Para pengemudi ojek daring memiliki cara yang unik untuk mendapatkan orderan. Mereka tidak hanya pasif menunggu distribusi order melalui aplikasi, tetapi mereka mencoba untuk menjemput bola dengan berbagai upaya. Salah satunya dengan menjalin komunikasi dengan komunitas pengemudi yang mereka miliki. Hal inilah yang menarik minat peneliti untuk mengkaji pola komunikasi pengemudi ojek daring Grab di Malang dalam upaya mendapatkan orderan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian yaitu study Etnografi komunikasi. Penelitian ini menggunakan paradigma interpretif yang mengkhususkan pada penemuan berbagai pola komunikasi yang digunakan oleh manusia dalam sebuah masyarakat tutur. Hal ini dilakukan dengan mengamati tiga tahapan yaitu 1. Identifikasi peristiwa komunikasi yang terjadi secara berulang. (Recurrent Event) menunjukkan bagaimana identifikasi peluang pemesanan jasa ojek daring yang dilakukan dengan menandai dan berbagi informasi tentang pelanggan 2. Inventarisasi komponen komunikasi yaitu dengan adanya grup whatsapp dan penggunaan kode verbal dan nonverbal dalam proses interaksi dan komunikasi. Seperti adanya istilah suhu, longtrip, gacor, anyep dan sebagainya. Selain itu juga penggunaan kode nonverbal lambaian tangan, membunyikan klakson dan mengedipkan lampu juga digunakan. Ke-3 Menemukan pemolaan komunikasi dengan temuan bahwa Pola Komunikasi pengemudi ojek daring dilakukan secara langsung maupun menggunakan media sosial, baik saat mereka sedang berkumpul atau pada saat mereka sedang dalam perjalanan. Predikat ‘Suhu’ yang diberikan kepada pengemudi yang beruntung mendapatkan order longtrip menjadikan pengemudi tersebut melakukan role taking untuk menunjukkan performa terbaik mereka