (2022): Metamorfosis
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/jsrw.v10i2.149

Abstract

Praktik kriya seperti menyulam, merajut, dan menjahit merupakan beberapa kegiatan kriya tekstil yang biasa dilakukan oleh perempuan di rumah atau ruang domestik. Tulisan ini menelusuri perubahan praktik kriya tekstil rumahan yang dilakukan perempuan urban di masa kini, terutama terkait disrupsi digital dan pandemi. Metode penelitian kualitatif dilakukan melalui penyebaran angket dan wawancara. Penelitian dilakukan di Kota Malang pada sekelompok pelajar SD hingga mahasiswa, serta komunitas perca di kota Malang dengan rentang usia 10 tahun hingga 75 tahun. Selain itu, penelitian melalui lokakarya daring melibatkan peserta dari beberapa kota besar, seperti Jabodetabek dan Surabaya. Penelitian seni berbasis praktik memungkinkan peneliti untuk berjarak sekaligus berada di dalam proses penelitian.. Hasil penelusuran memperlihatkan adanya transformasi pada praktik kriya tekstil rumahan yang dilakukan masyarakat urban, khususnya perempuan pelaku kriya tekstil rumahan. Transformasi terkait dengan metode dan kualitas atau nilai yang dianggap penting bagi pelaku kriya tekstil rumahan. Transformasi secara bertahap bisa dikatakan sebagai metamorfosis, sebuah proses perubahan bentuk dalam rangkaian perkembangan atau pertumbuhan. Dalam pengertian tersebut, maka transformasi dalam praktik kriya tekstil bisa diartikan sebagai semangat metamorfosis. Dari hasil tersebut, ditemukan bahwa praktik kriya tekstil rumahan mempunyai kemampuan adaptasi berkaitan dengan kualitas hidup yang lebih baik bagi perempuan urban.  Â