Burung puyuh menjadi salah satu komoditas usaha ternak unggas sebagai penghasil telur serta daging yang memiliki potensi besar di Indonesia. Pakan merupakan salah satu faktor dari 70% dari total biaya pemeliharaan yang utama dalam pemeliharaan puyuh. Biasanya para peternak puyuh memakai pakan komersial sebagai pakan namun harga pakan komersial relatif mahal. Oleh karena untuk mengatasihal tersebut pemberian salah satu bahan pakan alternatif sumber protein untuk mengurangi biaya pakan. Ulat kandang mempunyai kandungan protein kasar 48%, kadar abu 3%, lemak kasar 40% serta kandungan ekstrak non nitrogen 8%, sedangkan kandungan airnya mencapai 57%. Penelitian ini dilakukan selama 1 bulan yaitu selama bulan Maret – April 2019. Pemeliharaan dilakukan di kandang UPT Agri Science Tehnopark Universitas Islam Lamongan yang beralamatkan Jl. Veteran No. 53 A Lamongan. Tujuan penelitiann ini ialah untuk menlihat adakah pengaruh penambahan tepung ulat kandang pada ransum terhadap kualitas telur (indeks telur, warna kuning telur, dan tebal kerabang) puyuh petelur. Metode penelitian memakai rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan, 3 pengulangan dan setiap pengulangan menggunakan 10 ekor puyuh dengan jenis kelamin betina. Adapun perlakuan P0: 0%, P1: 1%, P2: 2%, dan P3: 3% dalam ransum pakan puyuh petelur. Hasil penelitian menunjukan bahwa rataan indeks telur puyuh selama penelitian pada perlakuan P0 (78,59±0,80 mm), P1 (78,68±0,51 mm) P2 (78,29±0,73 mm), dan P3 (77,91±0,24 mm). Rataan tebal kerabang telur P0 (0,20±0,00 mm), P1 (0,21±0,01 mm), P2 (0,20±0,00 mm), dan P3 (0,20±0,00 mm). Rataan warna kuning P0 (6,19±0,34) P1 (6,00±0,17) P2 (6,39±0,46) dan P3 (6,33±0,44). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pengaruh penambahan tepung ulat kandang (Alphitobius diaperinus) dengan taraf 1%, 2%, 3% pada ransum terhadap kualitas telur (indeks telur, warna kuning telur, dan tebal kerabang) burung puyuh petelur (Coturnix coturnix japonica) secara statistik tidak berpengaruh nyata (P>0.05) pada setiap perlakuanya akan tetapi secara numerik hasil penelitian cenderung naik seirin dengan penambahan taraf tepung ulat kandang 1-3%.