Ada sekitar 793 juta orang dewasa (usia 15 tahun ke atas) di dunia yang masih tuna aksara, lebih dari 500 juta dari mereka adalah perempuan. Hampir 79% dari penduduk tuna aksara berasal dari negara-negara E-9. Sebagian besar dari mereka tidak pernah mengenyam pendidikan dan menjadi tuna aksara karena putus sekolah atau sekolah yang memprihatinkan. Tidak terlalu banyak ditemukan informasi tentang pembiayaan program keaksaraan orang dewasa. Berdasarkan Konferensi Internasional Pendidikan Orang Dewasa Keenam (CONFINTEA V1) yang selenggarakan di Brazil pada akhir tahun 2009, anggaran pemerintah yang dialokasikan untuk program keaksaraan orang dewasa sangatlah rendah. Rendahnya alokasi dana di sebagian besar negara menunjukan rendahnya komitmen politik untuk keaksaraan orang dewasa. Pada kenyataanya, anggaran untuk keaksaraan orang dewasa tidak pernah melebihi angka 1% dan total anggaran pendidikan. Sebagai contoh Indonesia memghabiskan 0,72% untuk keaksaraan orang dewasa dan Afrika Selatan 0,12%. Angka-angka tersebut harus disyukuri, karena banyak negara-negara lain yang presentase anggaran keaksaraan orang dewasanya mendekati angka nol. Meskipun pemerintah seringkali menjadi sumber utama pendanaan, sektor swasta, mitra pembangunan masyarakat sipil dan individu mendominasi sumber pendanaan dunia untuk keaksaraan orang dewasa. Para pengusaha di sektor swasta juga berinvestasi dalam pelatihan keterampilan meskipun hanya memainkan sedikit peran dalam peningkatan keaksaraan orang dewasa. Masyarakat sipil seperti NGOs' memiliki peran penting dalam penyediaan berbagai sumber daya pendukung. Individu dapat menjadi sumber pendanaan tapi Sangat terbatas karena penduduk tuna aksara terkonsentrasi di tengah-tengah masyarakat dan kawasan miskin dan marjinal dengan kemampuan ekonomi lemah. Mitra pembangunan kadang kadang memberikan kontribusi berupa komponen dukungan kecil. namun mereka dapat menjadi penting di beberapa negara, misalnya Sinegal lebih dari 90% dari anggaran keaksaraan orang dewasa didanai dari sumber eksternal. Sebagian besar negara berkembang mengakui pentingnya melanjutkan program besar keaksaraan orang dewasa dan berkomitmen untuk melakukan upaya khusus untuk mengentaskan ketunaaksaraan pada satu decade mendatang. Akan tetapi, pelaksanaan pendidikan dasar orang dewasa memiliki sejarah panjang dan mengecewakan. Pada tahun 1960-1970an pandangan konvensional menganggap pendidikan nonformal sebagai alternatif yang murah dan cepat untuk mendidik seluruh penduduk. Banyak negara melakukan kampanye pengentasan ketunaaksaraan di masa itu, waktu ketika banyak pemikiran di berikan kepada teori dan praktik keaksaraan. Tapi program-program awal yang ditawarkan bersifat milik pemerintah, top-down dan singkat tanpa tindak lanjut nyata dan hanya memberaksarakan sedikit orang. Sedikit peserta didik mendaftar, dan 50 persen diantaranya putus di tengah jalan. Dari mereka meneruskan pembelajaran, sekirar 50 persen lulus ujian keaksaraan, dan dari sekitar 50 persen itu, setengahnya diperkirakan menjadi tuna aksara kembali. Secara keseluruhan, banyak kampanye tahun 1970-an memiliki tingkat efisiensi sekitar 12.5 persen (orang-orang yang belajar memmbaca secara berkelanjutan), dengan beberapa peserta memperoleh keterampilan keaksaraan yang stabil. Keridakefekrifan program keaksaraan disebabkan oleh kepentingan lembaga pembangunan dalam kendaraan pendidikan. Berdasarkan pengalaman awal tersebut, strategi baru dikembangkan pada tahun 1990-an. Strategi ini adalah fokus pada permintaan dan komitmen kerimbang pasokan belaka, membatasi pengaturan manajemen pemerintah, dukungan, pengawasan. Cara koordinasi dan standar, penekanan pada kejasama dengan NGOs', kelompok masyarakat untuk menyelenggarakan kelas keaksaraan ("faire faire"), kemitraan Swasta-publik, menyediakan buku teks yang lebih baik dan lebih dapat dipahami serta memiliki iustruksi dalam bahasa daerah atau bahasa bahasa ibu karena ini terbukti paling efisien. Keberlanjutan dari dua proyek keaksaraan orang dewasa menunjukan kinerja yang sulit diukur. Sejauh mana program keaksaraan akan terus produktif sebagaimana diinginkan bahkan lebih tidak jelas lagi. Untuk memperoleh peserta didik yang banyak. lembaga yang didukung oleh sumber kelembagaan yang jelas untuk memperluas program keaksaraan sangat diperlukan, dan empat proyek keaksaraan yang dievaluasi pada tahun 1990-an menunjukkan fakta ini. Akan