Dhyani Widiyanti
Universitas Katolik Sanata Dharma Yogyakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kajian Psikobiografi Seniman dan Aspek Dekonstruksi dalam karya rupa: Christine Ay Tjoe, Angki Purbandono, Dan Ugo Untoro Dhyani Widiyanti
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 9 No. 2 (2021): Seni, Pandemi dan Kreativitas
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/jsrw.v9i2.117

Abstract

Analisis atas karya rupa tidak hanya bisa dilakukan melalui bentuk-bentuk formal yang ada di dalam karya rupa itu sendiri saja, melainkan bisa juga melalui pembacaan secara psikologis dari kehidupan dan latar belakang seniman. Penelitian ini berupaya menelusuri aspek psikobiografi dari seniman Christine Ay Tjoe, Angki Purbandono, dan Ugo Untoro, untuk menemukan aspek dekonstruksi dalam karya-karyanya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi dan studi literatur. Observasi dilakukan terhadap enam karya rupa dari tiga seniman tersebut, sementara studi literatur digunakan terhadap dua jenis teks yaitu yang pertama, teks yang berkaitan dengan kehidupan seniman yang disarikan dari berbagai sumber dan yang kedua adalah teks yang berkaitan dengan psikobiografi dan dekonstruksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada Christine Ay Tjoe, aspek psikobiografi terkait dengan konsep menggambar, alam/ lingkungan, dan kegelapan potensial, pada Angki Purbandono, aspek psikobiografi terkait dengan konsep mesin pemindai, ganja, dan penjara, sementara pada Ugo Untoro, aspek psikobiografi terkait dengan konsep kuda, pelacuran, dan eksplorasi seni sebagai bahasa. Pada ketiganya, dekonstruksi terjadi baik dari segi interiotas yang terhubung dengan perjalanan hidup dan renungan-renungannya yang lepas dari berbagai stereotip, serta dari segi eksterioritas yang terlihat dari perwujudannya dalam karya yang eksploratif dari segi medium maupun penempatan objek yang mencoba untuk tidak taat pada pakem-pakem yang ada. Analysis of a visual work can not only be made by studying the formal forms that exist in the work itself, but it can also be undertaken through a psychological interpretation of the artist's life and background. This study seeks to explore the psychobiographical aspects of artists Christine Ay Tjoe, Angki Purbandono, and Ugo Untoro, to find the deconstruction aspects in their works. This study applies qualitative methods using data collection techniques in observations and literature studies. Observations were made on the six visual-works of the three artists, while literature studies were conducted on two types of texts, viz. first, texts related to the artist's life extracted from various sources and second, texts related to psychobiography and deconstruction. The results of this study indicate that in Christine Ay Tjoe works, psychobiographical aspects are related to the concept of drawing, nature / environment, and potential darkness, in Angki Purbandono’s, psychobiographical aspects are related to the concepts of scanning machines, marijuana, and prison, while in Ugo Untoro’s, psychobiographical aspects are related to the concept of horses, prostitution, and exploration of art as language. In the three of them, deconstruction occurs both in terms of interiority which is connected to the journey of life and reflections that are detached from various stereotypes, as well as in terms of exteriority which can be seen from its manifestation in the exploratory works in terms of medium and the placement of objects that attempts to disobey standards and existing rules.
Narsisme Perempuan Urban melalui Simulakra Perhiasan di Media Sosial sebagai Bentuk Endorsement Dhyani Widiyanti
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 25, No 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v25i2.5553

Abstract

Kehadiran media sosial yang semakin marak telah membuat fungsinya tidak lagi sebatas media untuk bersosialisasi, tetapi juga untuk hal-hal lain seperti media promosi, komersialisasi, dan bahkan pembentukan citra diri. Hal ini dapat dilihat melalui fenomena munculnya berbagai bentuk dukungan atau endorsement dari produk-produk tertentu terhadap orang atau akun yang dianggap terkenal atau punya pengaruh di publik sebagai bagian dari strategi promosi. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi terhadap konten perempuan urban yang menggunakan media sosial untuk memamerkan produk perhiasan yang melakukan endorsement dan studi literatur terhadap konsep narsisme dan simulakra. Hasil penelitian ini menunjukkan produk perhiasan melakukan endorsement terhadap perempuan urban dengan perilaku narsisme karena pertama, memfasilitasi kebutuhan perempuan urban untuk bereksistensi atau mendapat pengakuan, dan yang kedua, perilaku narsisme di era media sosial menjadi menarik untuk dikomodifikasi dan jadi konsumsi publik. Simulakra di sini ditunjukkan melalui penggunaan media sosial yang tidak lagi menjadi simulasi terhadap suatu realitas, melainkan justru mengkonstruksi realitas baru. Artinya, apa yang ditampilkan di media sosial bukanlah simulasi realitas dari apa itu perempuan urban, tetapi konstruksi realitas baru tentang perempuan urban.
The Meaning of Non-Precious Material Jewelry and Its Relation to Anxiety in Urban Socialite Women Dhyani Widiyanti
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 27, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v27i3.9203

Abstract

The research entitled The Meaning of Non-Precious Material Jewelry and Its Relation to Anxiety in Urban Socialite Women is intended to analyze the non-precious material jewelry worn by these women in Jakarta and its relation to the state of anxiety they experience. This research is qualitative research that uses semi-structured interviews with six informants who are selected based on purposive sample criteria. The results of the interviews were analyzed utilizing Zygmunt Bauman's theory as written in Liquid Fear (2006). The conclusions of this study indicate that socialite urban women consider the ownership and use of non-precious material jewelry as not mere accessories but is associated to a deeper meaning. Socialite urban women experience a state of anxiety both internally and externally. The possession and use of non-precious material jewelry is an effort to overcome anxiety which is connected to identity and uncertainty. Socialite urban women make the possession and use of non-precious material jewelry as a way to have fun, an escape from "liquid fear", namely fear of uncertainty, including that of career, family, friendship, existential questions such as God and anxiety concerning death.