Isputaminingsih Isputaminingsih
Universitas Sriwijaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Sejarah Islam: Kasus Sekularisme Turki Isputaminingsih Isputaminingsih
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v3i1.4753

Abstract

Kekuasaan Kesultanan Turki Utsmani dengan Syaikhul Islam-nya, sebagai sebuah lembaga agama berpendapat bahwa Islam tidak cocok dengan sekularisme. Pemikiran ini bertitik tolak pada pandangan Sultan,”ideologi politik dan negara tidak mungkin dipisahkan  dari konsep Islam yang tidak memisahkan urusan negara dari urusan agama”. Pandangan ini bertolak belakang sejalan dengan perkembangan sejarah masyarakat Turki yang beriringan dengan masuknya imperialisme Barat ke dunia Islam yang membawa konsep pemikiran sekularismenya yaitu memisahkan urusan politik (Negara) dari agama. Konsep sekularisme ini akhirnya mempengaruhi golongan modernis Turki di bawah pimpinan Kemal Ataturk menuju Turki Modern yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa Kemal Ataturk melaksanakan politik sekularismenya? Bagaimana Turki dapat melaksanakan politik sekularismenya mengingat mayoritas masyarakatTurki beragama Islam? Oleh karena itu, sudah sepatutnya umat Islam lebih terbuka dalam mendeskripsikan ajaran Islam berdasarkan Al­-Qur’an dan Hadis sesuai dengan kontekstualnya bukan hanya melihat tekstualnya saja. Persoalan yang timbul adalah, dapatkah Islam dan sekularisme terjalin secara sinergi? tentunya hal ini susah untuk dijawab. Namun alangkah eloknya jika persoalan ini dikembalikan pada cara pandang atau  interpretasi kita terhadap  agama dan  sekularisme  yang dipahami. Materi sekularisme Turki ini perlu dijadikan materi pembelajaran dalam mata kuliah Sejarah Islam karena sekularisme yang dilaksanakan Turki ini berpengaruh pada perkembangan sejarah Islam dalam konsep  pemerintahan.Kata Kunci:  Islam, Sekularisme, Turki
Membangun Budaya Harmonis dan Religius di Era Global Isputaminingsih Isputaminingsih
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v3i2.4760

Abstract

Pada era globalisasi sekarang ini, sangat penting bagi bangsa-bangsa dan negara-negara di dunia, untuk melakukan rekonstruksi peradabannya dalam kerangka membangun budaya harmonis dan religius.  Di dalam masyarakat manusia yang sudah mengglobal, akan terjadi pola-pola hubungan sosial yang berbeda dari sebelumnya di mana  kemudahan berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan jaringan komunikasi yang menjangkau setiap pelosok hunian manusia akan menciptakan komunitas global dimana anggota-anggotanya akan saling kenal dengan berbagai  etnis dan budayanya.  Pola-pola hubungan sosial baru ini dimungkinkan karena kemajuan sains dan teknologi yang dilahirkan oleh peradaban Barat moderen. Melalui kemajuan  teknologi informasi, dunia yang sebelumnya  diklasifikasikan menjadi Barat dan Timur, Utara dan Selatan, desa dan kota, pada era globalisasi, pembagian itu terasa tidak penting lagi. Dunia telah menjadi satu kesatuan di mana masyarakat yang ada di dalamnya, terlepas dari latar belakang etnis, bahasa dan agama telah mejadi satu, yaitu kesatuan manusia. Untuk itu komunikasi yang harmoni antar umat yang mengacu pada nilai-nilai humanity dan toleransimelalui dialogis haruslah dibudayakan.Kata kunci: Membangun Budaya, Harmonis, Religius, Globalisasi