p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Pendidikan Guru
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Korelasi Peran Orang Tua dan Guru Berbasis Online di Rumah dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Erlina Neni Indriyani
Jurnal Pendidikan Guru Vol 2 No 1 (2021): Jurnal Pendidikan Guru
Publisher : Yayasan Literasi Kita Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47783/jurpendigu.v2i1.185

Abstract

Karya Ilmiah ini bertujuan untuk menjelaskan peran orang dan guru dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis online. Karya Ilmiah ini menunjukan bahwa pembelajaran online yang dilakukan di rumah berdampak positif dan negatif. Dampak positifnya yaitu 1) materi dapat diakses oleh pelajar dimanapun dan kapanpun; 2) pelajar dapat melakukan pembelajaran atau membaca materi sambil melakukan kegiatan santai; 3) aman dari virus Corona; dan 4) mayoritas orang tua menjadi melek akan informasi dan teknologi. Dampak negatifnya yaitu 1) kejahatan cyber yang dapat menyerang aplikasi-aplikasi pembelajaran online atau daring; 2) kegiatan belajar mengajar yang tidak sama efektifnya dengan pembelajaran tatap muka; 3) tugas yang menumpuk; 4) penguasaan orang tua dan guru akan teknologi masih rendah; dan 5) keterbatasan sarana dan prasarana (kuota, sinyal, biaya, pendidikan orang tua dan lain-lain). Pemanfaatan pembelajaran online perlu dipahami dan disadari oleh orang tua, guru, sekolah, dan pemerintah.
PROFESIONALITAS GURU PAI DALAM MENUMBUH KEMBANGKAN KECERDASAN SPIRITUAL PESERTA DIDIK DI ERA MERDEKA BELAJAR DI SD NEGERI 086/X HARAPAN MAKMUR Erlina Neni Indriyani
Jurnal Pendidikan Guru Vol 3 No 2 (2022): Jurnal Pendidikan Guru
Publisher : Yayasan Literasi Kita Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47783/jurpendigu.v3i2.336

Abstract

Profesionalitas adalah keseluuruhan reaksi psikologi dan sosial seorang anak didik mengembangkan kompetensi untuk melaksanakan tugas dan fungsinya secara baik dan benar dan juga komitmen dari para anggota dari sebuah profesi untuk meningkatkan kemampuan dari seorang anak. Selama ini ada anggapan yang keliru mengenai peserta didik yang berkualitas. Lembaga pendidikan bertahun-tahun mengagungkan prestasi peserta didik hanya dari perolehan nilai-nilai hasil ujian yang bersifat matematis saja, sedangkan kematangan kepribadian yang diperlihatkan dari nilai etika seakan diabaikan. Begitu pula fenomena yang terjadi dalam keluarga dan masyarakat. Ranking kelulusan dianggap sebagai cerminan kualitas anak, yang baru didominasi oleh kemampuan intelektualnya saja. Pada hal kalau kita amati kecerdasan rapor (IQ, IP) hanya mengukur kemampuan bahasa dan metematika, sementara kreativitas, kapasitas emosi, nuansa spiritual, dan hubungan sosial tidak diukur oleh IQ. Artikel ini merupakan hasil penelaahan dengan menggunakan studi pustaka dari beberapa referensi yang mendukung gagasan. Selanjutnya ditelaah sesuai dengan alur penulisan ilmiah. Adapun sistematika dalam penulisan ini terdiri dari pendahuluan, isi dan simpulan. Isi pembahasan dari artikel ini mengkaji tentang “strategi peningkatan kecerdasan spiritual anak sekolah di dasar”. Berdasarkan hasil penelusuran dari berbagai referensi menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual bukan menjadi satu-satunya barometer kesuksesan seseorang. Namun ada kecerdasan yang lebih penting dan mampu membawa seseorang menjadi lebih sukses yaitu kecerdasan spiritual. Karena kecerdasan spiritual adalah inti dari kesadaran yang membuat orang mampu menyadari siapa dirinya dan bagaimana orang memberi makna terhadap kehidupan. Agar kecerdasan spiritual itu selalu terpatri dalam diri peserta didik, maka lembaga pendidikan formal dalam hal ini sekolah dasar, perlu meningkatkan kecerdasan spritual pada peserta didik. Terkait dengan hal tersebut, ada beberapa strategi yang dapat dilakukan antara lain; (1) guru menjadi teladan bagi peserta didik; (2) membantu peserta didik merumuskan missi hidup mereka; (3) baca Al-Qur?an bersama peserta didik dan jelaskan maknanya dalam kehidupan nyata; (4) menceritakan pada peserta didik tentang kisah-kisah agung dari tokoh-tokoh spiritual; (5) mengajak peserta didik berdiskusi dalam berbagai persoalan dengan perspektif ruhaniah; (6) mengajak peserta didik kunjungan ke tempat-tempat orang yang menderita; (7) melibatkan peserta didik dalam kegiatan keagamaan; (8) membacakan puisi-puisi atau lagu-lagu dan mendengarkan musik yang bersifat spiritual dan inspirasional; (9) mengajak peserta didik menikmati keindahan alam; (10) mengikutsertakan peserta didik dalam kegiatan-kegiatan sosial. Merdeka Belajar artinya guru dan muridnya memiliki kebebasan untuk berinovasi, kebebasan untuk belajar dengan mandiri dan kreaktif. Fungsi dari bentuk kemerdekaan peserta didik dalam belajar. Peserta didik dibebaskan untuk berpikir kreatif dan berinovasi dengan harapan akan terbentuk karakter.