Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Resistensi Kepapuaan Dalam Ruang Publik Kota; Analisa Sosio-Budaya Atas Fenomena Tidak Berhelm Mahasiswa Papua di Yogyakarta Efraim Mangaluk
Jurnal Noken: Ilmu-Ilmu Sosial Vol. 4 No. 2 (2019): June 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/jn.v4i2.452

Abstract

Penelitian ini berjudul Resistensi Kepapuaan Dalam Ruang Publik Kota; Analisa Sosio-Budaya Atas Fenomena Tidak Berhelm Mahasiswa Papua Di Yogyakarta. Penelitian ini berlangsung bulan Juli sampai dengan September 2015. Penelitian ini mengeksplorasi gejala-gejala resistensi mahasiswa Papua yang berangkat dari fenomena tidak behelm pada jalan-jalan di kota Yogyakarta. Berbeda dengan pengendara motor yang cenderung tidak berhelm dengan alasan dasar juvenile delinquency (pelanggaran murni) di seputar jalan-jalan non protokol, mahasiswa Papua melakukan pelanggaran aturan tidak berhelm diseluruh jenis jalan, baik pada jalan-jalan kompleks perumahan, hingga jalan arteri dan jalan protokol. Perilaku melanggar aturan lalu lintas yang berupa tidak mengenakan helm saat mengendarai sepeda motor yang diikuti dengan tindakan perlawanan ketika pelakunya ditindak aparat polisi menunjukkan adanya resistensi oleh mahasiswa Papua kepada otoritas hukum di Yogyakarta. Hal ini dipengaruhi oleh persoalan identitas kepapuaan dan dinamika kesejarahan yang terbawa dari Papua.Fenomena tidak berhelm mahasiswa Papua di Yogyakarta berkaitan erat dengan ‘ritual’ resistensi atau sebagai tindakan resistensi yang dikonsepkan Michel Foucault (1979). Dalam kerangka dasar pemikiran seperti ini, tidak berhelm dapat dipahami sebagai suatu bentuk performance yang merepresentasikan atau membahasakan resistensi tersebut. Representasi ini tidak hanya terjadi melalui argumen atau wacana yang dibicarakan, tetapi juga dengan kehadiran mereka di jalanan (ruang publik), melalui tubuh dan kebertubuhan. Dengan cara ini, pemahaman akan tubuh dan kebertubuhan mahasiswa Papua yang sedang dalam keadaan tidak berhelm sebagai teks, arsip, wacana dan tubuh yang bisa berbicara, tubuh yang bisa merespon dalam kaitan dengan dominasi dan hegemoni kekuasaan atas tanah dan diri mereka sebagai orang-orang Papua, dan atas ‘nation of Papua’ yang bagi mereka telah ada sekian lamanya. Kehadiran mahasiswa Papua di Yogyakarta mengalami dinamika tersendiri, ada banyak persoalan yang terjadi sehubungan dengan besarnya pengaruh latar belakang budaya, sosial dan politik jika amati dari perspektif multidimensional kepapuaan. Perangkat persoalan yang melekat dalam diri orang Papua cenderung selalu terbawa ke mana mereka pergi, bahkan ketika persoalan itu dipegang kuat oleh mahasiswa Papua untuk diperjuangkan.
Pelatihan Pembuatan Keripik Pisang Aneka Rasa Bagi Mama-Mama Papua di Kampung Yongsu Desoyo : Pengabdian Yulius Gae Lada; Efraim Mangaluk; Selmi Y. Stefanie; Ermy D. Sumanik; Yoas J. Hoor
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.5562

Abstract

Komoditas pisang merupakan pangan lokal unggulan di Kampung Yongsu Desoyo, Distrik Raveni Rara, namun pemanfaatannya masih terbatas pada penjualan dalam bentuk buah mentah atau tandan dengan nilai ekonomi yang rendah. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai tambah produk pisang melalui pengolahan menjadi keripik pisang aneka rasa. Pelatihan dilakukan selama dua hari dengan melibatkan Mama-mama Papua sebagai sasaran utama. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan kontekstual yang meliputi dialog terbuka, pendampingan intensif, dan praktik langsung (demonstrasi). Materi pelatihan mencakup pemahaman komoditas, teknik pengolahan keripik, desain kemasan yang menarik, hingga strategi pemasaran digital melalui media sosial. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada aspek kognitif dan psikomotorik peserta. Mama-mama Papua kini mampu menghasilkan produk keripik pisang yang variatif, memiliki daya tarik visual melalui kemasan modern, dan memahami cara mempromosikan produk secara mandiri. Inovasi ini tidak hanya memberikan nilai tambah pada hasil kebun, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi berbasis kearifan lokal di Kampung Yongsu Desoyo.
Dekolonisasi Ekonomi dan Konservasi Hutan Berbasis Adat dalam Kosmologi Ekologis Masyarakat Tepera di Distrik Ravenirara Kabupaten Jayapura Efraim Mangaluk; Yulius Gae Lada; Paulus Mandibondibo; Frank Leonardo Apituley; Amadion Andika Wanaputra; Silvans Tande Bura
Jurnal Noken: Ilmu-Ilmu Sosial Vol. 12 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/jn.v12i1.5581