tetapi, biaya yang tinggi untuk pengembangan kelembagaan mungkin tidak dapat berkelanjutan dalam jangka panjang. terutama jika bantuan donor terbatas, Selain itu, kerergantungan pada NGOs' telah membuka berbagai kelemahan dalam penyelenggaraan program yang menciptakan keraguan mengenai sejauh mana sistem dapat memperluas program yang ada melalui peran dan eksistensi mereka. Alasan utama ketidakpastian ini adalah bahwa sistem pemantauan tidak berfungsi dengan baik dalam setiap proyek, dan tidak mungkin untuk mengumpulkan seluruh kuantitas atau kualitas dari data yang diperlukan. Meskipun semua proyek keaksaraan memiliki komponen pemantauan masing-masing, logistik yang dibutuhkan untuk pemantauan telah terbukti rumit tidak praktis. Jumlah staf yang diperlukan untuk mengawasi ribuan kelas yang tersebar di berbagai desa di suatu negara dapat menyaingi jumlah guru yang diperlukan dalam seluruh proyek tersebut. Banyak negara telah menolak keras sistem berat dan mahal ini, dan alternatif yang lebih baik hingga kini belum muncul. Di sisi lain, Bank Dunia hampir tidak memperhatikan efektivitas instruksional sama sekali. Tak satu pun dari dokumen yang diperiksa membahas metodologi. manajemen kelas, motivasi peserta didik, atau bagaimana meningkatkan hasil belajar. Sangat sedikit perhatian juga diberikan kepada struktur pelatihan guru dan kurikulum. Salah satu alasannya mungkin karena manajer yang bertugas merupakan ekonom atau spesialis lainnya, seperti arsitek, sedangkan konsultan teknis dipekerjakan untuk melaksanakan penilaian tidak menjaga kontinuitas proyek tersebut. Program keaksaraan orang dewasa yang dibiayai oleh donor lain, seperti halnya yang didanai oleh Bank Dunia, memiliki kelemahan data yang sangat penting. Misalnya. hanya 13 dari 27 evaluasi yang diperiksa melaporkan penguasaan keterampilan, dan mereka menggunakan metode yang berbeda untuk menilai pembelajaran peserta didik. Karena perbedaan kriteria pengujian, statistik ini tidak benar-benar sebanding, dan mereka mungkin tidak mewakili semua studi. Akan tetapi, ini adalah bukti yang tersedia. Secara keseluruhan, indikator keefekrifan jarang sekali ditemukan, dan kini semakin tidak jelas bagaimana banyak peserta didik mengikuti program dan berapa banyak dari mereka yang lulus beraksara. Temuan lain menunjukkan bahwa terdapat varian yang sangat besar, dengan tingkat kelulusan berkisar antara 5% sampai 88%, sangat sedikit sekali program yang melaporkan tingkat kehadiran, lembaga dan NGOs' penyelenggara pendidikan keaksaraan cenderung menjadi lemah dan mungkin tidak memiliki dokumentasi yang baik, dan sering sekali tidak memiliki catatan jelas mengenai mereka peserta didik mereka beserta kemajuan pembelajarannya. Program keaksaraan yang bersifat non formal menjadi salah satu penyebab terjadinya hal ini dan harus bertanggung jawab. Peserta didik diperbolehkan untuk bergabung secara flesibel, dan komposisi kelas bisa berubah secara substansial pada akhir program. Guru yang bertanggung jawab untuk memperhatikan keadaaan statistik mungkin memiliki pendidikan yang sangat rendah. Banyak penerima manfaat gagal untuk mengambil tes di akhir program padahal ada kemungkinan mereka bisa lulus tes tersebut. Dengan demikian, hasil statistik dapat meningkat. Program keaksaraan orang dewasa cenderung memperoleh minat yang sangat besar ketika pertama kali dibuka, tetapi sering mengalami tingkat kehadiran yang relatif rendah dan tidak teratur seiring dengan waktu dan tingkat penyelesaiannya rerkadang mengecewakan. Fenomena ini menunjukkan bahwa memang ada permintaan, namun isinya tidak sesuai kebutuhan beberapa beberapa peserta didik atau faktor lain yang menyebabkan yang menyebabkan intervensi untuk membatasi kehadiran. Berikut ini merupakan beberapa hasil dokumentasi dari program pada tahun 1990-an dalam aspek capaian keaksaraan dan manfaat sosial di beberapa negara: A.Indonesia Misalnya, pada tahun 1997, evaluasi program pendidikan nonformal selama tiga tahun yang dibiayai Bank Dunia melaporkan melewati kelulusan 17- 27%. Dalam hal capaian di lapangan, para lulusan yang melaporkan bahwa mereka bisa membaca pamflet pertanian sebelum program berjalan adalah sebanyak 6% dan setelah program berjalan 40%; para lulusan yang bisa membaca petunjuk obat meningkat dari 44% menjadi 75%. Kemajuan membaca dilaporkan sebagai terbatas setelah tahun pertama pembelajaran, tetapi mereka yang mendaftar pada