Abstract

The ecological crisis of the Anthropocene demands a re-evaluation of the technocratic conservation paradigm, which tends to subordinate the ontologies of Indigenous peoples. This study aims to reconstruct the ecological cosmology of the Tepera indigenous community in Yongsu Desoyo Village, Ravenirara District, Jayapura Regency, and to formulate a model of economic decolonization grounded in local wisdom. Employing a critical ethnographic approach through in-depth interviews with customary leaders and participant observation, the research is framed by Habermasian Modernity theory and a Critical-Practical Policy perspective. The findings reveal three principal results. First, the philosophy of Bu Suwe Kani Suwe (The Power of Water is the Power of Land) articulates a triadic water-land-tree paradigm that constitutes the ontological foundation of pre-colonial conservation practices, while the concept of Desoyo as "I am the Village Sprout" affirms that customary sovereignty is rooted in the ancestral ethnoecological verification protocols. Second, the "Sago Tree" metaphor functions as a socio-political mechanism of resilience that positions customary leadership as a source of equitable livelihood distribution. Third, the 2019 flash flood exemplifies the colonization of the lifeworld by system logic, generating a twofold vulnerability of ecological degradation and economic precarity. This study proposes a "government-as-distributor" model to sever dependency on extractive economies, while advocating the integration of customary law into public policy to facilitate Yongsu Desoyo's transition toward Customary Village (Kampung Adat) status.
Peningkatan Nilai ekonomi produk tanaman pangan dan perkebunan melalui teknologi tepat guna di Arso IV, Kabupaten Keerom Papua Yulius Gae Lada; Novita Condro; Efraim Mangaluk; Triana M. Kubelaborbir; Ermy D. Sumanik
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.41254

Abstract

Abstrak Kawasan Arso IV, Kabupaten Keerom, memiliki potensi agraris yang melimpah pada komoditas keladi dan kakao, namun mayoritas petani masih menjual hasil panen dalam bentuk bahan mentah (raw material) yang memicu fluktuasi harga dan rendahnya pendapatan. Permasalahan ini diperparah oleh keterbatasan pengetahuan masyarakat dalam melakukan diversifikasi produk serta minimnya penerapan standar pascapanen, khususnya proses fermentasi kakao. Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk memberdayakan kelompok ibu-ibu PKK/KWT sebagai pengelola hilirisasi dan bapak-bapak tani sebagai penyedia bahan baku di Kampung Arso IV melalui pendekatan partisipatif bottom-up. Metode pelaksanaan yang digunakan meliputi sosialisasi dan demonstrasi audiovisual (penayangan video tutorial secara terstruktur tanpa praktik langsung di tempat), yang mencakup aspek manajemen usaha agrisbisnis, diversifikasi pengolahan keladi menjadi keripik, dan pencetakan cokelat batang sesuai standar higienitas serta parameter teknis. Evaluasi hasil kegiatan menunjukkan pencapaian yang optimal, di mana aspek kognitif peserta mengalami peningkatan pemahaman melampaui target minimal 75% dari kondisi awal, serta aspek psikomotorik prosedural berhasil membekali peserta dalam mengenali tahapan kritis dan parameter teknis pengolahan. Kegiatan ini telah terlaksana dengan baik serta mendapat respons positif dan antusiasme tinggi dari para peserta. Sebagai tindak lanjut, program ini direkomendasikan untuk dilanjutkan dengan fasilitasi bantuan alat tepat guna dan pendampingan pemasaran guna memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. Kata kunci: diversifikasi produk; pemberdayaan perempuan; kakao; keladi; demonstrasi audiovisual. Abstract Arso IV region in Keerom Regency possesses abundant agricultural potential, particularly in taro (keladi) and cocoa commodities. However, the majority of farmers still sell their harvest in the form of raw materials, which triggers price fluctuations and low incomes. This problem is exacerbated by the community's limited knowledge in product diversification and the minimal implementation of post-harvest standards, especially proper cocoa fermentation processes. This Community Service Program (PkM) aims to empower PKK/Women Farmers Groups (KWT) as downstream management agents and male farmers as raw material suppliers in Arso IV Village through a participatory bottom-up approach. The implementation method utilized socialization and audiovisual demonstrations (structured video tutorial screenings without direct hands-on practice on-site), covering aspects of agribusiness management, taro chips processing diversification, and chocolate bar molding in accordance with hygiene standards and technical parameters. The evaluation of the activity showed optimal achievements, wherein the participants' cognitive aspect experienced an increase in understanding exceeding the minimum target of 75% from the initial condition, and the procedural psychomotor aspect successfully equipped participants in recognizing critical stages and technical parameters of processing. The activity was successfully implemented and received a positive response and high enthusiasm from the participants. As a follow-up, the program is recommended to be continued with appropriate technology tool assistance and marketing mentoring to strengthen community economic independence sustainably. Keywords: product diversification; women empowerment; cocoa; taro; audiovisual demonstration.