tahun-tahun berikutnya melaporkan kemajuan dalam menulis dan berhitung. Hampir tidak ditemukan kekambuhan setelah akhir program pembeJajaran. Akan terapi, 62% peserta didik Indonesia pernah bersekolah (rata-rata 2,4 tahun), sehingga banyak dari mereka mungkin telah beraksara parsial. B. Kenya Di Kenya, 29% dari 291 sampel lulusan menunjukkan bahwa mereka mampu membaca dan memahami teks pendek tentang kehidupan sehari-hari mereka, sementara 51% bisa membaca dan memahami kalimat-kalimat sederhana, dan 20% berkinerja di bawah rata-rata; 73% bisa melakukan hitungan sederhana (1989). C. Mexico Institut Nasional Keaksaraan Orang Dewasa Meksiko melayani sekirar 1,1 juta orang dewasa pertahun, diantaranya hanya 28,63 persen dilaporkan berhasil belajar membaca melalui program yang diberikan (1998). Manfaat terbaik dari dokumentasi temuan negara-negara ini adalah meningkatnya minat peserta didik untuk mengirimkan anak anak mereka sendiri ke Sekolah, yang berarti mereka telah melihat nilai pendidikan. Sebuah perbandingan antara penduduk tuna aksara dan beraksara di Uganda menunjukkan bahwa penduduk beraksara dua kali lebih mungkin dari penduduk tuna aksara untuk membahas tugastugas sekolah anak-anak mereka di rumah. Sama halnya dengan penduduk perempuan Nepal yang beraksara yang menjadi lebih terlibat dalam pendidikan anak-anak mereka, dan anak-anak dari penduduk beraksara di Bangladesh lebih mungkin untuk pergi ke sekolah. Terdapat juga beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari dokumentasi negara-negara di atas sebagai berikut: I. Tingkat putus sekolah yang signifikan dan efisiensi instruksional dan efisiensi instruksional yang terbatas melemahkan capaian keterampilan keaksaraan peserta didik. Kecuali sebagian besar peserta didik dapat dibaca secara otomatis pada akhir program keaksaraan, mereka mungkin akan mengalami kekambuhan. Mengingat kondisi pembelajaran tidak efisien, tidak pasti berapa banyak peserta didik yang dapat menjadi pembaca otomatis. 2. Perhatian Pemerintah dan Donor terhadap isu-isu organisasi dan pembiayaan sangat penting, tapi tidak cukup untuk membantu peserta didik memperoleh keterampilan yang stabil. Perhatian terhadap Variabel pembelajaran dan penelitian ilmiah juga diperlukan. Tantangannya adalah bagaimana menemukan, membuat abstrak, mengoperasionalkan dan menyebarkan metode pembelajaran yang efektif untuk berbagai penyelenggara program di seluruh dunia, karena banyak diantaranya memiliki pendidikan yang terbatas. 3. Proyek keaksaraan orang dewasa yang berdiri sendiri lebih mungkin untuk diimplementasikan daripada penggabungan berbagai komponen keaksaraan yang terisolasi dalam berbagai proyek di berbagai sektor (misalnya, pembangunan pedesaan). Apabila keaksaraan bukanlah tujuan utama dari suatu proyek atau setidaknya bukan merupakan komponen yang signifikan, keaksaraan biasanya memperoleh pembiayaan, perhatian, atau tenaga ahli yang sangat sedikit dalam pelaksanaannya. Catatan buruk dari pelaksanaan komponen keaksaraan terisolasi menunjukkan bahwa tanpa sumber daya unruk pengawasan, hasilnya akan selalu tidak memuaskan. 4. Meskipun pembelajaran keaksaraan dianggap tidak memakan biaya yang mahal untuk setiap peserta didik, biaya untuk membuat lulusannya memiliki ringkat keaksaraan yang permanen sangatlah mahal, dan biaya manajemen cukup besar. Program paling murah tergantung pada korps guru sukarelawan, yang mungkin tidak stabil. Sebuah lingkaran setan dapat tercipta, di mana program murah tapi tidak efektif akan mengecewakan pengucur dana dan menghalangi pandanaan berikutnya yang mungkin saja dapat membuat program tersebut menjadi lebih efisien. Negara-negara yang memutuskan untuk terlibat dalam program keaksaraan orang dewasa perlu mempertimbangkan komitmen jangka panjang mereka dan harus menentukan sejauh mana mereka bersedia untuk mendanai program yang tidak hanya lebih efektif, tetapi juga lebih mahal. 5. Pelatihan pemerimah yang intensif dan pengawasan NGOs' merupakan faktor penting. Meskipun banyak NGOs' dapat melaksanakan program keaksaraan yang berkualitas, tapi banyak penyelenggara yang lain membutuhkan dukungan dan pemantauan yang lebil baik NGOs' dapat menjangkau penerima manfaat di daerah terpencil tertentu secara efektif, tetapi mereka tidak selalu tahu bagaimana mendidik orang dewasa dengan cara paling efekti£. *) Koordinator Pengembangan Sumber Daya Manusia untuk Indonesia Bank Dunia